
Dosen Jurusan Ilmu Politik UIII Ridwan al Makassary (foto: dok pribadi)
Penulis: Ridwan al Makassary - Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
SUDAH lebih dari dua pekan perang nan berkecamuk antara Israel-AS vs Iran, tanpa ada kejelasan kapan perang bakal usai. Kini, bumi dikejutkan oleh sebuah skenario militer, di mana bakal terjadi perebutan Selat Hormuz oleh pasukan marinir campuran Israel-Amerika Serikat. Selat Hormuz nan dikuasai oleh Iran adalah selat sempit nan memisahkan Iran dengan Oman dan Uni Emirat Arab ini adalah nadi daya dunia. Hampir 20 % perdagangan minyak dunia melintasi perairan ini setiap hari. Karenanya, setiap ketegangan di area ini bakal segera beresonansi jauh melampaui Timur Tengah. Dunia mengetahui bahwa ketika Selat Hormuz bergolak, bukan hanya kapal tanker nan terancam, tetapi juga stabilitas ekonomi global.
Tampaknya operasi ini bukan lagi sekadar wacana para jenderal di Washington dan Tel Aviv, melainkan sebuah skenario nan mungkin terjadi dalam hitungan jam ke depan dan sudah berada di ujung tanduk eskalasi. AS dilaporkan telah mengirim kapal serbu amfibi USS Tripoli berbareng sekitar 2.500 Marinir ke area Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi perangdengan Iran. Jika perebutan terjadi di atas perairan nan hanya selebar 33 kilometer itu betul-betul terjadi, maka secara tak terelakkan lautan api bakal tercipta. Operasi militer campuran Israel-AS nan dilancarkan dengan argumen mulia, ialah “menjaga kebebasan navigasi dan keamanan daya global”, pada dasarnya, menyembunyikan ambisi dari Israel-AS untuk memotong urat nadi ekonomi Iran sekaligus mengendalikan gerbang minyak dunia.
Kita perlu memandang skenario ini dengan jernih. Pasukan marinir Israel nan terkenal dengan unit Shayetet 13 alias setara dengan Navy SEAL-nya AS dilaporkan telah berlatih di pangkalan angkatan laut AS di Bahrain dan Diego Garcia selama berbulan-bulan. Mereka berlatih untuk merebut pulau-pulau strategis Iran, seperti Pulau Abu Musa dan Pulau Greater Tunb, nan selama ini menjadi pos pengawasan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Dalam skenario terburuk, serangan campuran ini tidak hanya bakal melumpuhkan pangkalan militer Iran di sepanjang pantai, tetapi juga menduduki sementara fasilitas-fasilitas kritis di Selat Hormuz. Ini mengandung makna bahwa jika Iran menutup selat, maka AS dan Israel bakal membukanya dengan paksa. Bahkan, jika itu terjadi maka Isreal-AS berfaedah menduduki teritori Iran secara langsung. Namun kita tahu, membuka selat dengan kekuatan marinir sama saja dengan menyulut perang asimetris nan bakal membakar seluruh Kawasan Timur Tengah.
Ironisnya, dalih operasi ini justru bakal menjadi bumerang terbesar. Iran melalui Menteri Luar Negerinya, Abbas Araghchi, telah berulang kali menyatakan bahwa selat itu tidak ditutup untuk negara-negara nan tidak memusuhi Iran. Bahkan, Garda Revolusi sempat menawarkan “paket damai” nan provokatif, ialah kapal boleh lewat asal negara asalnya mengusir dubes AS dan Israel. Belakangan kapal nan dianggap kawan seperti India dan Cina boleh melintas. Bahkan, Iran mempertimbangkan untuk mengijinkan kapal tanker dalam jumlah terbatas dalam transaksi dengan menggunakan mata duit Yuan Tiongkok.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·