Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari enam pekan sejak perang melawan Iran dimulai, ambisi besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mencetak kemenangan berhistoris justru menghadapi realitas nan jauh dari harapan. Alih-alih menghasilkan kemenangan menentukan, bentrok nan digalang berbareng Amerika Serikat itu belum bisa dikonversi menjadi untung politik di dalam negeri.
Sejak awal, perang ini disebut-sebut sebagai momentum bagi Netanyahu untuk mengukuhkan posisinya dalam sejarah. Namun, meski Israel mengerahkan kekuatan militer besar, hasil di lapangan menunjukkan bahwa musuh-musuhnya di beragam front memang melemah, tetapi belum sukses dinetralisir sepenuhnya.
Iran tetap memperkuat dan menunjukkan sikap menantang, apalagi setelah serangan udara besar-besaran oleh Israel dan AS serta gugurnya sejumlah tokoh penting. Persediaan nuklir Teheran tetap ada, keahlian misilnya telah terbukti, dan pengaruhnya atas Selat Hormuz, jalur krusial bagi sekitar seperlima aliran minyak dunia, tetap kuat.
Di front lain, golongan militan Palestina Hamas belum dilucuti di Gaza. Sementara itu, Hizbullah nan didukung Iran terus meluncurkan roket ke wilayah utara Israel dari Lebanon.
"Netanyahu tidak menang," ujar Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies Israel, dilansir CNN International, Rabu (15/4/2026).
"Perang ini adalah kegagalan strategis. Ada kesenjangan antara apa nan dia janjikan di awal kampanye dan kondisi akhir nan kita alami," imbuhnya.
Popularitas Turun, Risiko Politik Meningkat
Menurut para analis politik kawasan, Netanyahu sekarang kudu bayar nilai politik dari kampanye militer nan tidak menghasilkan hasil tegas. Dukungan publik terhadapnya terus menurun, sementara pemilu legislatif dijadwalkan paling lambat Oktober mendatang.
Netanyahu, nan sekarang berumur 76 tahun, belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar mengenai situasi ini. Namun, dia sebelumnya menolak dugaan bahwa Israel kandas mencapai targetnya.
"Ada pencapaian besar di sini. Ini adalah perubahan bersejarah. Kita menghancurkan program nuklir. Kita menghancurkan rudal. Kita menghancurkan rezim tersebut," katanya dalam sebuah pernyataan pada akhir pekan lalu.
Di awal perang, Netanyahu apalagi sempat menyerukan kepada rakyat Iran agar turun ke jalan dan menggulingkan pemerintahan ulama. Namun, pejabat keamanan Israel sekarang makin skeptis bahwa skenario tersebut bakal terwujud dalam waktu dekat.
Dua pejabat Israel menyebut bahwa awalnya operasi ini diperkirakan berjalan cepat, hanya sekitar tiga minggu untuk "menyelesaikan pekerjaan". Kenyataannya, bentrok justru melebar menjadi konfrontasi nan lebih luas dengan implikasi regional dan global.
Kekuatan Udara Tak Cukup
Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai perang ini sempat mendongkrak gambaran Netanyahu, terutama setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 nan memicu perang di Gaza. Namun, pengaruh tersebut tidak memperkuat lama.
Survei Agam Labs dari Hebrew University of Jerusalem pada 11 April menunjukkan hanya 10% penduduk Israel nan menilai perang ini berhasil. Dukungan terhadap Netanyahu turun menjadi 34%, dari sebelumnya 40% di awal konflik. Lebih dari separuh responden apalagi menilai kepemimpinannya jelek alias sangat buruk.
Para analis menilai bahwa meskipun kampanye militer berbasis kekuatan udara, dengan pesawat tempur seperti F-15 dan F-35, menunjukkan keberhasilan taktis, perihal itu belum bisa menghasilkan strategi akhir nan jelas dan berkelanjutan.
"Ada dugaan bahwa F-15s dan F-35s dapat membentuk ulang Timur Tengah, bahwa jika cukup banyak pemimpin Iran dibunuh, rezim bakal runtuh," kata Citrinowicz. "Itu adalah dugaan nan keliru, dan biaya nan ditimbulkannya terus meningkat setiap kali."
Bushinsky juga mempertanyakan efektivitas strategi pembunuhan terarah, apalagi setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei termasuk di antara tokoh nan tewas dalam serangan tersebut.
"Selalu ada seseorang nan menggantikan mereka," tegasnya. "Itu membangunkan beruang, bukan membunuhnya."
Ketegangan Diplomatik dan Biaya Perang
Sumber Barat dan pejabat Israel mengungkapkan bahwa Netanyahu baru mengetahui rencana gencatan senjata nan dimediasi Pakistan saat prosesnya sudah nyaris selesai. Hal ini disebut membuatnya marah lantaran merasa tidak dilibatkan.
Sejak itu, Netanyahu berupaya mengikis kesan bahwa dia tersisih dari proses diplomasi. Ia apalagi menyatakan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance menghubunginya langsung untuk memberi pengarahan mengenai pembicaraan tersebut.
Di sisi lain, Netanyahu juga melancarkan kampanye untuk meyakinkan publik bahwa perang ini layak diperjuangkan. Namun, biaya nan dikeluarkan tidak kecil. Kementerian Keuangan Israel menyebut bahwa perang telah menghabiskan sekitar US$11,5 miliar dari anggaran negara, sebagian besar untuk kebutuhan pertahanan.
Dilema Strategis dan Risiko Kawasan
Para diplomat area menilai dilema Netanyahu bakal semakin dalam jika tidak ada kemenangan militer nan menentukan. Ancaman keamanan tetap membayangi Israel, baik di Gaza, Tepi Barat, maupun dalam bentrok berkepanjangan dengan Lebanon.
Netanyahu disebut-sebut bisa saja berupaya menghalang terobosan diplomatik dengan Iran, lantaran kesepakatan antara AS dan Iran justru berpotensi memperburuk posisi politiknya di dalam negeri.
Israel sendiri menyatakan bersedia menerima kesepakatan nan membatasi program nuklir dan misil Iran serta menghilangkan uranium nan telah diperkaya.
Namun, para mahir menilai perang ini telah mengubah keseimbangan kekuatan. Iran sekarang merasa bisa memperkuat menghadapi tekanan militer AS sekaligus menakut-nakuti lawannya melalui serangan terhadap prasarana daya di Teluk dan kontrol atas Selat Hormuz.
"Kau tidak bisa memasukkan hantu kembali ke dalam botol," kata Citrinowicz. "Pihak Iran merasa makin kuat sekarang, mereka merasa makin berani dan mereka menginginkan lebih banyak daripada nan ditawarkan dalam pembicaraan sebelumnya."
Mantan negosiator AS untuk Timur Tengah, Aaron David Miller, menilai negara-negara Teluk Arab menjadi pihak nan paling dirugikan dalam bentrok ini. Kawasan tersebut sekarang kudu menghadapi kemungkinan kepemimpinan Iran nan lebih keras dan penuh dendam.
Sementara itu, Abdulaziz Sager, Ketua Gulf Research Center berbasis di Arab Saudi, menyatakan bahwa negara-negara Teluk siap menghadapi akibat eskalasi demi menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·