Jakarta, CNBC Indonesia - Pertempuran sengit meletus antara pasukan pemerintah dan golongan milisi sekutu oposisi di ibu kota Somalia ialah Mogadishu. Bentrokan bersenjata ini merusak beragam akomodasi properti warga. Kejadian mencekam tersebut juga memaksa sebagian penduduk sipil untuk melarikan diri dari rumah mereka.
Mengutip The Guardian, ketegangan ini dimulai pada Rabu pekan lalu. Para pemimpin oposisi nan berasosiasi dengan milisi mulai membangun posisi pertahanan. Mereka mendirikan pedoman militer di wilayah kekuasaan klan mereka di dalam kota.
Jalan Maka al-Mukarama, nan menjadi jalur utama kota, langsung berubah menjadi medan perang. Menjelang mentari terbenam tembakan mortir mulai mendarat di pemukiman padat penduduk.
Serangan mortir juga menghantam pasar Bakara nan merupakan pusat upaya terbesar di Somalia. Rekaman video di media sosial menunjukkan asap hitam tebal membubung tinggi di atas langit kota.
Krisis politik baru ini dipicu oleh kebijakan Presiden Hassan Sheikh Mohamud pada pertengahan Mei lalu. Mohamud mengumumkan perpanjangan masa jabatannya selama satu tahun ke depan. Padahal masa kedudukan presiden semestinya berhujung pada 15 Mei nan lalu.
Pihak oposisi dan para pemimpin regional langsung menolak keputusan tersebut. Mereka juga berencana menggelar tindakan demonstrasi besar-besaran pada hari Kamis.
Mantan Presiden Sharif Sheikh Ahmed menyatakan bahwa pasukan pemerintah telah menargetkan rumah kediamannya. Pemimpin nan berkuasa dari tahun 2009 hingga 2012 ini menuduh pemerintahan Mohamud melakukan tindakan ilegal.
"Pasukan pemerintah mengepung dan menyerang rumah saya. Saya tidak pernah takut dengan serangan garang mereka dan saya bakal melawan balik," ujarnya, Senin (8/6/2026).
Di tempat terpisah mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire juga melayangkan tuduhan serius kepada pasukan pemerintah melalui media sosial X. Khaire menuduh tentara menggunakan senjata berat termasuk senjata anti-tank dan pesawat tanpa awak di area padat penduduk.
"Pemerintah telah mengarahkan serangan militer nan gencar dan membabi buta nan bermaksud untuk membunuh saya dan Ahmed," tuturnya
Adegan kekerasan ini mengingatkan kembali pada bentrok serupa nan terjadi pada tahun 2021 nan lalu. Saat itu tanggal pemilihan umum terlewati tanpa adanya pemungutan bunyi nan jelas.
Seorang penduduk di distrik Howl Wadaag berjulukan Kowsar Abdi Ibrahim memberikan kesaksian mengenai kengerian pertempuran tersebut.
"Saya belum pernah memandang pertempuran seperti ini dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2021 memang ada pertempuran juga tetapi ini jauh lebih sengit daripada nan diperkirakan siapa pun," katanya.
Saat pertempuran mereda pada hari Kamis Ibrahim memilih mengungsi berbareng neneknya ke distrik tetangga. Ibrahim menambahkan keterangan mengenai situasi pergerakan pasukan militer di lapangan.
"Masih ada pergerakan pasukan. Jadi meskipun bunyi tembakan berakhir bukan berfaedah pertempuran telah berakhir."
Warga lain dari distrik Howl Wadaag berjulukan Bashir Mohamed juga mengaku telah meninggalkan rumahnya nan berada di area konflik. Mohamed menceritakan kebingungan penduduk di medan perang akibat seragam nan sama.
"Anda tidak tahu siapa adalah siapa. Kedua belah pihak sama-sama mengenakan busana militer dan kekerasan bisa terjadi kembali kapan saja," ungkapnya
Somalia sendiri telah mengalami bentrok panjang dan pertempuran antar klan tanpa adanya pemerintah pusat nan kuat sejak jatuhnya penguasa otokratis Mohamed Siad Barre pada tahun 1991. Negara personil Liga Arab ini juga terus berjuang melawan pemberontakan nan dipimpin oleh golongan al-Shabaab selama nyaris dua dekade. Kelompok pemberontak tersebut diketahui mempunyai hubungan erat dengan jaringan al-Qaida.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengatakan kekerasan terbaru ini telah menimbulkan korban jiwa. Pertempuran juga melukai penduduk sipil serta merusak prasarana krusial kota.
"Sekretaris Jenderal sangat mengutuk semua tindakan kekerasan dan hasutan untuk melakukan kekerasan nan dilakukan demi untung politik. Saya mengimbau semua pihak untuk menahan diri secara maksimal. Seluruh golongan kudu melindungi penduduk sipil dan menyelesaikan perbedaan politik melalui dialog," imbuhnya.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·