Pengabdian Iptu Bastian Tuhuteru Jadi Pendidik Masyarakat Adat Buru Selatan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Kapolsek Leksula Iptu Bastian Tuhuteru mengabdikan diri untuk mencerdaskan masyarakat budaya di pelosok Kabupaten Buru Selatan, Maluku. Hal itu membikin Iptu Bastian diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2026.

Pengusulnya adalah Marlan S Lahallo, penduduk Desa Kamlanglale, Kecamatan Namrole, Buru Selatan. Marlan mengaku sudah mengenal Iptu Bastian sejak 2016. Menurutnya, Iptu Bastian sosok polisi nan teladan. Berikut testimoninya:

Iptu Bastian Tuhuteru adalah sosok polisi nan patut diteladani. Saya mengenal beliau sejak bekerja di tahun 2016, beliau dalam masa tugas selalu responsif dengan siapapun dan menjadi pelopor pendidikan bagi anak-anak di organisasi budaya di dusun Walafau. Di beberapa tempat tugas pun beliau pernah mempelopori berdirinya sekolah untuk saudara-saudara organisasi budaya (Kecamatan Waesama). Bukan saja belajar mengenal huruf, membaca, menulis hingga berbilang nan beliau lakukan. Selain peran sebagai guru, sebagai master pun beliau lakoni. Banyak perihal tentang hidup sehat nan beliau ajarkan bagi saudara-saudara kami di organisasi adat. Sosok personil Polri seperti ini sangat susah ditemukan, dari kacamata kami beliau layak menjadi teladan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian detikcom menghubungi Marlan. Dia mengenal Iptu Bastian saat dirinya bekerja di Kecamatan Leksula, wilayah norma tempat Iptu Bastian bertugas.

"Jadi memang awalnya tidak dikenal, tapi waktu kita kenal beliau (Iptu Bastian) itu lantaran gebrakan-gebrakan. Waktu itu beliau pernah jadi bhabinkamtibmas salah satu dusun nan bisa dibilang warganya belum tahu baca belum tahu tulis, tetap kental sama adatnya, tetap bicara juga tetap bicara bahasa budaya itu, bukan bahasa Indonesia. Nah dari style beliau beradaptasi dengan masyarakat di sana itu rupanya nyambung," kata Marlan kepada detikcom, Rabu (11/3/2026).

Marlan menyebut Iptu Bastian melakukan pendekatan terhadap masyarakat budaya di pelosok Buru Selatan itu lewat mengajar dan melatih anak-anak setempat agar pandai dan hidup sehat. Dia pun kagum dengan kiprah Iptu Bastian tersebut.

"Kita juga termasuk kaget lantaran ada sosok nan bisa membikin masyarakat di sana nan awalnya tidak bisa baca, tidak bisa menulis dan mengenal huruf itu, rupanya sudah bisa dan mereka itu sudah bisa masuk sekolah ke kota. Artinya sudah bisa bersaing masuk ke kota lantaran istilahnya sudah tidak terbelakang lagi," ucapnya.

Tak berakhir hanya mengajari dan melatih anak-anak agar bisa membaca dan menulis, Iptu Bastian juga disebut memperjuangkan bakal adanya pembangunan sekolah dasar (SD) di desa binaannya. Perjuangan tidak sia-sia, kemauan Iptu Bastian agar dibangun SD di desa binaannya didukung pemda setempat.

"Di sana itu nan paling mereka butuhkan itu, ya sekolah. Karena kapasitasnya waktu itu, beliau bisa koordinasi sama pemda juga support beliau untuk bangun sekolah, buku-buku," ujar Marlin.

"Beliau memang memberi pemahaman untuk mereka, akhirnya mereka juga mengerti bahwa tidak selamanya hidup itu kudu di situ saja, kudu berkembang. Jadi, mau tidak mau ya kudu bersaing agar bisa beradaptasi dengan perkembangan dan pembangunan nan nantinya masuk di kita," tambahnya.

Pujian Marlin tak berhenti, lantaran sikap-sifat dan tindakan sosial Iptu Bastian tak pernah berubah sejak menjabat Bhabinkamtibmas hingga saat ini menjadi Kapolsek Leksula. Menurut Marlin, selalu ada saja gebrakan Iptu Bastian.

"Jadi, dia punya mungkin hidupnya begitu ya, orangnya tidak bisa lihat nan kurang maju-maju, maunya maju-maju terus," imbuhnya.

Cerita Iptu Bastian

Iptu Bastian Tuhuteru merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Dia menceritakan jalan terjalnya sebagai polisi dan mengabdi sebagai pendidik bagi masyarakat budaya di pelosok Buru Selatan, Provinsi Maluku.

