Pengusaha Plastik Curhat Kena Hantam dari Berbagai Penjuru

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri plastik nasional tidak hanya menghadapi lonjakan nilai bahan baku, tetapi juga tekanan besar dari sisi logistik dan biaya pengiriman. Kenaikan ini menjadi beban tambahan nan memperparah kondisi industri di tengah krisis global.

Dalam situasi normal, rantai pasok bahan baku relatif stabil. Namun gangguan geopolitik membikin jalur pengedaran berubah drastis, memaksa pelaku industri mencari sumber pengganti nan lebih jauh.

Perubahan rute ini berakibat langsung pada biaya logistik nan meningkat tajam. Waktu pengiriman nan lebih lama juga menambah kompleksitas dalam pengelolaan produksi. Selain itu, aspek akibat pengiriman turut memicu kenaikan biaya asuransi nan signifikan.

"Yang pertama adalah masalah asuransi. Jadi asuransi bahan baku nan kita beli ini naik sangat tinggi. Kemudian selain itu ada juga surcharge selama perang nan bisa mencapai 150 sampai 200 dolar," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso dalam obrolan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Lonjakan biaya ini menjadi salah satu tekanan terbesar bagi industri saat ini. Tidak hanya itu, perubahan sumber pasokan dari Timur Tengah ke wilayah lain seperti Amerika alias Afrika membikin jarak tempuh pengiriman meningkat drastis.

Akibatnya, biaya logistik bisa melonjak hingga beberapa kali lipat dibanding kondisi normal. Kondisi ini membikin biaya operasional meningkat secara signifikan di sisi hulu industri.

"Kalau dulu kita beli dari Timur Tengah hanya 15 hari, sekarang bisa 50 hari. Artinya biaya logistik naik nyaris tiga kali lipat," kata Suhat.

Tekanan biaya ini tidak bisa sepenuhnya dialihkan ke konsumen lantaran keterbatasan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, industri tetap kudu menjaga produksi agar tidak terhenti, sehingga sebagian besar biaya tambahan kudu ditanggung sendiri.

Wakil Ketua Inaplas Edi Rivai menambahkan, kenaikan biaya terjadi nyaris di seluruh lini, mulai dari bahan baku hingga operasional.

"Kenaikan nilai ini nyaris linear dengan crude oil, sekitar 80 sampai 120 persen. Ditambah lagi biaya pendukung seperti logistik dan daya juga ikut naik," jelasnya.

Kondisi ini membikin margin industri semakin tertekan, terutama bagi pelaku upaya nan tidak mempunyai elastisitas dalam penentuan harga.

Di tengah tekanan tersebut, industri berambisi ada intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas biaya logistik dan distribusi.

"Kalau biaya logistik ini tidak dijaga, tentu bakal sangat membebani industri. Karena pengedaran adalah bagian krusial dari rantai produksi," tegas Edi.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News