Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Gedung Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta di Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/9).
Gedung tersebut bakal menjadi markas PMI DKI sekaligus pusat pelayanan Unit Donor Darah (UDD) PMI Jakarta.
Pramono mengatakan pembangunan gedung PMI DKI dengan anggaran sekitar Rp 203,17 miliar untuk pembangunan gedung PMI, termasuk tambahan sekitar Rp 30 miliar.
“Termasuk pada hari ini, untuk pembangunan instansi PMI ini sepenuhnya dari Pemerintah DKI Jakarta kurang lebih Rp 203,17 miliar tambah 30 miliar, jadi Rp 233,17 miliar,” kata Pramono dalam sambutannya.
Sementara, Ketua PMI DKI Jakarta Beky Mardani mengatakan gedung baru tersebut dibangun melalui hibah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan nilai lebih dari Rp 200 miliar.
Gedung terdiri dari dua bagian, ialah Gedung A dan Gedung B dengan masing-masing lima dan 10 lantai. Sejumlah lantai digunakan untuk pelayanan donor darah dan laboratorium.
“Lantai tiga untuk pelayanan donor darah, lantai empat juga pelayanan donor darah, lantai lima aula, lantai enam dan lantai tujuh laboratorium. Lantai delapan instansi teman-teman dari Unit Donor Darah, dan pengurus berada di lantai 10,” kata Beky.
Menurut Beky, UDD PMI DKI setiap hari menyiapkan sekitar 1.000 hingga 1.200 kantong darah. Darah tersebut didistribusikan ke lebih dari 400 rumah sakit se-Jabodetabek serta sejumlah bank darah rumah sakit (BDRS) di Jakarta dan sekitarnya.
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK) mengatakan kebutuhan darah di DKI mencapai nyaris 500 ribu kantong per tahun. Sementara kebutuhan darah secara nasional mencapai sekitar 5 juta kantong setiap tahun.
JK menjelaskan, stok darah idealnya tersedia untuk memenuhi kebutuhan selama lima hari. Dengan kebutuhan sekitar 1.000 kantong per hari, menurut dia, stok minimum nan perlu tersedia di Jakarta sekitar 5.000 kantong.
“Rumusnya, stok darah itu kudu kebutuhan lima hari. Jadi jika DKI Jakarta tiap hari butuh 1.000 kantong, maka stok di sini minimum 5.000 agar jika terjadi apa-apa,” ujar JK.
Jakarta Jadi Penopang Kebutuhan Darah Daerah
JK mengatakan kebutuhan darah di Jakarta tidak hanya berasal dari penduduk ibu kota. Banyak pasien dari beragam wilayah datang ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Karena itu, PMI Jakarta juga berkedudukan sebagai penopang kebutuhan darah wilayah ketika terjadi musibah alias gangguan pelayanan transfusi darah di wilayah lain.
JK mencontohkan PMI pernah mengirimkan ratusan kantong darah ke sejumlah wilayah seperti Aceh dan Medan ketika terjadi musibah dan akomodasi pelayanan darah setempat mengalami kendala.
“Kalau ada musibah di luar, mungkin NTT kirim lagi. Jadi memang di sini pusat untuk nasional,” kata JK.
Sebelumnya, sempat muncul info mengenai stok darah PMI Jakarta nan berada dalam kondisi kritis. Beky mengatakan info tersebut terjadi lantaran laman PMI belum diperbarui.
Beky mengaku telah melakukan pengecekan langsung kepada Kepala UDD PMI DKI dan memastikan stok darah Jakarta dalam kondisi aman.
“Ternyata ada kesalahan sedikit di web-nya, itu belum di-update. Jadi tetap diisi kosong. Ternyata saya cek stok darah kita aman,” kata Beky.
PMI DKI Terapkan Pemeriksaan NAT untuk Deteksi Penyakit Menular
Beky mengatakan gedung baru PMI DKI juga diperkuat akomodasi laboratorium untuk meningkatkan keamanan darah nan didistribusikan kepada pasien.
