Penjualan Beras di Cipinang Sepi-Kuli Sampai Nganggur, Pertanda Apa?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas perdagangan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, tampak lesu dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di lokasi, Selasa (24/6/2026), suasana pasar terlihat jauh lebih lengang dibandingkan biasanya.

Jika pada hari normal area PIBC dipadati truk-truk pengangkut beras nan keluar masuk untuk bongkar muat, kali ini kondisi berbeda terlihat jelas. Jalan utama di dalam kompleks pasar tampak sepi, dengan hanya beberapa kendaraan terparkir. Sejumlah gerai beras nampak dipenuhi tumpukan karung beras hingga ke bagian depan toko, namun aktivitas jual beli terlihat minim.

Di beberapa titik, para kuli panggul nan biasanya sibuk mengangkut karung beras ke truk alias kios, sekarang tampak menganggur. Bahkan ada nan terlihat beristirahat dan tertidur di sela-sela tumpukan karung beras.

Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy mengakui, kondisi perdagangan beras di pasar terbesar di Indonesia itu sedang melemah meski pasokan dari wilayah tetap normal.

"Kalau untuk penjualan beras di pasar induk saat ini, pasarnya sendiri sekarang sesuai apa nan dilihat, agak melemah. Pasarnya agak sunyi ya," kata Dedy kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di lokasi.

Menurut Dedy, lesunya pasar diduga berangkaian dengan melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, periode tahun aliran baru juga dinilai memengaruhi pola shopping konsumen.

"Pasokannya sendiri jika dari wilayah sih tetap normal ada. Hanya saja mungkin saat kondisi sekarang posisi lagi melemah, lesu penjualan. Itu bisa kemungkinan ada beberapa analisa nan kita dapatkan, lantaran ada tahun aliran baru, itu sangat berpengaruh terhadap pasar," ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Dedy, turut menekan nilai beras di tingkat perdagangan di Pasar Induk Beras Cipinang. Padahal nilai gabah di sentra produksi tetap relatif tinggi.

"Nah, jika untuk pasokan tetap normal, nilai juga condong sekarang mungkin lantaran pasar lemah jadi ikut melemah (cenderung turun) juga," ucap dia.

"Tadinya memang condong agak kenaikan ya. Tapi sekarang condong mulai melemah kembali, gitu. Melemahnya ini lantaran di sini daya belinya juga melemah. Padahal penyuplai dari wilayah sendiri nilai gabah tetap tetap tinggi," sambungnya.

Dedy mengatakan, tanda-tanda perlambatan pasar sudah terlihat sejak awal pekan. Bahkan sebagian beras nan dikirim dari wilayah tidak langsung terserap pasar dan terpaksa menginap di penyimpanan PIBC.

"Bahkan sudah beberapa hari ada juga beras dari wilayah suplai ke sini tuh untuk lakunya saja agak sulit. Mereka kudu berjuang kembali di besok harinya, jadi terpaksa kudu menginap tuh peralatan dari daerah, gitu," ungkap Dedy.

Meski demikian, stok beras di PIBC disebut tetap melimpah lantaran pasokan dari wilayah terus berdatangan. Kondisi ini justru membikin para pemasok mengeluh lantaran nilai jual di pasar induk turun, sementara nilai gabah tetap tinggi.

"Iyalah pasti rugi, lantaran nilai gabahnya kan tinggi, tawaran di sininya rendah. Misalkan mereka ada nan menjual, contoh IR 42, itu sampai menyentuh di bawah Rp15.000 per kg. Padahal, mereka tuh harusnya menerima Rp16.000 per kg. Tapi begitu masuk pasar induk sekarang itu condong melemah, di bawah Rp15.000 per kg tawarannya sekarang. Ada penurunan," ujarnya.

Dedy apalagi mengaku menerima banyak keluhan dari pedagang mengenai penurunan omzet dalam beberapa bulan terakhir.

"Rata-ratanya jika nan pernah mengeluh, pedagang kita itu ada nan mengeluh sampai menurunnya jual beli dia, ada nan sampai 70%, ada nan 40%," beber Dedy.

Keluhan serupa disampaikan pedagang beras PIBC, Zulkifli. Ia mengatakan kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding biasanya, ketika aktivitas bongkar muat dan transaksi berjalan ramai sepanjang hari.

"Kalau beras kelihatannya, dia stagnan. Intinya beras ini, gimana kita ngebayangin ya, hari Senin, Selasa, Rabu.. lihat saja kondisinya. Biasanya kan antre, sibuk keluar masuk beras, tapi sekarang lihat satu pun enggak ada orang nan lewat perdagangan," kata Zulkifli.

Menurut dia, pasokan beras dari wilayah sebenarnya tetap mengalir. Namun lemahnya permintaan membikin banyak pemasok mengaku merugi.

"Kiriman dari daerah.. jujur nih, di nan hari Senin hari Selasa semuanya orang nan ngirim beras dari wilayah ke sini, mengatakan rugi. Sebab kenapa? Di pasar harganya lagi lemah. Pasaran ini lagi lemah, ya," sebutnya.

Ia menegaskan, masalah utama saat ini bukan kesiapan stok maupun harga, melainkan daya beli masyarakat nan melemah.

"Enggak ada masalah. Enggak masalah itu stok dan harga, cuman di daya beli. Daya beli kita lemah. Itu saja," ujar dia.

Zulkifli memperkirakan penjualan beras turun sekitar 30%-40% dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

"Lebih kurang 30-40 persen penurunan ada ya, dalam 2-3 bulan ini. Sekarang kendalanya itu daya beli. Daya beli itu lemah. Orang itu enggak beli," ungkap Zulkifli.

Sementara itu, pedagang lain nan meminta namanya disamarkan menjadi Sonny, menyebut kondisi sunyi sudah berjalan sekitar sepekan terakhir.

"Sepi, lagi sunyi sekarang induk. Kayaknya ada seminggu-an ini, begini keadaannya. Biasanya kan kuli-kuli sibuk ngangkut beras ke truk, ini mana? Nggak ada kan? Kuli saya semua pada nganggur tuh," ujarnya.

Keluhan juga datang dari para kuli panggul nan pendapatannya berjuntai pada aktivitas bongkar muat beras.

"Iya, sepi. Ada peralatan masuk mah ada, hanya jauh banget (kalau dibandingkan dengan nan sebelumnya). Miris sih ya, kita kan dibayar harian, jika sunyi gini kita makan apa?" kata salah seorang kuli panggul nan enggan menyebut namanya.

Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News