Jakarta -
Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia nan dirilis S&P Global pada Mei 2026 tercatat sebesar 50,0 alias naik dibandingkan capaian bulan April 2026 nan berada pada level 49,1.
Menurut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), peningkatan tersebut menandakan kondisi operasional sektor manufaktur nasional kembali berada pada periode ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi ringan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kenaikan PMI manufaktur Indonesia menunjukkan daya tahan industri nasional di tengah beragam tantangan global, terutama gangguan rantai pasok dan ketidakpastian pasokan bahan baku impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencerminkan respons industri dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika dunia nan tetap berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan aktivitas produksi tetap melangkah dalam beberapa bulan ke depan," ujar Agus Gumiwang dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).
Menurut Agus, kenaikan PMI pada Mei perlu dilihat secara komprehensif. Salah satu aspek nan memicu perbaikan indeks tersebut adalah meningkatnya persediaan bahan baku nan dilakukan industri manufaktur sebagai langkah mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan dan kenaikan nilai bahan baku impor.
"Struktur impor Indonesia saat ini sekitar 70 persen merupakan bahan baku dan bahan penolong, sekitar 15 persen berupa peralatan modal seperti mesin dan peralatan, sedangkan sisanya merupakan peralatan konsumsi. Dengan adanya tantangan logistik dunia dan meningkatnya ketidakpastian akses bahan baku
impor, industri memilih memperbesar stok bahan baku untuk menjaga kesinambungan operasi," jelasnya.
Agus menambahkan andaikan sebelumnya industri rata-rata menyimpan persediaan bahan baku untuk kebutuhan sekitar tiga bulan, saat ini banyak perusahaan meningkatkan persediaan bahan bakunya hingga cukup untuk menopang operasi selama enam bulan ke depan.
Langkah tersebut dinilai krusial terutama bagi industri nan mempunyai karakter proses produksi berkepanjangan alias continuous process industry. Sebagai contoh, industri petrokimia kudu tetap beraksi pada kapabilitas minimal 50 hingga 60 persen agar akomodasi produksinya tidak perlu dihentikan sepenuhnya.
"Jika akomodasi produksi seperti petrokimia dihentikan total, waktu nan dibutuhkan untuk kembali mencapai kapabilitas normal bisa cukup lama, paling sedikit sekitar dua minggu. Kondisi serupa juga terjadi pada industri nan menggunakan furnace seperti industri keramik, kaca, dan pengolahan nikel. Oleh lantaran itu, menjaga kesiapan bahan baku menjadi sangat krusial," ungkapnya.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa peningkatan stok bahan baku tersebut juga dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan nilai bahan baku di masa mendatang. Pasalnya, industri tidak dapat secara langsung meningkatkan nilai jual produknya lantaran pengguna dan pasar memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian.
"Perusahaan manufaktur kudu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan produksi dan daya saing nilai produk. Ketika nilai bahan baku berpotensi meningkat, mereka memilih mengamankan pasokan terlebih dulu lantaran penyesuaian nilai jual ke pasar tidak bisa dilakukan secara instan," tuturnya.
Kemenperin juga mencermati bahwa capaian PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 sejalan dengan keahlian positif Indeks Kepercayaan Industri (IKI) nan pada periode nan sama mencapai 53,56, meningkat signifikan dibandingkan April 2026 sebesar 51,75. Kenaikan IKI tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap kondisi upaya dan prospek permintaan domestik nan terus membaik.
"Pergerakan PMI dan IKI nan sama-sama meningkat pada Mei 2026 menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur nasional tetap mempunyai resiliensi nan kuat. Industri tetap menjaga aktivitas produksinya sekaligus mengantisipasi beragam akibat nan berasal dari aspek eksternal," kata Agus.
Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 didukung oleh peningkatan permintaan baru nan tumbuh lebih sigap dibandingkan bulan sebelumnya, terutama dari pasar domestik. Sementara itu, tekanan biaya produksi dan gangguan pasokan bahan baku tetap menjadi
tantangan utama nan dihadapi sektor manufaktur.
Agus mengatakan Kemenperin bakal terus memperkuat koordinasi dengan para pelaku industri untuk memastikan kelancaran pasokan bahan baku, menjaga keberlangsungan produksi nasional, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia di tengah dinamika perekonomian global.
(prf/ega)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·