Pengamat UI: MoU AS-Iran Berpotensi Redakan Ketegangan, Israel Jadi Pihak yang Tersisih

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 MoU AS-Iran Berpotensi Redakan Ketegangan, Israel Jadi Pihak nan Tersisih PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dan Presiden AS Donald Trump (kiri)(AFP)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) nan menjadi landasan bagi kedua negara untuk melanjutkan proses diplomasi dan pembahasan beragam rumor strategis nan selama ini menjadi sumber ketegangan.

Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia (UI), Suzie Sudarman menilai kesepakatan tersebut berpotensi meredakan bentrok nan selama ini membayangi area Timur Tengah. Menurutnya, perhatian utama saat ini tertuju pada kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz nan menjadi jalur vital perdagangan daya dunia.

"Iya jelas semua menunggu dibukanya Selat Hormuz. Israel sudah ditinggal Presiden Trump dan tidak bisa melangkah sendiri tanpa Trump," kata Suzie dihubungi Media Indonesia, Kamis (18/6).

Ia menilai Iran memperoleh kepentingan nan selama ini diinginkannya melalui kesepakatan tersebut. Di sisi lain, kedua negara juga mempunyai ruang untuk mengeklaim keberhasilan diplomatik masing-masing. "Iran memperoleh apa nan dibutuhkannya dua negara bisa mendeklarasikan kemenangan," ujarnya.

Mengenai pihak nan paling diuntungkan dan dirugikan dari MoU tersebut, baik dari sisi geopolitik, keamanan regional, maupun kepentingan ekonomi global, Suzie menilai AS dan Iran sama-sama mendapatkan manfaat. "Sementara baik AS maupun Iran memperoleh apa nan diinginkan. Israel nan tercampakkan," ucapnya.

Menurut Suzie, posisi Israel menjadi nan paling terdampak dari kesepakatan tersebut lantaran berpotensi kehilangan support penuh nan sebelumnya diberikan Washington dalam menghadapi Iran.

Terkait keberlangsungan MoU di masa mendatang, termasuk jika terjadi pergantian kepemimpinan politik di AS maupun Iran, Suzie menilai kesempatan kesepakatan itu untuk tetap memperkuat cukup besar. Ia menegaskan bahwa nota kesepahaman merupakan instrumen diplomatik nan umum digunakan dalam hubungan internasional.

"MoU banyak dibuat sekalipun tidak jadi bentuk dalam kesepakatan tetapi kondusif lantaran AS Lebih cemas bakal tindakan Iran dibandingkan Iran takut bakal AS," ujarnya.

Menurutnya, aspek kepentingan strategis kedua negara bakal menjadi salah satu penentu utama dalam menjaga keberlangsungan komunikasi dan diplomasi nan telah dibangun melalui MoU tersebut. (Fer/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia