Perang Amerika Serikat-Iran: Jangan Seret Indonesia ke Bara Api

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ledakan terlihat di laut setelah misil diluncurkan dari Iran menuju Israel sebagai bagian dari serangan jawaban Iran terhadap serangan campuran oleh Israel dan Amerika Serikat di Iran, dalam eskalasi ketegangan militer di kawasan, Sabtu (28/2/2026). Foto: Rami Shlush/REUTERS

Dunia sedang di periode perang. Bukan perang di Ukraina nan sudah dua tahun lebih mengeringkan perhatian kita. Bukan juga bentrok Gaza nan tak kunjung usai.

Kali ini, nan menakut-nakuti adalah perang terbuka antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Dua negara adikuasa (AS) dan negara dengan jaringan proksi terkuat di Timur Tengah (Iran) saling menghadapkan rudal, drone, dan pasukan. Israel, dengan doktrin eksistensialnya, telah lama mengoyak dada mau "menghabisi" program nuklir Iran. AS, dengan pangkalan militernya nan tersebar di seluruh Teluk, tidak bakal tinggal diam.

Jika perang ini pecah, rakyat Indonesia bakal bayar harganya.

Bukan dalam corak bunyi tembakan alias ledakan bom. Tapi dalam corak nan lebih sehari-hari, lebih menyakitkan, dan lebih nyata:

Harga mi instan naik. Harga tahu tempe meroket. BBM melambung. Rupiah tergerus. Dan duit rakyat melalui APBN tersedot lenyap untuk subsidi energi.

Mari kita buka mata. Ini bukan urusan orang jauh. Ini urusan dapur kita.

Apa nan Akan Terjadi dalam 3 Bulan pertama Perang

Jangan percaya pada narasi "perang kilat" alias "Iran bakal runtuh dalam hitungan minggu".

Tiga bulan pertama perang AS-Iran tidak bakal menghasilkan pemenang. nan ada justru stalemate destruktif (kebuntutan nan menghancurkan ).

Iran tidak bakal tumbang. Mereka punya pengalaman perang delapan tahun melawan Irak (1980-1988). Mereka punya jaringan proksi di Lebanon (Hizbullah dengan 150.000 roket), di Suriah, di Irak, di Yaman. Mereka punya drone murah nan efektif menghancurkan tank-tank modern. Mereka mungkin kehilangan infrastruktur, tapi rezimnya bakal berdiri.

AS tidak bakal menang cepat. Mereka menghadapi musuh dengan strategi asimetris, dengan medan nan tidak bersahabat, dengan biaya politik dan finansial nan sangat besar. Setiap rudal Patriot nan ditembakkan untuk mencegat drone Iran harganya bisa 100 kali lipat lebih mahal dari drone itu sendiri. Ini perang nan menguras kantong.

Israel bakal kewalahan. Mereka kudu menghadapi dua front: Gaza di selatan dan Hizbullah di utara. Iron Dome tidak didesain untuk serangan massal dari dua arah sekaligus.

Lalu, di tengah kebuntuan ini, Iran bakal menjalankan senjata pamungkasnya: mengganggu Selat Hormuz.

Selat Hormuz adalah jalur sempit di ujung Teluk Persia, tempat 20% minyak dan LNG bumi melintas. Jika Iran mengganggu selat ini dengan kapal cepat, ranjau, alias rudal nilai minyak bumi bakal melonjak ke langit.

Bukan 80 per barel. Bukan 100. Bisa 120, 120, 150, apalagi lebih.

Dan Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak dan sekaligus pemberi subsidi BBM, bakal menjadi salah satu korban paling parah.

Inilah Dampaknya

Saya tidak bakal bicara teori. Saya bakal bicara angka.

Pertama: APBN Jebol, Rakyat nan Bayar

Menteri Keuangan mungkin bakal tersenyum tenang di depan layar televisi. Tapi di belakang layar, para kepala jenderal anggaran sedang pusing tujuh keliling.

Harga minyak ICP (Indonesia Crude Price) nan diasumsikan di APBN 2026 sekitar 70−75 per barel,akanmelonjakke100 lebih. Setiap kenaikan $1 per barel, beban subsidi BBM dan listrik naik sekitar Rp3-4 triliun per tahun.

Kalikan dengan kenaikan $25-30. Hasilnya? Tambahan beban subsidi Rp75-120 triliun per tahun.

Uang dari mana? Bisa dari utang baru, bisa dari pemotongan program pro-rakyat seperti PKH, Kartu Sembako, dan pembangunan infrastruktur. Pastinya: rakyat bawah nan bakal merasakan paling sakit.

Kedua: Harga Mi, Tahu, Tempe, Ayam, Telur Naik

Perang di Timur Tengah bakal meningkatkan nilai mi instan kesayangan Anda. Kenapa? Gandum Indonesia impor 100%. Kedelai impor 90% lebih. Pakan ternak (jagung, kedelai) juga impor dalam jumlah besar.

Perang mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah (Bab al-Mandeb) dan Selat Hormuz. Kapal-kapal nan biasanya lewat Suez kudu memutar lewat Tanjung Harapan (Afrika Selatan). Waktu tempuh bertambah 10-14 hari. Biaya asuransi melonjak 500-1000%. Bahan bakar kapal juga ikut mahal lantaran minyak naik.

Maka, siap-siap: Indomie lebih mahal. Tahu tempe tidak lagi jadi lauk murah. Ayam dan telur naik. Dan jika Anda pengusaha kuliner kecil, margin Anda tergerus habis.

Ketiga: Rupiah Melemah, Bayar Utang Luar Negeri Makin Berat

Ketika nilai minyak bumi naik, permintaan dolar AS untuk bayar impor minyak ikut naik. Nilai tukar Rupiah condong melemah, menjadi Rp17.000, Rp17.500, alias lebih.

Apa artinya? Harga barang-barang impor (dari ponsel hingga obat-obatan) naik. Bayar angsuran utang luar negeri (baik negara maupun swasta) membengkak dalam rupiah. Dan jika Anda berencana umrah alias liburan ke luar negeri, siapkan kantong lebih tebal.

Indonesia Harus Netral, tapi Jangan Pasif

Di tengah tekanan AS dan Israel agar "memilih sisi", posisi Indonesia kudu tegas: KAMI NETRAL. Bebas-aktif. Tidak bakal berasosiasi dalam koalisi militer mana pun. Tidak bakal menyediakan pangkalan alias overflight.

Ini bukan lantaran kita pro-Iran. Ini lantaran kepentingan nasional Indonesia adalah perdamaian, stabilitas, dan nilai daya nan terjangkau bagi rakyat.

Tapi netralitas bukan berfaedah pasif. Ada empat perihal nan HARUS dilakukan pemerintah segera:

Pertama. Aktif memediasi. Indonesia punya pengalaman, punya jaringan di OKI dan GNB. Gunakan itu untuk mendorong gencatan senjata. Jangan hanya diam.

Kedua. Lindungi WNI. 1,5 juta pekerja migran Indonesia di Arab Saudi dan 200.000 di UAE tidak boleh menjadi korban. Siapkan skenario pemindahan darurat. Jangan tunggu sampai peledak jatuh.

Ketiga. Siapkan APBN darurat. Potong shopping nan tidak prioritas. Alihkan ke subsidi tepat sasaran dan perlindungan sosial. Jangan biarkan rakyat mini menanggung beban sendirian.

Keempat. Kurangi ketergantungan. Krisis ini adalah bukti: Indonesia terlalu lemah lantaran tetap impor gandum, kedelai, minyak. Bangun ketahanan pangan dan energi. Sekarang. Bukan besok.

Penutup

Saya tidak meramal kiamat. Saya tidak mengatakan perang pasti terjadi. Tapi tanda-tanda ada di depan mata. Ketegangan naik setiap hari. Diplomasi gagal. Dialog buntu.

Dan Indonesia, sekali lagi, bakal menjadi korban bukan lantaran ada nan menembaki kita, tapi lantaran dapur ekonomi kita dirancang rapuh, tergantung pada komoditas dan jalur pelayaran nan berada ribuan kilometer dari Jakarta.

Jika tidak mau rakyat bayar mahal, ubah sekarang.

Bangun lumbung pangan. Bangun kilang minyak. Bangun kemandirian.

Dan untuk pemerintah: Jangan seret Indonesia ke bara api perang orang lain. Netralitas bebas-aktif adalah nilai mati.

Indonesia kudu menjadi garda terdepan memperjuangkan ini. Karena jika tidak kita, siapa lagi? Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan