Pakistan diproyeksikan bakal menghadapi gelombang pemadaman listrik imbas perang di Timur Tengah nan menghalang pasokan gas alam cair (LNG). Padahal, Pakistan bersiap menjadi tuan rumah putaran berikutnya untuk perundingan tenteram antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, kekurangan listrik negara itu mencapai 4.500 megawatt pada Rabu (15/4) malam, saat konsumsi berada di puncak, berasas pernyataan kementerian energi.
"Angka tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total kebutuhan listrik," tulis laporan Bloomberg seperti nan dikutip kumparan.
Negara di Asia Selatan ini tengah menghadapi krisis daya terbesar dalam beberapa tahun terakhir setelah perang di Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sementara Qatar terpaksa menghentikan ekspor dari akomodasi LNG terbesar di bumi setelah serangan pada awal Maret.
Kementerian memperingatkan, pemadaman bergilir alias load shedding sekarang meluas hingga lebih dari dua jam pada malam hari di sejumlah wilayah, sebagian disebabkan oleh menurunnya produksi listrik tenaga air.
Laporan lokal apalagi menyebut pemadaman bisa berjalan lebih lama, hingga 14 jam, dengan akibat paling besar dirasakan di wilayah pedesaan.
Presiden Federation of Pakistan Chambers of Commerce & Industry, Atif Ikram Sheikh, menyatakan sektor industri turut terdampak signifikan oleh pemadaman listrik dalam beberapa hari terakhir.
Ia menyebut industri menghadapi pemadaman sekitar delapan jam per hari, nan bakal berakibat pada ekspor maupun produksi dalam negeri.
Pakistan tercatat mengimpor nyaris seluruh kebutuhan LNG nan digunakan untuk pembangkit listrik dari Qatar. Saat ini, negara tersebut mempertimbangkan untuk mencari pasokan tambahan di pasar spot nan harganya lebih mahal. Namun, nilai perlu turun agar bahan bakar tersebut tetap terjangkau.
Krisis ini terjadi di tengah peran Pakistan sebagai mediator dalam perundingan antara pihak-pihak nan bertikai di Timur Tengah, dengan Washington mengindikasikan putaran negosiasi berikutnya kemungkinan juga bakal digelar di negara tersebut.
Sementara itu, Islamabad juga tengah berupaya menstabilkan kondisi keuangannya dengan memperkuat persediaan devisa. Pada Rabu (15/4), pemerintah menyatakan telah memperoleh support finansial sebesar USD 3 miliar dari Arab Saudi, nan dapat membantu menutup tanggungjawab pembayaran pinjaman kepada Uni Emirat Arab.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·