Gubernur BI Perry Warjiyo (kanan)(MI/Naufal Zuhdi)
BANK Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berbagai instrumen kebijakan moneter dan pendalaman pasar finansial terus diperkuat guna memitigasi akibat gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan bank sentral telah menjalankan tujuh langkah utama untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.
Menurut dia, langkah pertama dilakukan melalui intervensi di pasar kurs asing dalam skala besar. Langkah kedua adalah respons kebijakan suku bunga, baik melalui kenaikan BI Rate maupun penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.
“Respons suku bunga, baik BI Rate maupun SRBI, dilakukan untuk menarik kembali investasi portofolio dan hasilnya sejauh ini positif,” katanya pada aktivitas Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI nan digelar secara daring, Kamis (18/6).
Selain itu, BI terus menjaga kecukupan persediaan devisa serta memastikan likuiditas di pasar duit dan pasar kurs asing tetap memadai. Upaya tersebut dilakukan dengan menjaga pertumbuhan duit primer tetap berada pada level dua digit.
Bank sentral juga mempercepat pendalaman pasar finansial melalui pengembangan instrumen dan pelaku pasar agar semakin atraktif. Salah satu fokusnya adalah penguatan pasar duit domestik dan transaksi kurs asing berbasis mata duit lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Di sisi kerja sama internasional, BI memperluas kerjasama dengan beragam bank sentral melalui skema LCT, Bilateral Swap Arrangement (BSA), hingga kerja sama sistem pembayaran lintas negara. Langkah terakhir adalah memperkuat pengawasan terhadap sektor perbankan dan korporasi.
Perry menilai sinergi nan semakin erat antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah telah memberikan hasil positif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. “Nilai tukar rupiah telah menguat dan kami percaya ke depan bakal semakin kuat,” tegas dia.
Menurut dia, penguatan rupiah didukung oleh respons kebijakan BI nan konsisten, koordinasi nan kuat dengan pemerintah, serta mulai meredanya sebagian tekanan dunia meskipun ketidakpastian tetap tinggi.
Dalam RDG kali ini, BI kembali meningkatkan BI Rate sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,75%. Kebijakan tersebut diikuti penyesuaian struktur imbal hasil SRBI pada beragam tenor serta pemberian insentif swap bagi penanammodal asing sebesar 10%.
“Ini dalam rangka memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Kami percaya langkah-langkah nan terus kami lakukan di bangsa siliki nan erat dengan kebijakan fiskal pemerintah, percaya bahwa aliran modal asing bakal terus masuk, rupiah bakal semakin stabil dan menguat dan ke depan,” terangnya.
BI optimistis kombinasi kebijakan moneter nan terukur dan sinergi erat dengan pemerintah bakal menjaga arus masuk modal asing serta mendorong penguatan rupiah nan lebih berkelanjutan.
Selain menjaga stabilitas domestik, BI juga terus memperkuat kerja sama internasional. Salah satu nan terbaru adalah penguatan kerja sama bank sentral Indonesia dan Tiongkok dalam penggunaan mata duit lokal untuk transaksi perdagangan dan investasi.
Perry mengungkapkan nilai transaksi Local Currency Transaction antara Indonesia dan Tiongkok terus meningkat signifikan. Pada tahun lalu, total transaksi mencapai US$18 miliar. Sementara dalam empat bulan pertama tahun ini nilainya telah mencapai US$13 miliar.
Dengan meningkatnya penggunaan rupiah dan renminbi dalam penyelesaian transaksi perdagangan maupun investasi, kebutuhan penggunaan dolar AS dapat dikurangi sehingga memperkuat diversifikasi sistem pembayaran dan transaksi internasional. (Fal/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·