Para ibu di Desa Bebatu Kaltara, menyiapkan bahan untuk pembuatan petis udang.(DOK M4CR)
PEREMPUAN di wilayah pesisir mempunyai peran nan tidak tergantikan dalam menopang kehidupan family dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Selain mengurus rumah tangga, mereka turut mengolah hasil perikanan, membantu aktivitas tambak, hingga menjadi penggerak upaya skala rumah tangga.
Peningkatan keahlian menjadi salah satu kunci agar wanita bisa menciptakan nilai tambah dari potensi lokal. Pendekatan inilah nan dikembangkan Kementerian Kehutanan melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) melalui aktivitas Sekolah Lapang Livelihood. Sekolah Lapang Livelihood adalah sebuah ruang belajar nan membekali masyarakat, khususnya perempuan, dengan keahlian mengembangkan upaya berbasis sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Salah satu praktiknya dapat ditemukan di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Desa pesisir ini mempunyai keterkaitan nan erat dengan ekosistem mangrove. Selama bertahun-tahun, masyarakat menggantungkan penghidupan pada hasil tambak melalui penerapan silvofishery, ialah sistem budidaya nan memadukan tambak dengan pelestarian mangrove, sehingga faedah ekonomi dapat tumbuh tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Produktivitas tambak nan semakin baik kemudian membuka kesempatan baru. Hasil udang tidak hanya mempunyai nilai ketika dijual dalam corak segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi nan lebih tinggi. Melihat potensi tersebut, Sekolah Lapang Livelihood M4CR datang untuk memperkuat kapabilitas wanita dalam mengembangkan upaya berbasis hasil tambak.
Sebanyak 11 wanita nan tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Baru mengikuti training pengolahan petis udang. Materi nan diberikan tidak hanya berfokus pada teknik produksi, tetapi juga mencakup pengenalan standar kebersihan, proses pengolahan nan tepat, hingga menghasilkan petis dengan kualitas nan lebih baik.
Selain meningkatkan keahlian produksi, peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai pengemasan produk nan higienis, pelabelan, serta dasar-dasar keamanan pangan. Pembelajaran tersebut menjadi bekal krusial agar produk nan dihasilkan tidak hanya mempunyai kualitas nan lebih baik, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk menjangkau pasar nan lebih luas.
Ketua KWT Bina Baru, Rukiah, mengatakan training tersebut memberikan pengalaman baru bagi kelompoknya dalam mengembangkan upaya berbasis potensi desa. "Melalui aktivitas ini, kami merasa sangat terbantu lantaran mendapat pengetahuan baru, pengalaman, dan wawasan bagi kelompok. Selama ini pengedaran produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berambisi ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu nan tergabung dalam golongan kami," ujarnya.
Menurut Rukiah, peningkatan kapabilitas nan diperoleh melalui Sekolah Lapang Livelihood membuka wawasan bahwa hasil tambak dapat dikembangkan menjadi produk nan mempunyai nilai tambah andaikan diolah dengan teknik nan tepat dan didukung kualitas bungkusan nan baik.
Pemerintah Desa Bebatu juga memandang peningkatan kapabilitas masyarakat sebagai bagian krusial dalam memperkuat ekonomi desa. Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu, Sri Kamariah, mengatakan bahwa kesempatan kerja di desa tetap relatif terbatas sehingga pengembangan upaya berbasis potensi lokal menjadi salah satu pengganti untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menilai wanita mempunyai kontribusi besar dalam mendukung perekonomian keluarga. Karena itu, pemerintah desa terus memberikan support terhadap kelompok-kelompok masyarakat nan mau mengembangkan usaha, termasuk membantu proses pengajuan proposal maupun mendorong keberlanjutan aktivitas pemberdayaan.
PERKUAT KETERKAITAN
Sementara itu, PPIU Manager Kalimantan Utara program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Akhmad Ashar Sarif, mengatakan bahwa Sekolah Lapang Livelihood merupakan bagian dari upaya memperkuat keterkaitan antara rehabilitasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
"Pelatihan sekolah lapang ini merupakan komitmen kami berbareng dalam melestarikan mangrove dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan keahlian nan diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari aspek ekologis, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh faedah ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam nan dilakukan secara berkelanjutan. Ketika masyarakat mempunyai keahlian untuk mengembangkan upaya berbasis hasil tambak maupun sumber daya pesisir lainnya, maka faedah rehabilitasi mangrove dapat dirasakan secara lebih luas.
Peningkatan kapabilitas wanita melalui Sekolah Lapang Livelihood menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam mengembangkan usaha. Melalui proses tersebut, wanita tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap dalam aktivitas ekonomi, melainkan sebagai pelaku utama nan bisa menciptakan nilai tambah dari potensi desa.
Di Desa Bebatu, upaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian mangrove dan penguatan ekonomi masyarakat dapat melangkah beriringan. Ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery, sementara wanita memperoleh kesempatan meningkatkan kapabilitas dan mengembangkan produk olahan, maka terbentuk fondasi nan lebih kuat bagi terwujudnya ekonomi pesisir nan handal dan berkelanjutan. (H-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·