Selain sejarah, Megawati juga membujuk kader belajar dari pengalaman bangsa lain. Hasto mengatakan Indonesia lahir dari dialektika sejarah bumi sehingga tidak boleh menutup diri dari pembelajaran negara lain.
“Kemudian nan lain, Ibu juga mengingatkan kita juga belajar dari bangsa-bangsa lain. Karena Indonesia itu lahir dari dialektika sejarah dunia,” katanya.
Megawati, lanjut Hasto, mencontohkan sejumlah negara seperti Tiongkok, Jerman dan Korea Selatan. Jerman disebut Bung Karno sebagai bangsa penemu.
“Maka Ibu menyebut kita kudu belajar gimana dari Tiongkok, dari Jerman—Jerman itu Bung Karno mengatakan bangsa penemu Korea Selatan, dan sebagainya,” ujarnya.
Di sisi lain, Megawati juga membujuk kader belajar dari militansi bangsa Iran dan Korea Utara. Menurut Hasto, sejumlah negara tersebut menunjukkan patriotisme dan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan global.
“Tapi kita juga belajar militansi dari bangsa Iran, dari Korea Utara, dan beragam corak negara nan menunjukkan patriotismenya, rasa percaya diri nan luar biasa dan rupanya bisa menghadapi beragam tantangan-tantangan global,” katanya.
“Itu misi nan dijalankan oleh Bu Mega,” sambung Hasto.
Menurut Hasto, pesan utama nan mau disampaikan Megawati adalah agar peringatan Proklamasi membangkitkan kesadaran bahwa Indonesia kudu menjadi contoh dalam memperjuangkan kedaulatan dan kewenangan rakyat.
“Agar Proklamasi itu membangkitkan suatu kesadaran kita bahwa Indonesia semestinya menjadi contoh di dalam perjuangan agar rakyat Indonesia bisa merdeka, bisa berdaulat, bisa bebas berbicara, berserikat, diperlakukan setara, norma harusnya berkeadilan,” kata Hasto.
Dia menyebut pesan tersebut sekaligus menjadi otokritik Megawati kepada kader PDIP agar ikut belajar dari perjalanan bangsa.
“Itulah otokritik nan tadi disampaikan oleh Bu Mega agar itu menjadi pembelajaran termasuk bagi seluruh personil dan kader PDI Perjuangan,” pungkasnya.
35 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·