Perjuangan Haidir 13 Tahun Jualan Sate dari Trotoar ke Ruko di Mayestik

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Aroma daging ayam dan kambing unik Madura menusuk, amis gurih sedap di hidung, ketika angin berdesir dari salah satu ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menggoda siapa saja nan melintas di area Mayestik.

Sore itu, Mochamad Haidir (30), pedagang satai, memang tampak sibuk mengibaskan kipas bambu menjaga arang agar tetap menyala. Ketekunannya telah membuahkan hasil. Usaha mini nan dijalaninya dengan konsisten sekarang bisa naik kelas.

Tak banyak nan tahu, Haidir memulai usahanya sejak 2013. Kala itu, dia tetap mengandalkan gerobak satai keliling nan berdagang di atas trotoar. Manis pahit jalanan dia rasakan, mulai dari dikejar Satpol PP hingga diusir sesama pedagang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu saya buka awal-awal di sini, banyak nan usir. (Pedagang) nan dari Pasar Mayestik aja nyamperin ke sini. Sesama tukang sate itu jarang akur," kenangnya saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Namun Haidir memilih tetap bertahan. Dia sadar letak Mayestik nan dikelilingi area perkantoran nan ramai sangat potensial untuk menjalani usaha. Terlebih, dia sudah lebih dulu berada di lapak itu.

Tantangan Usaha

Perlahan tapi pasti, perjalanan upaya Haidir mulai naik, pengguna silih berdatangan, dan nama Sate Ayam Barokah Mayestik nan dia pakai mulai dikenal. Namun, ujian datang saat Pandemi COVID-19 melanda enam tahun lalu.

"Satu-satunya nan bikin jualan sunyi itu waktu COVID. Itu betul-betul bikin saya stres, sampai pernah saya tawarin lapaknya ke orang. Saya bilang, saya mau udahan, bayarin aja," ungkapnya.

Saat itu, lapaknya sempat ditawar Rp 50 juta, jauh dari nilai nan dia minta sebesar RP 150 juta. Beruntung transaksi itu batal, kata Haidir, jika tidak dia kehilangan kesempatan upaya nan lebih besar.

Titik kembali upaya Haidir terjadi di akhir 2025. Sebuah ruko kosong tepat di depan lapaknya berdagang selama ini mendadak ditawarkan untuk disewa. Tak mau momentum itu hilang, Haidir memutuskan untuk pindah ke ruko nan lebih strategis.

Perjuangan Haidir 13 Tahun Jualan Sate dari Trotoar ke Ruko di MayestikFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Mengakses Permodalan

Langkah berani itu pun tidak datang tanpa tantangan. Biaya sewa nan tinggi membuatnya kudu memutar otak untuk mencari tambahan modal. Ia kemudian mengakses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

"Kemarin kebetulan untuk biaya sewanya ngambil ke BRI. Saya ambil Rp 200 juta untuk sewa ruko setahun dan lain-lain. Karena (usaha) saya sudah punya nama dan langganan, jadi saya beraniin sewa ke dalam meski risikonya gede," jelas Haidir.

Menurut Haidir, prosesnya terbilang sigap dan mudah. Sebab, Kantor BRI Unit Mayestik tempatnya mengusulkan KUR berada disamping rukonya. Hal ini membikin hubungan dengan pegawai bank, terjalin sangat dekat lantaran kerap menjadi pengguna setianya.

"Prosesnya sigap ya. Apalagi BRI-nya di samping, jadi saya dekat. Mantrinya juga sering makan di sini, jadi saya sering cerita jika butuh biaya untuk pengembangan usaha," tambahnya.

Omzet Meningkat

Bak gayung bersambut, keputusan Haidir pindah jualan dari trotoar ke ruko itu membawa perubahan nan signifikan. Terutama pada volume penjualan nan melonjak drastis.

Jika sebelumnya Haidir hanya bisa menjual sekitar 500 tusuk satai per hari, sekarang jumlahnya melonjak 4 kali lipat sampai 2.000 tusuk sehari. Omzetnya juga naik.

