Penjual Es di Jawa Buktikan Bisa Kaya Raya, Punya Harta Rp10 T

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ternyata pekerjaan penjual es pernah menjadi jalan menuju kekayaan besar di masa lalu. Fakta ini tercatat dalam sejarah, ketika banyak pedagang es sukses meraih kesuksesan dan mengumpulkan kekayaan melimpah dari upaya tersebut.

Salah satunya adalah Tasripin nan mempunyai kekayaan kekayaan triliunan. Kok bisa?

Pada 1900-an alias era kolonial, Tasripin adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Saat wafat, surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden (8 September 1919) mewartakan, hartanya tembus 45 juta gulden.

Kala itu, nilai satu liter beras hanya 6 sen. Artinya, dia bisa membeli 750 juta liter beras bermodalkan duit 45 juta gulden. Jika nilai satu liter beras hari ini sekitar Rp13 ribu, maka kekayaan Tasripin setara Rp9,7 triliun (hampir Rp10 triliun) pada masa sekarang..

Nominal kekayaan sebesar itu diperoleh dari jualan es. Pada era Tasripin hidup, es susah diperoleh karena tidak ada lemari es alias mesin pendingin. Alhasil, es menjadi primadona karena harganya dijual tinggi dan selalu laris.

Maka, siapapun nan menciptakan pabrik es bisa bikin kaya raya, termasuk Tasripin. Harian de Locomotief (25 Juli 1902) mewartakan, pabrik es Tasripin berada di wilayah Ungaran, Semarang.

Lalu, delapan tahun kemudian, dia mendirikan pabrik es lagi di Semarang tepatnya wilayah Petelan. Koran de Locomotief (5 September 1910) melaporkan, pabrik es tersebut jadi nan terbesar di sana dan dioperasikan langsung oleh laki-laki kelahiran 1834 itu.

Selain jualan es, Tasripin juga melakukan diversifikasi bisnis. Tercatat dia punya rumah penjagalan dan melakoni jual-beli kulit hewan. Kedua upaya ini membikin kekayaan kekayaannya makin bertambah.

Setiap bulan, dia memperoleh duit 30-40 ribu gulden. Tak heran, dia punya banyak rumah dan tanah di Semarang. Begitu pula pabrik esnya nan makin tersebar.

Jejak Tasripin sebagai pengusaha es kudu berhujung pada 1919 lantaran meninggal. Setelahnya, upaya es diteruskan oleh family sekalipun tak diketahui lebih lanjut jejaknya. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai orang terkaya Indonesia dari golongan pribumi, nan bermulai dari jualan es.

Banyak Raja Es Lain

Selain Tasripin, tetap ada penjual es lain nan sukses dan kaya raya. Satu era dengan Tasripin, hidup seorang penjual es di Semarang berjulukan Kwa Wan Hong. Dia memang tak sekaya Tasripin, tapi Kwa tercatat dalam sejarah sebagai raja es.

Sebab, Kwa-lah nan menciptakan industri es pertama di Indonesia. Tahun 1895, Kwa mendirikan pabrik es berjulukan Hoo Hien. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1999) menyebut, dia membikin es dengan memanfaatkan reaksi kimia, ialah campuran garam dan ammonia nan mengubah air menjadi es.

Koran de Nieuwe Vorstenlanden (17 Juli 1901) melaporkan, keberadaan pabrik es milik Kwa mengubah kebiasaan orang Indonesia mengonsumsi es. Es nan semula mahal dan susah diperoleh jadi lebih terjangkau.

Masyarakat jadi bisa menenggak minuman dingin. Berkat Kwa pula, lahir industri es krim pertama di masa kolonial. Tak diketahui pasti berapa kekayaannya, tapi nan pasti dia punya kekayaan melimpah. Sebab, punya banyak tanah, rumah, dan pabrik es di beragam daerah.

Di Magelang, ada penjual es juga berjulukan Robert Chevalier. Dia konsisten jualan es di bawah bendera NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920. Tercatat dia punya tiga pabrik es dan bisa kaya raya, sebelum akhirnya ambruk ketika Jepang datang tahun 1942.

Tasripin nan punya kekayaan Rp10 triliun, lampau raja es RI Kwa Wan Hoong dan Robert Chevalier menjadi bukti bahwa penjual es juga bisa sukses dan kaya raya. Dengan demikian, tak patut menganggap remeh orang nan menjajakan es dalam beragam olahan secara keliling. Pada dasarnya, semua pekerjaan legal itu mulia.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa silam nan tetap bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News