Petani Pidie Mulai Tanam Gadu, Pupuk Bersubsidi Langka

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Petani Pidie Mulai Tanam Gadu, Pupuk Bersubsidi Langka Petani sedang beraktivitas di lahan sawah.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PERSOALAM klasik kembali menghantui para petani padi sawah di Provinsi Aceh. Di tengah upaya mengejar sasaran panen melimpah, para petani justru dihadapkan pada realita pahit berupa kelangkaan pupuk bersubsidi di pasaran.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di Kabupaten Pidie, pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK Phonska susah ditemukan. Di tingkat pengecer resmi maupun pemasok penyalur, stok pupuk nan sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan tanaman padi tersebut dilaporkan kosong.

Kondisi ini terjadi di beberapa wilayah nan saat ini tengah memasuki masa pertumbuhan tanaman, seperti Kecamatan Indrajaya, Delima, Peukan Baro, dan Mila. Para petani di area tersebut terpaksa mempercepat agenda tanam guna menyiasati kejadian alam El Nino, demi menghindari akibat kekeringan panjang serta serangan (benih)penyakit penyakit.

Targetnya, pada akhir Mei ini seluruh proses penanaman selesai dan memasuki fase pemupukan intensif. Namun, ketiadaan stok pupuk menjadi halangan besar.

"Saya sudah mencari ke pengecer resmi, tetapi pupuk Urea dan NPK Phonska bersubsidi tidak ada. Saat ditanyakan ke distributor, jawabannya sama, peralatan tidak tersedia. Ke mana petani kudu mengadu jika pupuk nan dijanjikan pemerintah saja tidak ada di lapangan dengan beragam alasan," keluh M. Nasir, tokoh pertanian di Kecamatan Peukan Baro, Sabtu (17/5).

Nasir menambahkan, petani sebenarnya sudah mulai menanam padi untuk musim gadu (musim tanam kedua) sejak dua pekan terakhir. Sangat disayangkan jika tanaman nan sedang dalam masa pertumbuhan ini kudu kandas dipupuk akibat krisis pasokan dari pemerintah.

Senada dengan Nasir, Tarmizi, seorang petani setempat, menyatakan kekhawatirannya. "Ini bisa menjadi awal musibah nan berakibat besar pada total produksi gabah kami nanti," tuturnya.

Ancaman Penurunan Produksi hingga 50 Persen

Menanggapi krisis ini, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto, menegaskan bahwa kesiapan pupuk adalah pilar utama dalam sistem pertanian sawah modern. Menurutnya, penggunaan bibit unggul tidak bakal memberikan hasil maksimal tanpa support pemupukan nan berimbang.

"Pemupukan nan tidak berimbang saja bisa menurunkan hasil produksi, apalagi jika terjadi krisis pupuk total. Hal itu berpotensi menurunkan hasil panen hingga 50%, apalagi terancam puso (gagal panen)," jelas Prof. Sugianto.

Peringatan Pakar: Krisis pupuk di tengah musim tanam gadu dapat memicu penurunan drastis ketahanan pangan lokal jika tidak segera ditangani oleh otoritas terkait.

Pakar pengetahuan tanah tersebut mendesak pemerintah untuk lebih serius merespons keluhan petani di lapangan. Baginya, pupuk bersubsidi adalah satu-satunya solusi bagi petani mini untuk menerapkan pola pemupukan berimbang di tengah mahalnya nilai pupuk nonsubsidi.

"Meskipun pupuk nonsubsidi tersedia di pasaran, harganya acapkali lipat lebih mahal. Petani tentu bakal sangat terbebani secara ekonomi jika dipaksa beranjak ke nonsubsidi," pungkas Prof. Sugianto.

Hingga buletin ini diturunkan, para petani di Kabupaten Pidie tetap menanti langkah konkret pemerintah untuk mendistribusikan kembali pasokan pupuk bersubsidi guna menyelamatkan musim tanam kali ini. (MR/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia