Jakarta -
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakibat terhadap industri petrokimia di Indonesia. PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) memilih untuk menurunkan kapabilitas pabrik akibat kesiapan bahan baku, seperti biji plastik (nafta) nan terdampak.
Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae Lo mengakui perang AS dan Iran mengganggu stabilitas operasional pabrik nan selama ini melangkah normal.
"Akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, operasional pabrik kami di Cilegon nan biasanya stabil sekarang terganggu. Saat ini, kami mengalami kekurangan bahan baku nan sangat parah, terutama nafta dan LPG," ujarnya di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyiasati sulitnya pasokan, pihaknya memutuskan untuk mengoperasikan pabrik pada tingkat minimal. Langkah ini diambil agar perusahaan tetap bisa memasok kebutuhan industri domestik, meski dalam kondisi terbatas.
LCI merupakan perusahaan nan memproduksi produk petrokimia dasar dan turunannya. Pabrik nan terletak di Cilegon, Banten ini mengolah bahan baku nafta menjadi produk hulu hingga hilir.
"Kami mengoperasikan pabrik dengan kapabilitas minimal, katakanlah di level 60%. Kami tetap berupaya menjaga operasional demi mendukung industri hilir di Indonesia," tambahnya.
Lee menjelaskan sebelum bentrok memanas, nyaris 100% bahan baku LCI dipasok dari area Timur Tengah. Kini, pihaknya mencari sumber pasokan bahan baku lain dengan mengimpor dari Singapura, Malaysia, hingga Afrika.
"Sebelum perang, nyaris 100% bahan baku kami berasal dari Timur Tengah. Namun sekarang, kami mengimpor dari Singapura, Malaysia, apalagi Afrika, seperti Nigeria," terang Lee.
(rea/ara)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·