Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum usai. Ketidakpastian nan terjadi lantaran perang membikin gejolak pada pasokan dan nilai energi, termasuk avtur.
Maskapai meminta nilai tiket pesawat unik jemaah haji dinaikkan. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengungkapkan kenaikan biaya penerbangan terjadi jelang penerbangan haji nan bakal dilakukan akhir bulan depan.
Irfan menjelaskan sepuluh hari ke belakang menjadi waktu nan krusial, karena tiba-tiba pihaknya mendapatkan permintaan kenaikan nilai oleh maskapai penerbangan haji. Padahal semua persiapan ibadah haji puluhan juta penduduk Indonesia sudah selesai dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulanya, Garuda Indonesia nan meminta peningkatan tarif tiket penerbangan, tak disangka Saudia Airlines juga turut meminta tambahan nilai tiket. Semua terjadi lantaran bahan bakar pesawat, avtur, naik pesat di tengah perang.
"Sepuluh hari lampau adalah sepuluh hari nan krusial buat kami lantaran Garuda minta perubahan nilai dari jemaah haji waktu itu kita tanyakan Saudi juga, ini Garuda minta tambahan Saudi nggak ya? Eh rupanya Saudi juga minta tambahan, lantaran avturnya naik," ujar Irfan dalam konvensi pers di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Dia memaparkan tambahan biaya nan diperlukan untuk mengakomodasi permintaan maskapai maksimal sebesar Rp 1,77 triliun. Dia melaporkan langsung masalah ini ke Presiden Prabowo Subianto.
Dari laporannya itu, Prabowo meminta agar penambahan nilai nan terjadi tidak dibebankan kepada jemaah sama sekali. APBN bakal menyerap beban tambahan tersebut.
"Tambahan biaya nan diperlukan untuk kedua penerbangan ini nyaris Rp 1,77 triliun lantaran kita juga agak kelabakan ini. Maka kami lapor ke presiden apa nan terjadi. Dia bilang, penambahan ini jangan dibebankan kepada jemaah. Ini komitmen presiden ke jemaah haji," ujar Irfan.
Ketika ditanya dari pos mana APBN bakal ikut menyerap tambahan biaya tersebut, Irfan mengaku belum tahu. Namun, dia menjamin anggarannya sudah ada. Saat ini pihaknya konsentrasi untuk menyusun landasan peraturan agar biaya tersebut bisa dicairkan.
"Sumbernya kita tetap berbincang dengan teman-teman Kemenkeu juga utamanya mengenai landasan hukumnya, tapi anggarannya nan jelas pasti ada. Tinggal kita mencari landasan hukumnya untuk gelontorkan anggaran itu. Sebentar lagi bakal saya sampaikan sumber anggaran itu," papar Irfan.
Permintaan Maskapai
Garuda, kata Irfan, menyampaikan butuh kenaikan nilai tiket Rp 7 juta per jemaah. Sementara itu, Saudia meminta kenaikan US$ 485 alias sekitar Rp 8,29 juta per jemaah (kurs Rp 17.100).
"Garuda hitungnya mereka minta tambahan Rp 7 juta sekian per jemaah, dan sementara Saudia minta US$ 485 per jemaah tambahan," ungkap Irfan.
Angka nan diungkapkan sebesar Rp 1,77 triliun adalah kalkulasi maksimal, bisa jauh lebih rendah. Namun, Irfan nomor tersebut belum tentu direstui sesuai permintaan, lantaran pihaknya tetap berkompromi dengan maskapai agar kenaikan nilai tidak sebesar nan diminta.
Semua dilakukan dengan memperhatikan situasi dan kondisi terkini, misalnya saja memandang nilai avtur. Sejauh ini nilai minyak mentah tetap fluktuatif.
"Dan tentu kita tidak bakal minta sekian juga dituruti lantaran kita bakal melakukan perundingan ini nan bener berapa anggarannya, Rp 1,77 triliun adalah nomor nan bisa maksimal diajukan, kelak bakal kita dirundingkan lagi sebenarnya berapa nan kudu ditutup oleh kita. Insyaallah ada kemungkinan ada bisa turun lagi. lantaran mereka berasas pada nilai avtur, kan sekarang nilai avtur kan turun. Mereka ajukan ini saat sebelum gencatan senjata, pada saat nomor nilai minyak sedang berada di titik puncaknya," papar Irfan.
(hal/hns)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·