Jakarta, CNBC Indonesia - Perang kerabat Sudan telah menewaskan setidaknya 880 penduduk sipil dalam serangan pesawat tak berawak (drone) antara Januari dan April tahun ini. Data diungkap PBB, Senin, menunjuk perselisihan tak berujung antara tentara Sudan dan golongan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF), nan telah bertempur sejak April 2023 hingga kini.
"Serangan pesawat tak berawak menyebabkan setidaknya 880 kematian penduduk sipil, lebih dari 80% dari semua kematian penduduk sipil mengenai konflik, antara Januari dan April tahun ini," kata Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), merujuk AFP, dikutip Selasa (12/5/2026).
"Drone bersenjata sekarang telah menjadi penyebab utama kematian penduduk sipil," kata Kepala OHCHR Volker Turk, dalam pernyataan tersebut.
Peningkatan penggunaan drone, tambahnya, memungkinkan pertempuran bersambung tanpa henti selama musim hujan. Padahal, di masa lalu, perang berakhir ketika musim ini datang dan mengalami jeda.
"Intensifikasi permusuhan dalam beberapa minggu mendatang... berisiko menyebabkan permusuhan meluas lebih jauh ke negara bagian tengah dan timur, dengan akibat mematikan bagi penduduk sipil di wilayah nan sangat luas," katanya.
Sebenarnya perang kerabat sudah berjalan lebih dari tiga tahun di Sudan. Hal ini sudah menewaskan puluhan ribu orang, menyebabkan lebih dari 11 juta orang mengungsi, dan menjerumuskan beberapa wilayah ke dalam kelaparan.
Turk memperingatkan jika perang terus terjadi, bentrok ini berada di fase baru nan apalagi lebih mematikan. Khususnya wilayah Kordofan dan Darfur, nan menjadi pusat serangan tiga bulan ini.
Perlu diketahui, pasar telah berulang kali menjadi sasaran, dengan setidaknya 28 serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa di kalangan penduduk sipil dalam empat bulan pertama tahun ini.
Fasilitas kesehatan juga telah diserang setidaknya 12 kali.
PBB cemas ke depan, perang bakal melebar tak hanya di Kordofan dan Darfur, tapi juga Nil Biru, Nil Putih, dan Khartoum. Turk memperingatkan bahwa peningkatan kekerasan bakal mengganggu penyediaan support kemanusiaan nan penting.
"Sebagian besar wilayah negara, termasuk Kordofan, sekarang menghadapi peningkatan akibat kelaparan dan kerawanan pangan akut," katanya, menambahkan bahwa situasi tersebut diperburuk oleh kekurangan pupuk nan mengenai dengan perang di Timur Tengah.
(sef/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·