Perundingan Damai Lebanon-Israel: Ancaman Konflik Sektarian yang Kembali Muncul

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock

Perundingan antara Lebanon dan Israel nan dimulai pada April 2026 membuka angan baru bagi stabilitas kawasan. Namun di saat nan sama justru memunculkan akibat serius terhadap stabilitas domestik Lebanon. Salah satu rumor paling krusial dalam perundingan tersebut adalah dorongan untuk melucuti senjata Hezbollah—sebuah tuntutan nan berpotensi memicu bentrok internal di negara nan sejak lama rentan secara politik dan sosial (Chatham House, 2026; Reuters, 2026).

Rangkaian perundingan nan berjalan di Washington D.C. nan dimulai pada 14 April 2026 menandai pertama kalinya Lebanon dan Israel kembali menjajaki hubungan langsung dalam beberapa dekade. Agenda utama mencakup stabilitas perbatasan, gencatan senjata, serta penguatan kedaulatan negara Lebanon atas wilayahnya sendiri di bagian selatan, termasuk pengendalian golongan bersenjata non-negara seperti Hezbollah.

Ilustrasi bendera Israel dan Lebanon. Foto: Generated by AI

Di sinilah persoalan muncul: Hezbollah bukan sekadar golongan militan, melainkan juga tokoh politik dan sosial nan mempunyai pedoman kuat di organisasi masyarakat Syiah Lebanon. Sejak didirikan pada 1982 akibat invasi Israel, golongan ini membangun kekuatan militer nan dalam banyak aspek dinilai lebih kuat dan lebih terorganisasi dibandingkan militer resmi Lebanon.

Dalam beragam konflik, termasuk perang dengan Israel, Hezbollah berkedudukan sebagai kekuatan utama nan mengisi kekosongan kapabilitas negara. Upaya untuk melucuti senjata Hezbollah dengan demikian tidak hanya menjadi rumor keamanan, tetapi juga menyentuh keseimbangan kekuasaan internal Lebanon.

Pemerintah Lebanon sendiri dalam beberapa kesempatan telah mencoba membatasi aktivitas militer Hezbollah, apalagi menyatakan operasi militernya sebagai tindakan nan terlarangan pada 2026. Namun, penerapan kebijakan tersebut sangat terbatas lantaran kekuatan politik dan militer Hezbollah nan tetap dominan.

Ilustrasi peta antara Israel dan Lebanon. Foto: Below the Sky/Shutterstock

Fragmentasi Sosial-Politik di Lebanon

Situasi ini diperparah oleh kondisi sosial-politik Lebanon nan sangat terfragmentasi. Negara ini mempunyai sistem politik berbasis sektarian nan membagi kekuasaan antara organisasi utama—Kristen Maronite, Sunni, dan Syiah.

Dalam struktur ini, Hezbollah tidak hanya menjadi representasi politik Syiah, tetapi juga simbol resistensi terhadap Israel bagi sebagian masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa tidak semua golongan di Lebanon mempunyai pandangan nan sama. Perundingan dengan Israel sendiri telah memicu perpecahan tajam di dalam negeri.

Sebagian pihak memandang diplomasi sebagai satu-satunya jalan keluar dari bentrok berkepanjangan, sementara nan lain—terutama pendukung Hezbollah—menolak negosiasi dan tetap mengandalkan pendekatan militer (Al Jazeera). Bahkan, Hezbollah secara terbuka menyebut perundingan tersebut sebagai “pengkhianatan nasional” nan berpotensi memperdalam perpecahan internal (Global Banking & Finance Review).

Kondisi ini mengingatkan pada periode sebelum perang kerabat Lebanon 1975–1990, ketika ketegangan sektarian dan rivalitas politik memuncak menjadi bentrok terbuka. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Lebanon mulai memandang “gema perang saudara” dalam situasi saat ini, terutama dengan meningkatnya polarisasi antara golongan pro-negara dan pro-Hezbollah (Reuters).

Di sisi lain, tekanan eksternal juga memperumit situasi. Israel secara terbuka menyatakan bahwa tujuan utama operasi militernya adalah melucuti Hezbollah melalui kombinasi tekanan militer dan diplomatik (Asraq Al-Awsat). Namun, strategi ini justru berisiko melemahkan negara Lebanon jika tidak diimbangi dengan penguatan lembaga nasional.

Konflik nan sedang berjalan juga memperburuk kondisi kemanusiaan. Hingga pertengahan April 2026, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas di Lebanon, dan lebih dari satu juta penduduk mengungsi akibat pertempuran antara Israel dan Hezbollah. Eskalasi ini memperlemah legitimasi negara dan memperbesar peran tokoh non-negara dalam mengisi kekosongan kekuasaan.

Bentang alam di wilayah Marjaayoun, Lebanon bagian selatan. Foto: Ahmad Bader/Unsplash

Kemungkinan Konflik Sipil Baru di Lebanon

Dalam konteks ini, skenario terburuk nan mulai dibicarakan oleh para analis adalah kemungkinan terjadinya bentrok sipil baru di Lebanon. Jika pemerintah mencoba melucuti Hezbollah secara paksa, potensi bentrok antara milisi Syiah dan golongan lain—baik dari organisasi Sunni maupun Kristen—akan meningkat secara signifikan.

Namun, apalagi tanpa tindakan militer langsung, polarisasi politik nan semakin tajam sudah cukup untuk menciptakan instabilitas jangka panjang. Ketidakpercayaan antarkelompok—ditambah dengan krisis ekonomi nan belum terselesaikan—menciptakan kondisi nan rentan terhadap bentrok horizontal.

Namun demikian, juga terdapat skenario nan lebih optimis. Jika perundingan sukses menghasilkan kesepakatan bertahap—misalnya melalui integrasi sebagian kekuatan Hezbollah ke dalam struktur militer negara—risiko bentrok sipil dapat ditekan. Namun, skenario ini memerlukan kompromi besar dari semua pihak, apalagi termasuk Iran sebagai pendukung utama Hezbollah.

Perundingan Lebanon–Israel tidak hanya soal hubungan bilateral, tetapi juga menyentuh inti dari struktur politik Lebanon itu sendiri. Pelucutan Hezbollah mungkin menjadi kunci stabilitas jangka panjang di tingkat regional, tetapi tanpa pengelolaan nan hati-hati, langkah tersebut justru berpotensi memicu bentrok internal nan lebih besar.

Masa depan Lebanon saat ini dapat berujung pada dua kemungkinan: antara kesempatan rekonsiliasi melalui diplomasi, alias kembali terjerumus ke dalam bentrok sipil nan pernah menghancurkan negara tersebut selama lebih dari satu dekade.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan