Petaka Sampah Plastik Laut: Pendapatan Nelayan Terkuras, Nyawa Jadi Taruhan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
 Pendapatan Nelayan Terkuras, Nyawa Jadi Taruhan Ilustrasi(Antara)

SELAMA ini, perkiraan kerugian akibat polusi plastik di laut bagi organisasi nelayan selalu dihitung dari kerusakan fisik: jaring nan robek, baling-baling kapal nan rusak, alias waktu nan terbuang untuk memilah sampah dari hasil tangkapan. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan adanya kerugian tersembunyi nan jauh lebih besar, ialah hilangnya waktu produktif untuk melaut.

Penelitian nan dipimpin intelektual kelautan Duc Nguyen dari Heriot-Watt University melakukan pendekatan langsung dengan mewawancarai nyaris 200 nelayan pantai di tiga wilayah muara sungai di Vietnam. Hasilnya mengejutkan, akumulasi sampah plastik di laut merugikan satu kapal hingga sekitar US$3.400 (sekitar Rp55 juta) per tahun.

Bagi para nelayan mini nan hidup dengan margin untung tipis, nomor tersebut sangat memukul perekonomian mereka. Kerugian ini menelan sekitar 12 persen dari pendapatan tahunan kapal, alias nyaris seperempat (25%) dari total pendapatan bersih nan bisa dibawa pulang oleh pemilik kapal.

Beban kerugian ini pun tidak tersebar merata. Di wilayah utara (Sungai Merah), sampah plastik memotong sekitar 10 persen pendapatan kapal. Sementara di Delta Mekong nan terletak di selatan, kerugiannya melonjak hingga nyaris 18%, nyaris dua kali lipat. Wilayah Delta Mekong menjadi salah satu muara sungai paling tercemar plastik di dunia, dengan tingkat kebocoran sampah tiga kali lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Nelayan di selatan juga menghadapi kondisi nan lebih susah dengan kapal tua, mesin kecil, dan hasil tangkapan nan lebih sedikit.

"Saya kudu menerimanya, apa lagi nan bisa saya lakukan?" ujar salah satu nelayan di wilayah tersebut, menggambarkan kepasrahan mereka.

Mengapa biayanya bisa membengkak sedemikian rupa? Lebih dari separuh kerugian finansial rupanya disebabkan oleh kapal nan terpaksa berakhir beraksi (idle). Jam-jam nan semestinya digunakan untuk menangkap ikan lenyap hanya untuk membersihkan sampah plastik nan tersangkut di jaring. Jika dulu nelayan hanya memerlukan 6 hingga 7 kali tebar jaring untuk memenuhi kuota harian, sekarang mereka kudu melakukannya hingga 20 sampai 25 kali.

Selain kerugian ekonomi, sampah laut berupa tali dan jaring nan hanyut juga membawa akibat keselamatan jiwa. Baling-baling kapal nan terlilit sampah memaksa nelayan menyelam untuk memotongnya. Hampir separuh dari nelayan nan diwawancarai mengaku kudu menghadapi masalah ini beberapa kali dalam setahun. Beberapa kejadian menyebabkan cedera tangan, kehilangan personil tubuh, apalagi dalam obrolan golongan terungkap adanya kasus nelayan nan tewas akibat mesin kapal tiba-tiba menyala saat mereka berupaya membebaskan baling-baling.

Sebagai solusi praktis, para nelayan mengusulkan program pembalian sampah. Sebagian besar dari mereka bersedia membawa kembali sampah plastik ke darat daripada membuangnya lagi ke laut, asalkan ada insentif nilai pembelian nan kecil, sekitar 7 sen per pon (setara nilai ikan rucah di pasar). Program terpusat nan menyasar titik-titik polusi terparah dinilai dapat menjadi langkah awal nan murah dan efektif untuk memutus rantai polusi ini. (EArth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia