Benarkah Memijat Jari Bisa Menurunkan Darah Tinggi? Cek Faktanya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Benarkah Memijat Jari Bisa Menurunkan Darah Tinggi? Cek Faktanya Penelitian terbaru mengungkap efektivitas terapi genggam jari untuk menurunkan tekanan darah tinggi.(Dok. Magnific)

TEKANAN darah tinggi alias hipertensi tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan kronis nan paling banyak dihadapi masyarakat dunia maupun di Indonesia. Di tengah ketergantungan pada pengobatan medis, banyak orang mulai melirik terapi komplementer sebagai upaya tambahan.

Salah satu nan sedang terkenal adalah teknik genggam alias pijat jari. Namun, apakah metode ini betul-betul efektif secara ilmiah?

Sebuah penelitian terbaru memberikan angin segar bagi para penderita hipertensi. Teknik sederhana ini rupanya mempunyai landasan medis nan cukup kuat untuk membantu mengontrol tekanan darah, asalkan dipahami sebagai pendamping pengobatan utama, bukan pengganti obat-obatan dari dokter.

Bukti Ilmiah: Studi Jendela Nursing Journal

Efektivitas teknik ini dibahas dalam penelitian berjudul "The Effect of Finger-Hold Therapy to Reduce Blood Pressure in Hypertension Patients" nan dipublikasikan melalui Jendela Nursing Journal. Penelitian ini menggunakan metode quasi-experimental dengan melibatkan 60 pasien hipertensi sebagai subjek studi.

Dalam prosedur penelitian tersebut, para peserta diminta melakukan terapi genggam jari dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Durasi: 30 menit per sesi.
  • Frekuensi: Satu kali sehari.
  • Periode: Dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

Hasilnya cukup signifikan. Peneliti mencatat adanya penurunan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada golongan nan rutin melakukan terapi dibandingkan dengan golongan kontrol nan tidak melakukannya. Hal ini memperkuat posisi terapi genggam jari sebagai opsi non-farmakologis nan sah untuk membantu manajemen hipertensi.

Mekanisme Kerja: Relaksasi dan Sistem Saraf

Mengapa hanya dengan menggenggam alias memijat jari tekanan darah bisa turun? Kuncinya terletak pada respon relaksasi tubuh. Menurut para ahli, terapi ini bekerja dengan langkah menenangkan sistem saraf.

Bagaimana Tubuh Merespons:

Saat seseorang melakukan pijatan alias genggaman pada jari dengan tenang, aktivitas sistem saraf simpatik, nan bertanggung jawab atas respons stres "fight or flight", bakal menurun. Penurunan aktivitas ini memicu pembuluh darah untuk lebih rileks (vasodilatasi), sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan tekanan pada tembok arteri berkurang.

Efek relaksasi ini bakal semakin optimal jika dibarengi dengan pengaturan napas nan dalam dan teratur. Kombinasi antara stimulasi bentuk pada jari dan pernapasan nan tenang menciptakan kondisi homeostasis nan mendukung kestabilan tekanan darah.

Kelebihan dan Kekurangan Terapi Genggam Jari

Aspek Kelebihan (Pros) Kekurangan (Cons)
Biaya & Akses Gratis dan bisa dilakukan di mana saja tanpa alat. Membutuhkan disiplin waktu (minimal 30 menit).
Efek Samping Hampir tidak ada akibat pengaruh samping fisik. Hasil tidak instan seperti obat kimia.
Metode Membantu mengurangi stres secara keseluruhan. Tidak bisa menyembuhkan penyebab akar hipertensi kronis.

Penting: Bukan Pengganti Obat Medis

Meskipun penelitian menunjukkan hasil positif, sangat krusial bagi penderita hipertensi untuk tidak menghentikan konsumsi obat antihipertensi nan telah diresepkan oleh dokter. Terapi genggam jari dikategorikan sebagai terapi komplementer, nan berfaedah sifatnya adalah melengkapi pengobatan medis utama.

Untuk pengendalian tekanan darah nan optimal, pasien tetap diwajibkan menjalankan pola hidup sehat, antara lain:

  1. Membatasi asupan garam (natrium).
  2. Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
  3. Menjaga berat badan ideal.
  4. Melakukan pemantauan tekanan darah secara berkala secara berdikari alias di akomodasi kesehatan.

Dengan mengombinasikan kepatuhan medis dan teknik relaksasi seperti genggam jari, pasien hipertensi mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjaga kualitas hidup dan menghindari komplikasi serius seperti stroke alias penyakit jantung. (Jendela Nursing Journal/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia