Ilustrasi.(Magnific)
ESKALASI konflik nan melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sekarang mulai mengubah peta geopolitik di area Teluk. Ketegangan ini tidak hanya menakut-nakuti stabilitas regional, tetapi juga mulai meretakkan kohesi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), terutama antara dua kekuatan utamanya: Arab Saudi dan Emirat Arab.
Meskipun Riyadh dan Abu Dhabi tetap berkomitmen pada kemitraan jangka panjang mereka, hubungan Emirat nan semakin erat dengan Israel menjadi sumber perdebatan serius. Kunjungan rahasia Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Emirat untuk berjumpa Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed baru-baru ini--yang dikonfirmasi Israel tetapi dibantah Emirat--semakin memperkuat spekulasi mengenai kedalaman aliansi baru ini.
Teori 'Thucydides Trap' Versi Regional
Nawaf Obaid, master dari King’s College dan mantan penasihat kerajaan Saudi, menyebut dinamika ini sebagai jenis regional dari Thucydides Trap. "Ini menyerupai kekuatan baru (Emirat) nan mencoba memperluas pengaruhnya terhadap kekuatan dominan nan sudah mapan (Arab Saudi)," ujarnya kepada Newsweek.
Namun, Obaid menegaskan bahwa posisi Arab Saudi sebagai pusat gravitasi bumi Arab tidak mudah digoyahkan. Faktor skala geografi, populasi, kedalaman finansial, kapabilitas militer, hingga legitimasi religius sebagai pelayan dua kota suci (Mekah dan Madinah) adalah realitas struktural nan tidak bisa direplikasi oleh negara mini seperti Emirat.
Langkah Berani Emirat: Keluar dari OPEC+ dan Aliansi Militer
Emirat menunjukkan kemandirian strategisnya melalui beberapa langkah signifikan nan mengejutkan pasar global:
- Keluar dari OPEC+: Emirat mengumumkan pengunduran diri dari organisasi pengekspor minyak tersebut, langkah nan didorong oleh visi keamanan daya masa depan daripada sekadar nilai pasar saat ini.
- Kerja Sama Pertahanan dengan Israel: Emirat dilaporkan menerima sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel dan apalagi menampung pasukan Israel di tengah bentrok regional.
- Diversifikasi Mitra: Selain Israel, Emirat memperkuat hubungan dengan Turki, Korea Selatan, dan India melalui kerangka kerja I2U2.
"Keluar dari OPEC bukan tindakan anti-status quo. Dinamika pasokan, bukan harga, bakal menjadi dominan di pasar daya masa depan," kata Mohammed Baharoon, Direktur Jenderal Dubai Public Policy Research Center.
Arab Saudi dan Poros 'Kuartet' Baru
Merespons pergeseran ini, Arab Saudi tidak tinggal diam. Riyadh mulai memperluas kontak diplomatik dan militernya dengan membentuk blok informal nan disebut Kuartet, nan melibatkan Mesir, Turki, dan Pakistan. Pakistan, sebagai satu-satunya negara Islam bersenjata nuklir, apalagi menandatangani pakta pertahanan dengan Riyadh pada September lalu.
Bagi Riyadh, Israel dipandang sebagai pengganggu regional yang memicu ketidakstabilan di Libanon, Suriah, hingga Qatar. Hal ini menciptakan lembah perbedaan pandangan nan nyata dengan Emirat nan justru melipatgandakan taruhannya pada hubungan Israel sebagai tameng menghadapi ancaman Iran.
| Hubungan dengan Israel | Waspada; Menuntut solusi Palestina sebelum normalisasi. | Sangat Erat; Kerja sama militer dan intelijen aktif. |
| Kebijakan Energi | Pemimpin informal OPEC+; Fokus pada stabilitas harga. | Keluar dari OPEC+; Fokus pada keamanan pasokan mandiri. |
| Mitra Strategis Utama | Mesir, Turki, Pakistan, AS. | Israel, AS, India, Korea Selatan. |
Manajemen Eskalasi
Meskipun terdapat perbedaan tajam, para mahir menilai mini kemungkinan bakal terjadi boikot total seperti kasus Qatar tahun 2017. Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Sheikh Mohammed bin Zayed tetap menjaga komunikasi untuk mencegah salah kalkulasi strategis nan bisa merugikan ekonomi kedua negara, terutama setelah serangan drone nan sempat menghantam pembangkit nuklir Baraka di Emirat baru-baru ini.
Perang melawan Iran telah memaksa negara-negara Teluk untuk memilih jalur keamanan mereka sendiri, nan pada akhirnya menciptakan lanskap geopolitik nan lebih cair, ad hoc, dan penuh ketidakpastian di masa depan. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·