Pengusaha RI dan Filipina Bersatu, Siap Jadi Poros Nikel Dunia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation.

Tanda tangan MoU tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto berbareng Menteri Perdagangan dan Industri Filipina (Secretary of Trade and Industry) Hon. Maria Cristina A. Roque dan berjalan dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Cebu, Kamis (7/5/2026).

Forum upaya tingkat tinggi ini digelar bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48, serta menjadi tindak lanjut konkret dari pembahasan kerja sama ekonomi regional dalam KTT AECC ke-27 nan berjalan pada 6-7 Mei 2026.

"Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur nan menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini bakal menjadi poros persediaan dan produksi nikel nan tak terpisahkan bagi dunia," ujar Menko Airlangga dikutip dari siaran pers, Jumat (8/5/2026).

Nota Kesepahaman antara APNI dan PNIA mencakup ruang lingkup kerja sama nan berkarakter strategis dan berorientasi jangka panjang, meliputi (i) Pertukaran info dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, (ii) Pengembangan berbareng teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari side product (produk sampingan) industri pengolahan, dan (iii) Pengembangan sumber daya manusia berbareng untuk mendukung ekosistem industri nikel nan berkelanjutan.

Menko Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini mempunyai ekosistem hilirisasi nikel nan sangat masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar di 2025. Proyeksi investasi hingga USD47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030. Smelter-smelter tersebut memerlukan pasokan bijih nan stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tepat nan dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.

"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina bakal terintegrasi ke dalam rantai nilai regional nan lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan agunan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan pengarahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di area ASEAN," tambah Menko Airlangga.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menekankan bahwa nikel merupakan mineral kritis nan mempunyai peran sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan daya nasional maupun area melalui penguatan penyimpanan daya (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai untuk penyimpanan daya panel surya. Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran daya bersih dan berkelanjutan.

Untuk mempercepat hilirisasi dan memperkuat daya saing industri nikel, Pemerintah Indonesia juga terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) nan terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK dapat menjadi lokomotif bagi investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, serta pusat penemuan teknologi hilirisasi nan berstandar internasional.

(ras/mij)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News