"Omzetnya tuh masuk ke Rp 8 juta sehari. Paling sepi-sepinya tuh di Rp 5 juta," ungkapnya.

Peningkatan upaya ini juga berakibat positif untuk masyarakat sekitar. Ia turut membuka lapangan pekerjaan, sesuatu nan tak pernah terbayangkan olehnya saat tetap melayani pembeli sendirian di trotoar jalan.

"Dulu pas jualan di trotoar saya kerja sendiri, saking ramainya sampai pembeli saya suruh kipas sate sendiri. Sekarang alhamdulillah sudah ada tiga tenaga kerja nan bantu," ungkapnya.

Perjuangan Haidir 13 Tahun Jualan Sate dari Trotoar ke Ruko di MayestikFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Memanfaatkan QRIS BRI

Selain akses permodalan, Haidir juga sekarang mulai mengangkat jasa QRIS BRI untuk mempermudah transaksi pelanggannya. Sebab, kebanyakan pelanggannya sekarang sudah beranjak menggunakan pembayaran digital seperti QRIS.

Metode non-tunai ini membantu operasional upaya Haidir, terutama saat pesanan sedang membludak. Ia juga bisa mempunyai pencatatan finansial nan lebih rapi, akurat, dan transparan dibandingkan transaksi secara manual.

"Kalau kemarin saya konsentrasi di QRIS BRI itu sebulannya bisa sampai Rp 80 juta," ungkapnya.

Rekam jejak transaksi nan tercatat secara otomatis itu diharapkan Haidir bisa menjadi tiket baginya untuk mempermudah proses pengajuan tambahan modal (top-up) di masa mendatang.

Rencana Buka Cabang Baru

Oleh lantaran itu, Haidir tak mau berpuas diri. Dengan menu makanan nan kian bervariasi, mulai dari sate, soto, hingga sop iga, dia mulai berencana untuk membuka bagian baru. Ia berambisi BRI dapat mendukungnya melalui penambahan plafon KUR.

"Kalau bisa pengajuan (top-up) ditambahin buat buka bagian baru di pinggir-pinggir jalan. Karena pinjaman kemarin itu lenyap untuk sewa ruko ini saja," ungkapnya.

Haidir memproyeksikan kebutuhan modal sekitar Rp 400 juta sampa Rp 500 juta untuk membuka lebih banyak titik penjualan. Baginya, momentum saat ini sangat tepat lantaran merek dagangnya Sate Ayam Barokah Mayestik sudah mempunyai nama dan kepercayaan di mata pelanggan.

"Kan jika sudah punya nama, buka bagian itu mudah dapat pelanggannya ya. Beda jika orang baru mulai jualan langsung buka baru, itu susahnya," tambahnya optimistis.

Kata Pelanggan Setia

Kesetiaan pengguna nan telah terjaga bertahun-tahun itu memang jadi modal kuat bagi Haidir untuk ekspansi. Salah satunya Agung (27), pegawai swasta, mengaku telah menjadi penikmat satai racikan Haidir sejak jualan di trotoar.

"Saya sudah langganan dari tetap di trotoar di depan. Sering makan di sini, lantaran ramuan kacangnya beda, lebih manis dan gurih," katanya.

Agung menceritakan Haidir kerap memberikan bingkisan lontong ke pembeli nan memesan dalam jumlah banyak. Jadi nama 'Barokah' nan dipakai Haidir itu betul-betul dirasakannya.

"Dulu Mas Haidir sering kasih bingkisan lontong jika kita beli banyak, itu nan bikin kita merasa dihargai sebagai langganan. Jadi namanya 'Barokah' itu betul-betul terasa ke pembeli," tambahnya.

Agung menyebut perpindahan Sate Ayam Barokah Mayestik ke ruko membikin suasana jadi lebih baik. Pelanggan jadi lebih nyaman jika makan siang alias makan malam sepulang kerja di tempat.

UMKM Pilar Ekonomi

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk) (BRI) terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berkedudukan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.

Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran angsuran nan menunjukkan percepatan nan solid.

Hingga kuartal I-2026, total angsuran BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan konsentrasi BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan.

"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI," jelas Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantot Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance