Perubahan Sikap Anak Korban Daycare Little Aresha: Pukul Mulut-Kepala Sendiri

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sejumlah anak korban kekerasan dan penelantaran Daycare Little Aresha mengalami perubahan perilaku. Hal itu disampaikan oleh 10 orang tua nan dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus Daycare Little Aresha di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8).

Denta Erma, salah satu orang tua mengatakan anaknya masuk daycare tersebut saat usia 4 bulan. Ketika penyergapan usianya sudah 20 bulan.

Denta tahu soal daycare ini berasas info dari seorang teman. Dia tertarik ke Little Aresha lantaran janji akomodasi nan komplit dan jam penjemputan nan fleksibel.

Sebelum penggerebekan, Denta mengaku sudah memandang perubahan perilaku sang anak.

"Cara dia mengeluarkan emosi 2 minggu sebelum penggerebekan. Dia memukul mulut dan kepalanya sendiri," kata Denta.

Hal serupa, juga dialami anak dari Imedia Dwi, anaknya nan mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) ringan mengalami perubahan jadi lebih agresif.

"Memukul, mencubit, dan lebih agresif. Misal di lepas di ruangan terbuka bakal lari muter terus. Memukul mencubit jika setelah saya amati setelah penyergapan suka main ikat-ikat kaki, ikat tanggannya. Mainan, dinonya (dinosaurus) diikat," katanya.

Selain itu, Imedia mengatakan dalam sebulan pasti anaknya mengalami lebam hingga luka goresan. Selain itu pernah juga pelipisnya benjol.

"Di pelipis benjol gede terus tengahnya ada robekan itu alasannya (daycare) lari-lari kesandung terus kepentok lego," katanya.

Orang tua lain, Yeni Astri Widiastuti, mengatakan anaknya mengalami keterlambatan perkembangan seperti terlambat berjalan.

"Masuk kategori lambat jalan. Di hari pertama masuk sudah ada benjolan di belakang kepala. Sebelumnya tidak ada. Saya konfirmasi juga dari sekolah infonya tidak terjadi apa pun," kata Yeni.

Ayunanda, orang tua lainnya mengatakan anaknya mengalami perubahan perilaku ialah doyan membenturkan kepalanya.

"Anak kami masuk di usia 16 bulan. Perilaku sama sekitar 1 bulan sebelum penyergapan ada condong memukul kepala dan membenturkan kepala. Dalam pikiran kami dulu adalah fase," katanya.

Selain itu ketika selimutan ada kecenderungan anaknya mau seperti membedong dirinya.

"Anak ini susah dipakain baju. Dia senang banget lari tidak pakai apa-apa terus tiduran tidak apa-apa Terus dipakaiain baju susah. Itu nyaris dua bulan setelah di sana," katanya.

Nidya Himayanti mengatakan anaknya awal masuk kepribadian tidak mudah rewel.

"Awal masuk ketika marah itu matanya melotot lampau menggerakkan rahang saya pikir itu menirukan temannya," katanya.

"Tiga bulan sebelum penyergapan dia menjadi anak nan mudah sekali rewel, mudah marah, tidak mau makan. Kalau diminta mandi menangis meraung-raung. Kalau ada pintu tertutup menangis langsung gedor-gedor pintu," ujarnya.

Zly Wahyuni mengatakan, anaknya juga mengalami sejumlah perubahan sikap seperti doyan melilitkan tali ke leher. Mulai dari tali tas milik Zly hingga kabel charger.

"Paling berat pukul kepala ke lantai," kata Zly.

Anak dari Fitriani Eka juga mengalami perihal nan serupa. Ketika keinginannya tidak dituruti, anak bakal memukul orang tuanya.

"Ada juga perilaku nan memukul mulut saya dan mengucap bandel ketika ditegur. Ada perilaku lagi nan muncul setelah dimandikan susah sekali untuk diberikan baju," katanya.

Sidang kasus daycare ini bakal dilanjutkan pada Senin mendatang. Agenda minggu depan, jaksa penuntut umum bakal kembali menghadirkan saksi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan