Agenda bersepeda bulanan Jogja Last Friday Ride (JLFR) kembali digelar pada Jumat (31/7) malam ini.
Pada jenis ke-195, rombongan pesepeda dijadwalkan kembali melintasi area Malioboro setelah Pemerintah Kota Yogyakarta berbareng Polresta Yogyakarta memastikan aktivitas tersebut tetap dapat berjalan dengan pengaturan lampau lintas dan pengawalan petugas.
Menjelang pelaksanaannya, sejumlah organisasi nan beraktivitas di area Malioboro, mulai dari pedagang kaki lima (PKL), pengemudi becak motor (bentor), hingga kusir andong, menyampaikan dukungan.
Mereka mempersilakan peserta JLFR melintas, dengan angan aktivitas berjalan tertib dan tidak mengganggu aktivitas maupun pengguna jalan lainnya.
Ketua Paguyuban PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni), Slamet Santoso, menilai JLFR berpotensi menjadi daya tarik tambahan bagi visitor sekaligus ikut memeriahkan area Malioboro andaikan dilaksanakan dengan tertib.
“Harapannya ke depan monggo silakan tetap dilanjutkan. Mudah-mudahan bisa menjadi daya tarik visitor juga, memeriahkan area Malioboro. Tapi saya juga minta untuk semuanya bisa tertib, melangkah dengan lancar, menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya kepada Pandangan Jogja, Kamis (30/7/2026).
Slamet berambisi JLFR dapat terus digelar secara berkala dan berkembang menjadi salah satu atraksi wisata di Malioboro maupun ruas jalan nan dilalui rombongan pesepeda.
“Mudah-mudahan dapat menjadi suatu event secara berkala di sepanjang Malioboro alias rute-rute nan bakal dilewatinya. Jadi satu corak wisata nan baru,” katanya.
Dukungan serupa disampaikan Komandan Satgas sekaligus perwakilan Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY), Heru Santoso.
Menurutnya, organisasi bentor tidak mempermasalahkan peserta JLFR kembali melintas di Malioboro, selama rombongan menggunakan satu lajur agar arus lampau lintas tetap lancar.
“Kita sudah membahas sama teman-teman bentor. Kalau bisa pakai separuh jalan saja agar tidak terjadi kemacetan,” ujarnya.
Heru menegaskan jalan merupakan ruang berbareng nan dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat selama tetap mematuhi aturan.
“Biar saja senang-senang. Memang itu jalan untuk kita semua penduduk Indonesia nan pakai sah kok,” katanya.
Ia juga mengaku mendapat info bahwa kepolisian telah mengizinkan peserta JLFR melintasi Malioboro dengan syarat tetap tertib dan tidak berakhir di tengah jalan.
“Dari Polres sudah mengizinkan masuk Malioboro, asal ya teratur jangan sampai berhenti,” ucapnya.
Menurut Heru, personil bentor di sepanjang Malioboro juga siap membantu mengarahkan rombongan pesepeda agar tetap berada di satu lajur sesuai pengaturan lampau lintas.
“Kalau diarahkan di lajur kanan monggo. Nanti teman-teman bentor bakal saya sampaikan agar anak-anak itu diarahkan satu lajur. Kan ada dua lajur,” katanya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Jasa Andong Wisata DIY, Rahmat Riyanto, juga menyatakan tidak keberatan peserta JLFR melintasi Malioboro.
Namun, dia mengingatkan agar penyelenggaraan aktivitas ditata dengan baik demi keselamatan seluruh pengguna jalan, terutama andong nan beraksi di area tersebut.
Menurut Rahmat, peserta JLFR sebaiknya menghindari teriakan-teriakan lantaran dapat membikin kuda terkejut dan berpotensi membahayakan.
“Kami dari Koperasi Jasa Andong Wisata mengusulkan, sepeda nan masuk ke Malioboro pada Jumat terakhir itu boleh saja. Tapi ditata rapi agar lebih aman. Kekhawatiran kami jika ada nan teriak-teriak kelak kudanya takut,” ujarnya.
Ia berambisi seluruh pengguna jalan dapat saling menghormati lantaran Malioboro merupakan ruang publik sekaligus tempat masyarakat mencari nafkah.
“Yang krusial sama-sama saling pengertian dan menghormati pengguna jalan,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·