Ilustrasi(ANTARA/Rahid Putra Laksana )
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memberikan penjelasan mengenai kondisi suhu di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) nan condong panas dan menyengat dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini dipicu oleh sejumlah aspek meteorologis nan terjadi secara bersamaan.
Kepala BMKG Yogyakarta, Dr. Mamenun, dalam keterangan tertulisnya menyebut bahwa salah satu penyebab utama adalah posisi semu matahari. Kondisi ini menyebabkan penyinaran mentari menjadi lebih optimal di wilayah-wilayah nan berada di sebelah selatan ekuator, termasuk Yogyakarta.
Selain aspek posisi matahari, minimnya tutupan awan dan intensitas hujan di atas wilayah Yogyakarta turut memperparah keadaan. "Pada periode tertentu, minimnya awan dan hujan membikin pemanasan permukaan berjalan lebih intensif. Ditambah lagi dengan kelembapan nan rendah, nan menyebabkan munculnya rasa panas nan kering," jelas Mamenun.
Ia juga menambahkan bahwa kejadian El Nino berkedudukan dalam mengurangi kesempatan hujan di DIY. Hal ini berakibat pada perpanjangan periode kering, sehingga proses pemanasan permukaan bumi menjadi jauh lebih intensif dari biasanya.
Catatan Suhu Maksimum Oktober 2026
Berdasarkan info pengamatan hingga 14 Oktober 2026, suhu maksimum di Yogyakarta tercatat naik turun namun tetap berada di nomor nan tinggi:
- 3 Oktober: Suhu tertinggi mencapai 35,2 derajat Celsius.
- 9 Oktober: Suhu sempat menurun hingga titik terendah di nomor 32,2 derajat Celsius.
- 13 Oktober: Suhu kembali meningkat hingga mencapai 34,9 derajat Celsius.
Mamenun mengungkapkan bahwa berasas catatan BMKG Yogyakarta selama 10 tahun terakhir, kejadian suhu tinggi ini memang rutin terjadi pada periode September hingga Oktober. Sebagai perbandingan, suhu tertinggi nan pernah tercatat dalam satu dasawarsa terakhir mencapai 36,8 derajat Celsius pada 12 Oktober 2024.
Imbauan untuk Masyarakat
Menyikapi kondisi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat Yogyakarta untuk melakukan langkah-langkah antisipasi guna menjaga kesehatan, di antaranya:
- Membatasi aktivitas langsung di bawah terik matahari, terutama pada siang hari.
- Mencukupi kebutuhan air putih untuk mencegah dehidrasi.
- Mengenali tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).
- Menggunakan pelindung diri seperti topi dan tabir surya (sunscreen) jika kudu beraktivitas di luar ruangan.
Info Tambahan: Data suhu ini merupakan hasil pemantauan stasiun meteorologi setempat hingga pertengahan Oktober 2026. Masyarakat diminta tetap memantau info cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·