Sekolah rusak akibat gempa bumi di NTT.(Dok. Antara)
INDONESIA merupakan negara nan berada di wilayah Ring of Fire alias Cincin Api Pasifik, sebuah jalur nan mempertemukan lempeng-lempeng tektonik aktif sekaligus menjadi rumah bagi ratusan gunung berapi. Kondisi geografis ini membikin masyarakat Indonesia sangat berkawan dengan kejadian gempa bumi. Namun, tidak semua gempa bumi mempunyai asal-usul nan sama.
Secara umum, gempa bumi nan sering kita rasakan terbagi menjadi dua jenis utama berasas penyebabnya: gempa tektonik dan gempa vulkanik. Memahami perbedaan keduanya bukan sekadar wawasan geologi, melainkan langkah krusial dalam mitigasi bencana. Lantas, apa nan membedakan keduanya dan mana nan mempunyai daya rusak lebih besar?
Apa Itu Gempa Tektonik?
Gempa tektonik adalah jenis gempa bumi nan paling umum terjadi di dunia. Gempa ini disebabkan oleh pelepasan daya secara tiba-tiba akibat pergeseran lempeng tektonik di kerak bumi. Kerak bumi terdiri dari potongan-potongan besar nan disebut lempeng, nan terus bergerak secara bergerak meskipun sangat lambat.
Ketika lempeng-lempeng ini saling bergesekan, bertabrakan, alias menjauh, terjadi akumulasi tegangan (stress) pada batuan. Saat batuan tersebut tidak lagi bisa menahan tekanan, mereka bakal patah alias bergeser secara mendadak, melepaskan gelombang seismik nan kita rasakan sebagai getaran hebat.
Apa Itu Gempa Vulkanik?
Berbeda dengan tektonik, gempa vulkanik berangkaian erat dengan aktivitas magma di dalam perut gunung berapi. Gempa ini terjadi lantaran adanya pergerakan magma nan mendesak batuan di sekitarnya saat mencoba naik ke permukaan. Tekanan gas nan tinggi di dalam kantong magma juga dapat memicu getaran ini.
Gempa vulkanik biasanya menjadi sinyal awal alias prekursor bahwa sebuah gunung berapi bakal meletus. Para mahir vulkanologi menggunakan gelombang dan kekuatan gempa vulkanik untuk menentukan status aktivitas gunung api, mulai dari Level I (Normal) hingga Level IV (Awas).
Perbedaan Utama Gempa Tektonik dan Vulkanik
| Penyebab | Pergeseran lempeng tektonik. | Aktivitas magma dan gas gunung api. |
| Jangkauan | Sangat luas, bisa melintasi negara/benua. | Terbatas di sekitar area gunung berapi. |
| Kekuatan (Magnitudo) | Bisa mencapai magnitudo sangat besar (M 9.0+). | Umumnya mini hingga sedang (jarang di atas M 5.0). |
| Potensi Tsunami | Tinggi (jika pusat di laut dan dangkal). | Sangat rendah (kecuali memicu longsoran bawah laut). |
| Frekuensi | Terjadi kapan saja tanpa tanda awal nan jelas. | Meningkat saat aktivitas vulkanik naik. |
Mana nan Lebih Berbahaya?
Jika pertanyaannya adalah mana nan lebih rawan secara skala dunia dan akibat kerusakan infrastruktur, jawabannya adalah gempa tektonik. Berikut adalah alasannya:
- Skala Dampak: Gempa tektonik dapat merusak area hingga ratusan kilometer dari pusat gempa. Sebaliknya, gempa vulkanik biasanya hanya dirasakan oleh masyarakat nan tinggal di lereng alias kaki gunung.
- Ketidakpastian: Hingga saat ini, belum ada teknologi nan bisa memprediksi kapan gempa tektonik bakal terjadi secara akurat. Gempa vulkanik lebih mudah dipantau lantaran biasanya mengikuti pola peningkatan aktivitas gunung api.
- Potensi Tsunami: Sebagian besar tsunami luar biasa dalam sejarah manusia dipicu oleh gempa tektonik bawah laut.
Namun, perlu dicatat bahwa gempa vulkanik mempunyai ancaman spesifiknya sendiri. Meskipun getarannya mungkin tidak meruntuhkan gedung di kota besar, gempa vulkanik adalah peringatan bakal ancaman nan lebih mematikan: erupsi gunung berapi nan membawa awan panas, aliran lava, dan hujan abu.
Bahaya sebuah gempa tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga oleh kedalaman pusat gempa (hiposentrum), jarak dari pemukiman, dan kualitas gedung di wilayah terdampak.
Langkah Mitigasi nan Harus Dilakukan
Mengingat Indonesia rawan terhadap kedua jenis gempa ini, langkah mitigasi menjadi nilai mati. Berikut adalah checklist praktis untuk menghadapi ancaman gempa:
- Pahami Lokasi: Ketahui apakah Anda tinggal di jalur sesar aktif (tektonik) alias di Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api.
- Konstruksi Bangunan: Pastikan rumah mempunyai struktur tahan gempa alias minimal menggunakan material ringan nan tidak membahayakan jika runtuh.
- Siapkan Tas Siaga Bencana: Berisi arsip penting, obat-obatan, air minum, dan makanan instan untuk minimal 3 hari.
- Saat Terjadi Gempa: Terapkan prinsip "Drop, Cover, and Hold on" (Merunduk, Berlindung, dan Berpegangan).
Kesimpulan
Gempa tektonik dan vulkanik adalah dua kejadian alam nan berbeda namun sama-sama menuntut kewaspadaan. Gempa tektonik unggul dalam perihal kekuatan dan jangkauan kerusakan, sementara gempa vulkanik merupakan sirine alam bagi ancaman erupsi. Dengan memahami karakter keduanya, kita dapat lebih siap dalam menghadapi akibat musibah di masa depan. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·