Hampir seabad lalu, Hamidah menulis novel Kehilangan Mestika, sebuah kisah nan merekam pergulatan jiwa wanita di tengah kuatnya tekanan budaya dan norma sosial. Menariknya, jika hari ini kita menutup novel tersebut lampau membuka media sosial, kita tetap menemukan kegelisahan nan serupa. Banyak wanita modern hidup di antara tuntutan untuk menjadi anak nan berbakti, pasangan nan ideal, alias pekerja nan sukses, sekaligus kemauan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Tokoh Hamidah dalam Kehilangan Mestika bukan sekadar karakter fiksi. Ia merepresentasikan kemauan seorang wanita untuk memperoleh kebebasan atas hidupnya sendiri. Jika dibaca melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud, dalam diri Hamidah bergolak apa nan disebut sebagai Id, ialah dorongan naluriah nan menginginkan pemenuhan gairah secara langsung. Bagi Hamidah, gairah tersebut bukanlah sesuatu nan melanggar norma, melainkan kewenangan paling dasar sebagai manusia ialah memperoleh pendidikan, menentukan pilihan hidup, dan mencintai tanpa paksaan.
Namun, kemauan tersebut segera berhadapan dengan kekuatan lain nan dalam teori Freud disebut Superego. Dalam kehidupan Hamidah, Superego datang dalam corak adat, norma sosial, serta angan family nan mengatur gimana seorang wanita semestinya bersikap. Perempuan nan baik dianggap patuh, menjaga nama keluarga, dan menerima keputusan nan telah ditentukan oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, ruang untuk menentukan nasib sendiri menjadi semakin sempit.
Di tengah tarik-menarik dua kekuatan itu, Ego berkedudukan sebagai penengah. Ego berupaya mencari jalan agar Hamidah tetap dapat hidup dalam masyarakat tanpa sepenuhnya mengubur kemauan pribadinya. Akan tetapi, negosiasi tersebut bukanlah proses nan mudah. Setiap keputusan nan diambil menuntut pengorbanan, baik terhadap mimpi nan mau diraih maupun terhadap tuntutan sosial nan kudu dipenuhi.
Ketika Ego tidak lagi bisa menyeimbangkan tumbukan antara Id dan Superego, muncul kecemasan. Dalam kasus Hamidah, kekhawatiran itu tidak berakhir sebagai beban psikologis semata, tetapi juga memengaruhi kondisi bentuk dan kesejahteraan hidupnya. Ia mengalami tekanan jiwa nan berkepanjangan lantaran kudu terus-menerus menekan kemauan nan sebenarnya mau diwujudkan.
Dampak tekanan psikologis tersebut tergambar dalam kondisi Hamidah nan semakin menarik diri dari lingkungan sekitarnya, sebagaimana tampak dalam quote berikut:
“Hai Dah, kenapa engkau mengurung dirimu di dalam bilikmu? Keluarlah! Cahaya di luar banget terang, udaranya menyegarkan. Tak sukakah engkau kepada sinar bulan? Tak inginkah engkau bakal hawa nan menyehatkan,?” (Hamidah, hlm. 79).
Melalui quote tersebut, pembaca dapat memandang gimana penderitaan jiwa Hamidah perlahan memengaruhi kehidupannya sehari-hari. Ia tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan bumi di sekelilingnya.
Untuk mempertahankan kesehatan jiwanya, Hamidah secara tidak sadar melakukan apa nan dalam psikoanalisis Freud disebut sebagai sistem pertahanan diri. Salah satunya adalah represi, ialah menekan rasa kecewa, marah, dan frustrasi ke alam bawah sadar. Akan tetapi, emosi nan ditekan tidak betul-betul hilang. Emosi itu tetap datang dan membentuk penderitaan nan terus membayangi kehidupannya.
Meski demikian, Hamidah tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Dalam istilah Freud, dia melakukan sublimasi, ialah mengubah penderitaan pribadi menjadi aktivitas nan berbobot sosial. Energi negatif nan berasal dari kegagalan dan keterbatasan hidup tidak dilampiaskan dalam corak destruktif, melainkan dialihkan menjadi aktivitas mengajar dan menulis.
Melalui pendidikan dan tulisan, Hamidah berupaya merebut kembali ruang kebebasan nan tidak dia peroleh dalam kehidupan pribadinya. Ia mengubah pengalaman pahit menjadi sarana refleksi dan perlawanan. Dengan kata lain, luka nan dialaminya tidak berakhir sebagai penderitaan individual, tetapi berkembang menjadi kritik terhadap struktur sosial nan membatasi perempuan.
Di sinilah letak kekuatan Kehilangan Mestika. Novel ini bukan sekadar kisah cinta nan berhujung tragis alias roman nan mengandalkan kesedihan sebagai daya tarik utama. Lebih dari itu, karya Hamidah merupakan gugatan terhadap sistem sosial nan membatasi pilihan hidup perempuan. Melalui cerita nan tampak sederhana, Hamidah memperlihatkan gimana budaya dan norma dapat menjadi sumber tekanan psikologis ketika digunakan untuk mengendalikan kehidupan seseorang.
Sadar alias tidak, membaca Kehilangan Mestika hari ini membawa kita pada realita bahwa sebagian persoalan nan dihadapi Hamidah belum sepenuhnya hilang. Bentuknya mungkin berubah, tetapi tekanannya tetap ada. Jika dulu wanita berhadapan dengan budaya pingitan dan perjodohan, sekarang banyak wanita menghadapi tuntutan untuk sukses dalam pendidikan, karier, keluarga, dan kehidupan sosial secara bersamaan. Dalam banyak kasus, tuntutan tersebut melahirkan kelelahan emosional, kecemasan, apalagi krisis identitas.
Melalui kacamata Freud, novel ini menunjukkan bahwa penderitaan wanita sering kali bukan lahir dari kelemahan pribadi, melainkan dari tekanan sosial nan membatasi ruang mereka untuk menentukan pilihan hidup sendiri. Karena itu, Kehilangan Mestika tetap relevan untuk dibaca hingga hari ini. Novel tersebut mengingatkan bahwa selama kebebasan wanita tetap kudu dibayar dengan kekhawatiran dan tekanan batin, maka perjuangan nan disuarakan Hamidah nyaris satu abad lampau belum betul-betul selesai.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·