Ia menyebut PMI DKI melakukan skrining penyakit menular dan menerapkan pemeriksaan Nucleic Acid Test (NAT) terhadap darah nan didonorkan. Pemeriksaan tersebut antara lain digunakan untuk mendeteksi penyakit seperti HIV dan hepatitis.
“Jakarta juga itu satu-satunya wilayah nan melakukan skrining terhadap penyakit menular. Kemudian kita 100 persen pemeriksaan NAT,” ujar Beky.
Menurut Beky, pemeriksaan tersebut didukung oleh Pemprov DKI melalui skema pembiayaan kesehatan. Laboratorium baru di gedung PMI DKI juga disebut dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan darah.
Pramono mengatakan penerapan NAT menjadi salah satu corak peningkatan jasa kesehatan di Jakarta.
“Jakarta adalah salah satu-satunya provinsi nan sudah bisa menerapkan NAT alias Nucleic Acid Test untuk penyakit-penyakit nan seperti hepatitis, HIV, dan sebagainya nan provinsi lain mungkin belum bisa melakukan,” kata Pramono.
Pramono menyebut akomodasi tersebut menjadi bagian dari upaya Jakarta meningkatkan jasa publik di bagian kesehatan.
Pramono Targetkan Jakarta Masuk 50 Besar Kota Global
Pramono menegaskan pembangunan Jakarta tidak seluruhnya mengandalkan APBD. Menurutnya, sejumlah proyek dibangun melalui kerja sama dengan mitra strategis dan kepercayaan bumi usaha.
“Jakarta membangun dirinya ada nan berasal dari pajak, ada nan berasal dari KLB, ada nan berasal dari SLF,” ujar Pramono.
Dia mencontohkan pedestrian deck Dukuh Atas nan disebut berbobot sekitar Rp 330 miliar dan Taman Semanggi sekitar Rp 135 miliar. Kedua proyek tersebut, kata Pramono, tidak menggunakan biaya APBD lantaran melibatkan strategic partner.
Pramono juga menyoroti perubahan tata kelola Koefisien Luas Bangunan (KLB). Ia mengatakan proses KLB sekarang dibuat lebih pasti dengan nomor nan jelas dan ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu 15 hari.
“Dulu nan menjadi persoalan orang jika mau ngurus nan namanya KLB, jika mau bangun gedung nan tinggi berapa nomor untuk diberikan, dibayarkan kepada Pemerintah DKI Jakarta itu uncertainty. Kalau sekarang, orang itu dengan kepastian, ada angkanya, selesai 15 hari,” ujarnya.
Menurut Pramono, kepastian tersebut merupakan bagian dari perubahan tata kelola untuk mempersempit ruang abu-abu dalam proses pembangunan di Jakarta.
Lebih lanjut dia mengatakan langkah tersebut berangkaian dengan sasaran Jakarta sebagai kota global. Pramono menyebut Jakarta saat ini berada di ranking 71 dari 156 kota dunia dan menargetkan masuk 50 besar pada 2029.
“Kalau memang kita punya benchmark sebagai kota global, benchmark-nya tidak lagi dengan kota-kota di dalam negeri, tapi kota-kota di dunia. Bahkan sekarang ini Jakarta menduduki ranking 71 dari 156 kota dunia dunia. Dan saya menargetkan mudah-mudahan 2029 kita bisa top 50 kota dunia dunia,” kata Pramono.
Sementara itu, JK mengapresiasi pembangunan gedung baru PMI DKI. Menurutnya, gedung tersebut merupakan hasil pembangunan nan dimulai sejak era Gubernur Anies Baswedan dan diresmikan pada era Pramono Anung.
“Jadi gedung ini dibangun oleh dua gubernur. Pak Anies groundbreaking, batu pertama, Pak Pramono gunting pita,” ujar JK.
JK mengatakan gedung tersebut bakal menjadi markas PMI DKI dan UDD nan dapat diakses untuk kebutuhan kemanusiaan.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·