Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Dirilis Pagi Ini, Begini Proyeksi Ekonom

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Suasana proyek pembangunan Jalan Tol Harbour Road II Ancol Timur-Pluit di Ancol, Jakarta, Selasa (29/7/2025). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Kinerja ekonomi Indonesia pada awal 2026 diperkirakan tetap kuat, dengan laju pertumbuhan nan berkesempatan melampaui 5 persen. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan rilis pada hari ini, Selasa (5/4). Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memandang ada percepatan aktivitas ekonomi dibandingkan periode sebelumnya. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 bisa berada di kisaran 5,44 persen secara tahunan. “Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026, saya memperkirakan ekonomi tetap tumbuh di atas 5 persen, apalagi berpotensi mencapai sekitar 5,44 persen secara tahunan,” kata Josua kepada kumparan. Menurut Josua, lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fi33tri menjadi penopang utama. Peningkatan shopping masyarakat terjadi di beragam sektor, mulai dari makanan dan minuman, pakaian, hingga transportasi dan akomodasi. Hal ini juga diperkuat oleh membaiknya parameter seperti indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel. Selain konsumsi, peran shopping pemerintah dan investasi turut menopang pertumbuhan. Pemerintah mulai mempercepat realisasi shopping sosial dan proyek prasarana setelah sempat tertekan pada periode nan sama tahun lalu. Di sisi lain, investasi mendapat dorongan dari proyek hilirisasi, pembangunan infrastruktur, serta shopping modal BUMN. Meski begitu, dia mengingatkan adanya tekanan dari pelemahan rupiah nan berpotensi meningkatkan biaya impor peralatan modal sekaligus menahan arus investasi asing. Sementara itu, Ekonom LPEM UI Teuku Riefky memperkirakan pertumbuhan sedikit lebih tinggi, ialah 5,48 persen secara tahunan, dengan rentang 5,46–5,50 persen. Untuk keseluruhan 2026, dia memproyeksikan ekonomi tumbuh di level 5,15 persen.

Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Ia menilai tren positif dari akhir 2025 tetap berlanjut. Pada kuartal IV 2025, ekonomi tercatat tumbuh 5,39 persen, ditopang permintaan musiman akhir tahun serta beragam stimulus pemerintah seperti potongan nilai transportasi, support tunai, dan subsidi angsuran UMKM. Riefky menambahkan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB. Dari sisi produksi, sektor manufaktur tetap menjadi motor utama. Namun, tekanan inflasi sempat meningkat di awal tahun sebelum kembali mereda. Surplus perdagangan juga tetap berlanjut, meski menyusut tajam akibat pertumbuhan impor nan melampaui ekspor. Pandangan senada disampaikan Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Ia memperkirakan pertumbuhan kuartal I berada di kisaran 5,4–5,5 persen, didorong aspek musiman sepanjang awal tahun. “Kuartal I ini, saya percaya ekonomi bakal tumbuh sekitar 5,4-5,5 persen. Sebab utama adalah aspek seasonal, di mana Nataru, Imlek dan Lebaran terjadi secara berdekatan,” ujarnya. Kendati awal tahun terlihat solid, Wijayanto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 condong melambat di kisaran 4,8–5,0 persen. Hal ini dipengaruhi daya beli nan belum sepenuhnya pulih, kenaikan nilai energi, serta pelemahan rupiah nan memicu imported inflation. Ia juga mengingatkan potensi akibat eksternal, seperti gangguan rantai pasok dunia dan ancaman El Nino. Jika terjadi dengan intensitas tinggi, kondisi tersebut bisa menekan pertumbuhan hingga kisaran 4,7–4,9 persen.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan