Perang Sipil Sudan dan Kemungkinan Efek Domino di Kawasan Afrika Utara

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi simulasi perang. Foto: Pathdoc/fotolia

Perang sipil di Sudan nan telah berjalan sejak April 2023 sekarang memasuki tahun keempat tanpa tanda-tanda penyelesaian. Konflik antara Sudanese Armed Forces (SAF) nan dipimpin Abdel Fattah al-Burhan dan Rapid Support Forces (RSF) di bawah Mohamed Hamdan Dagalo telah berkembang dari perebutan kekuasaan menjadi krisis multidimensi nan tidak hanya menghancurkan Sudan, tetapi juga menakut-nakuti stabilitas area Afrika Utara secara lebih luas (Council on Foreign Relations, 2026; UNHCR, 2025).

Awal Mula dan Dampak Konflik Sudan

Ilustrasi wanita Sudan. Foto: Dok. AFP

Secara historis, bentrok ini berakar dari transisi politik setelah jatuhnya rezim Omar al-Bashir pada 2019. Rivalitas antara militer dan paramiliter nan sebelumnya berada dalam satu struktur kekuasaan berubah menjadi bentrok terbuka pada 2023. Sejak saat itu, Sudan terjebak dalam perang nan ditandai oleh pertempuran urban, serangan udara, dan kekerasan terhadap penduduk sipil nan meluas (EUAA, 2026).

Hingga 2026, lebih dari 150.000 orang dilaporkan tewas, sementara sekitar 13 hingga 14 juta orang terpaksa mengungsi, baik di dalam negeri maupun ke negara tetangga. Selain itu, sekitar 34 juta orang—lebih dari dua pertiga populasi Sudan—membutuhkan support kemanusiaan, menjadikannya salah satu krisis terbesar di bumi saat ini (AP News, 2026; UNHCR, 2025). Bahkan, sekitar 28,9 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, dengan banyak wilayah berada di periode kelaparan (Reuters, 2026).

Konflik ini juga menunjukkan tingkat kekerasan nan tinggi dan sistematis. Serangan terhadap akomodasi kesehatan, penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, hingga dugaan pembersihan etnis (yang terjadi lagi) di wilayah Darfur menjadi karakter utama eskalasi konflik. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat lebih dari 200 serangan terhadap akomodasi kesehatan sejak perang dimulai, nan semakin memperburuk kondisi kemanusiaan (WHO, 2026).

Salah satu perspektif kota Khartoum, Sudan. Foto: Ammar Nassir/Unsplash

Imbas Perang Sipil Sudan ke Kawasan

Dampak perang Sudan tidak berakhir di dalam negeri. Secara regional, bentrok ini menciptakan pengaruh domino nan signifikan terhadap stabilitas Afrika Utara dan area sekitarnya. Arus pengungsi dalam jumlah besar telah menyebar ke negara-negara seperti Chad, Mesir, Libya, dan Ethiopia, menciptakan tekanan sosial dan ekonomi nan besar di negara-negara tersebut (UNHCR, 2025).

Di Mesir, misalnya, peningkatan jumlah pengungsi Sudan memperburuk tekanan terhadap ekonomi domestik nan sudah terdampak oleh inflasi dan krisis global. Sementara itu, Libya—yang sendiri tetap menghadapi instabilitas politik—berisiko menjadi jalur transit baru bagi migrasi terlarangan menuju Eropa, nan dapat memperumit dinamika keamanan di area Mediterania.

Selain itu, bentrok Sudan juga berpotensi memperluas rivalitas geopolitik di Afrika Utara. Keterlibatan tokoh eksternal seperti Uni Emirat Arab, Mesir, dan Turki—dalam mendukung pihak-pihak nan bertikai—menunjukkan bahwa Sudan telah menjadi arena proxy conflict. Dinamika ini meningkatkan akibat eskalasi regional, terutama jika bentrok meluas ke negara-negara tetangga (El País, 2026).

Ilustrasi bendera Sudan. Foto: Generated by AI

Di sisi lain, fragmentasi internal Sudan juga berpotensi menciptakan kondisi “negara gagal” (failed state). Dalam beberapa skenario, Sudan apalagi diperkirakan dapat terpecah secara de facto menjadi beberapa wilayah nan dikuasai oleh faksi berbeda, seperti Darfur di bawah RSF dan wilayah timur di bawah kontrol militer.

Kondisi ini dapat membuka ruang bagi golongan bersenjata dan jaringan pidana lintas negara untuk berkembang (Special Eurasia, 2026). Implikasi lainnya adalah meningkatnya ancaman terhadap keamanan daya dan perdagangan regional. Sudan mempunyai posisi strategis di Laut Merah, nan merupakan jalur krusial bagi perdagangan global. Ketidakstabilan di Sudan berpotensi mengganggu jalur logistik dan meningkatkan akibat keamanan maritim di area tersebut.

Lebih jauh lagi, krisis Sudan juga berakibat pada stabilitas politik di Afrika Utara melalui efek spillover. Negara-negara dengan kondisi politik nan rentan berisiko terdorong ke dalam instabilitas akibat tekanan ekonomi, migrasi, dan keamanan. Dalam konteks ini, bentrok Sudan dapat memperburuk tren ketidakstabilan nan sebelumnya telah terlihat di kawasan, termasuk di Libya dan sebagian wilayah Sahel.

Proyeksi ke Depan

Ilustrasi benua Afrika. Foto: Alexander Lukatskiy/Shutterstock

Meski beragam upaya diplomatik telah dilakukan—termasuk mediasi oleh Uni Afrika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)—hingga saat ini belum ada kemajuan signifikan menuju gencatan senjata. Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa kedua pihak justru terus meningkatkan intensitas serangan, termasuk indikasi penggunaan drone dan artileri berat di wilayah sipil (UN Security Council Report, 2026).

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa bentrok Sudan kemungkinan bakal bersambung dalam jangka menengah. Selama tidak ada kesepakatan politik nan inklusif dan tekanan internasional nan efektif, perang ini berpotensi menjadi bentrok berkepanjangan seperti nan terjadi di Libya alias Suriah.

Dapat dipahami bahwa perang sipil Sudan bukan hanya tragedi nasional, melainkan juga krisis regional nan dapat mengubah lanskap geopolitik Afrika Utara. Dengan skala kemanusiaan nan besar dan potensi eskalasi lintas batas, stabilitas area sekarang semakin berjuntai pada keahlian organisasi internasional untuk mendorong penyelesaian bentrok nan berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan