Pengusaha Mulai Naikkan Harga Barang Imbas Rupiah Anjlok ke Rp17.600 per Dolar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pengusaha Mulai Naikkan Harga Barang Imbas Rupiah Anjlok ke Rp17.600 per Dolar AS

Pengusaha Mulai Naikkan Harga Barang Imbas Rupiah Anjlok ke Rp17.600 per Dolar AS (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin, Erwin Aksa mengatakan, sejumlah pengusaha mulai meningkatkan nilai jual peralatan imbas pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS nan menyentuh Rp17.600 per dolar AS dan bentrok geopolitik di Timur Tengah.

Erwin mengatakan, kedua tekanan tersebut ikut memberikan andil nan tidak mini terhadap biaya produksi, cash flow, hingga margin perusahaan. Kondisi tersebut utamanya terjadi bagi industri-industri nan mempunyai ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, komponen, mesin, maupun pembayaran tanggungjawab dalam dolar AS.

"Dalam kondisi seperti ini, sebagian pelaku upaya mulai melakukan penyesuaian nilai jual secara berjenjang untuk menjaga keberlangsungan usaha," ujarnya saat dihubungi Okezone, Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Namun demikian, Erwin menyebut bahwa ruang untuk meningkatkan nilai juga tidak terlalu besar. Sebab pengusaha juga menimbang aspek daya beli masyarakat nan saat ini juga mengalami tekanan.

Dia menyebut beberapa sektor upaya nan terkena pukulan akibat paling dalam dari pelemahan nilai tukar dan ketegangan geopolitik hari ini adalah sektor manufaktur, makanan minuman, farmasi, tekstil, elektronik, otomotif, dan industri lain nan rantai pasoknya tetap berjuntai pada impor.

"Namun ruang untuk meningkatkan nilai juga tidak besar lantaran daya beli masyarakat tetap menjadi perhatian. Karena itu banyak perusahaan saat ini lebih konsentrasi melakukan efisiensi operasional, menekan biaya non-prioritas, melakukan hedging, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal untuk mengurangi tekanan kurs," lanjut Erwin.

Erwin menambahkan, support pemerintah menjadi sangat krusial untuk melindungi bumi upaya dan tetap menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Sebab ketika ada dua tekanan sekaligus, maka akibat terdekat nan diambil para pengusaha adalah menunda ekspansi. Kondisi ini membikin pembuatan lapangan kerja menjadi lebih rendah.

"Dukungan pemerintah menjadi sangat penting. Dunia upaya memerlukan stabilitas nilai tukar, kepastian regulasi, kemudahan perizinan, insentif untuk industri ekspor dan padat karya, biaya daya dan logistik nan kompetitif, dan akses pembiayaan nan tetap terjangkau," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com