Perang AS-Iran Makin "Makan Korban" China, Ini Bukti Barunya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China tersendat pada bulan April dengan pertumbuhan konsumsi, produksi industri, dan investasi nan meleset dari ekspektasi. Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran meredam momentum di ekonomi terbesar kedua di bumi tersebut.

Menurut info nan dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada hari Senin (18/5/2026), penjualan ritel tumbuh 0,2% bulan lampau dibandingkan tahun lalu. Ini jauh di bawah perkiraan ahli ekonomi untuk kenaikan 2% dan melambat dari 1,7% pada bulan Maret.

Merujuk info Wind, nomor tersebut menandai pertumbuhan terlemah sejak Desember 2022, usai China mulai melonggarkan pembatasan Covid-19. Produksi industri China melonjak 4,1% pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya, melambat dari pertumbuhan 5,7% pada bulan Maret, dan di bawah ekspektasi kenaikan 5,9% dalam jajak pendapat Reuters.

Investasi aset tetap perkotaan, termasuk real estat dan infrastruktur, mengalami kontraksi 1,6% dalam empat bulan pertama tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, dibandingkan dengan ekspektasi pertumbuhan 1,6%. Pada periode Januari hingga Maret, investasi perkotaan telah meningkat 1,7% secara tahunan.

Penurunan investasi disebabkan oleh sektor properti, dengan arus investasi ambruk 13,7% tahun ini hingga April, lebih dalam dari penurunan 11,2% pada tiga bulan pertama. Investasi di bagian prasarana dan manufaktur masing-masing tumbuh 4,3% dan 1,2% pada empat bulan pertama.

"Sebenarnya, investasi properti di negara ini nyaris berkurang setengahnya sejak puncaknya pada tahun 2021. Penurunan lebih lanjut dalam nilai rumah bakal memperdalam akibat pada neraca finansial rumah tangga," kata Lizzi Lee, seorang peneliti di Center for China Analysis, mencatat bahwa penurunan sektor properti telah menyebabkan kehilangan pekerjaan nan signifikan di sektor bangunan dan sektor terkait, dimuat CNBC International.

Sementara itu, info terpisah nan dirilis Senin menunjukkan nilai rumah baru di China melanjutkan penurunannya pada bulan April. Meskipun dengan laju nan lebih lambat, lantaran penurunan sektor properti selama beberapa tahun terus berlanjut.

"Ekspor nan kuat membantu mengurangi kelemahan dalam permintaan domestik, tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya mengimbanginya," kata presiden dan kepala ahli ekonomi di Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang.

Ekspor China meningkat pesat pada bulan April lantaran pabrik-pabrik berupaya keras untuk memenuhi lonjakan permintaan luar negeri dari pembeli asing nan menimbun peralatan lantaran Iran memicu kekhawatiran bakal kenaikan biaya input. Ekspor meningkat 14,1%, jauh melampaui perkiraan pertumbuhan sebesar 7,9%.

Data lain juga menunjukkan tingkat pengangguran perkotaan sedikit menurun menjadi 5,2%, dari 5,4% pada bulan Maret. Data juga dirilis Senin.

Jadi Korban Perang AS-Iran

Dalam konvensi pers pada hari Senin, ahli bicara biro statistik China, Fu Linghui, memperingatkan bahwa volatilitas di pasar daya dan gangguan rantai pasokan nan berasal dari bentrok Timur Tengah lantaran perang AS-Iran, terus membayangi pemulihan ekonomi global. Hal itu dikatakannya sembari menyoroti upaya negara mengenai transisi daya terbarukan.

Volume penyulingan minyak mentah di China jeblos untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan April, turun 5,8% dari tahun sebelumnya, paling tajam sejak Agustus 2024. Sementara produksi minyak mentahnya naik 1,2% dari tahun sebelumnya.

Lonjakan biaya komoditas nan dipicu perang juga mendorong nilai produsen dan konsumen lebih tinggi pada bulan April, dengan nilai di tingkat pabrik mengakhiri tren deflasi selama bertahun-tahun dan mencapai level tertinggi dalam 3 tahun. Pertumbuhan nilai produsen pada bulan April melampaui kenaikan nilai konsumen untuk pertama kalinya sejak Juli 2022

"Perusahaan bakal menyerap sebagian besar guncangan komoditas daripada meneruskannya sepenuhnya kepada konsumen," kata analis Kepala Riset Makro Asia OCBC Bank, Tommy Xie.

Analis lain menekankan bahwa tetap banyak pekerjaan nan perlu dilakukan untuk meningkatkan permintaan domestik. Mereka mendesak upaya untuk meningkatkan penawaran mereka guna menarik konsumen.

Beijing telah menjadikan peningkatan konsumsi domestik sebagai prioritas pertumbuhan tahun ini, tetapi sejauh ini langkah-langkah stimulusnya hanya memberikan hasil nan moderat. Para analis memperkirakan para kreator kebijakan China bakal mempertahankan langkah-langkah stimulus hingga ada tanda-tanda lebih lanjut dari memburuknya perekonomian.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News