Kisah pengabdian Iptu Bastian dalam mencerdaskan masyarakat di Buru Selatan dimulai saat dirinya bekerja sebagai bhabinkamtibmas pada 2016. Wilayah binaannya mencakup Dusun Walafau, salah satu wilayah nan tetap tertinggal.

Di sana banyak masyarakat budaya di pelosok Buru Selatan nan belum tersentuh pendidikan. Anak-anak biasanya pergi bertani dan berburu berbareng orang tua mereka.

"Di situ tergerak hati kami memandang anak-anak nan belum sekolah, kemudian kami mulai terpanggil untuk mulai mengajarkan mereka," kata Iptu Bastian kepada detikcom, Kamis (11/9/2025).

Bastian saat itu tetap berkedudukan Bripka. Dia terpanggil untuk mengajar anak-anak di Dusun Walafau meski kudu menempuh medan nan susah kadang kudu menyeberangi sungai.

Namun semua itu tak menyurutkan semangat Iptu Bastian untuk membantu mencerdaskan masyarakat budaya di pedalaman. Dia awalnya mengajar anak-anak di sebuah tenda sederhana.

Setelah beberapa bulan, tempat belajar pindah lantaran tenda kadang bocor. Iptu Bastian kemudian berkoordinasi dengan salah satu kepala budaya di sana untuk meminjam tempat.

Setelah berjuang selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya pada 2019 pemerintah berbareng masyarakat membangun sekolah dasar negeri. Iptu Bastian berterima kasih lantaran perjuangannya itu membuahkan hasil.

"Kami juga nyaris 3 tahun mengajar di situ. Dan 2018, masuk 2019, lewat pengorbanan kami itu ditetapkan SD negeri," ujar dia.

Perjalanan selama tiga tahun itu terbilang tidak mudah. Awalnya Iptu Bastian kudu meyakinkan para orang tua budaya di sana bahwa dirinya memang mau mengajar anak-anak.

"Jadi kami datang, saya langsung tunjukkan bahwa kami polisi merah putih, tidak ada kepentingan apa-apa. Saya mengikuti orang tua mereka, kepala budaya mereka, bahwa jika bapak ibu tidak buka hati mini menerima kami mengajarkan anak-anak bapak ibu, berfaedah bapak ibu bakal tertinggal jauh lantaran ini perkembangan budaya, perkembangan kemajuan negara ini sudah berkembang," ujar Iptu Bastian.

"Kemudian mereka berpikir jangan sampai kita membawa misi lain. Misalnya membawa misi kepercayaan tau membawa misi lain, makanya saya mengajar itu diintip oleh orang tua mereka," sambung dia.

Iptu Bastian mengajarkan anak-anak tentang baca tulis hitung (calistung) hingga membina anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Saat datang mengajar, Iptu Bastian pun biasa membawa makanan untuk menarik minat anak-anak itu.

"Lewat pengorbanan itu, membuahkan hasil. Anak-anak sudah bisa membaca dan pemerintah membantu pendidikan sekolah nan permanen di dusun itu," ujar dia.

Atas dedikasinya itu, Bastian diberikan tiket sekolah perwira nan kemudian mengantarkannya menjadi Kapolsek Waesama. Pengabdiannya di sektor pendidikan dia lanjutkan saat menjadi pimpinan.

Dia memerintahkan bhabinkamtibmas untuk mengajar dan menjangkau daerah-daerah pedalaman. Dia mengusung nama Baperdewa alias Bhabinkamtibmas Peduli Pendidikan Waesama. Nama itu sama dengan nama program dia saat menjadi Bhabinkamtibmas, namun berbeda di nama akhir daerahnya.

"Di situ kami juga mengajar, ada sekitar dua kampung kami menjangkau masyarakat nan belum terjamah pendidikan di wilayah nan menjadi wilayah tugas kami sebagai kapolsek," ujar dia.

Selain itu, Bastian juga mengusung Siri Pinang sebagai program untuk mengatasi bentrok di masyarakat dengan pendekatan kultural. Program itu, menurut dia, sukses menangani sejumlah persoalan masyarakat.

Selanjutnya, Bastian mendapatkan tugas baru menjadi Kapolsek di Leksula. Dia tetap mengedepankan pendekatan kultural dalam menangani bentrok dan menjaga kamtibmas.

Atas dedikasinya, Bastian pernah mendapatkan penghargaan dari Kapolri dua kali ialah penghargaan ranking 1 polisi teladan tingkat nasional tahun 2019 dan penghargaan polisi pengajar tahun 20019. Selain itu, penghargaan juga diterimanya dari Kapolda Maluku hingga Kapolres Buru Selatan.

(fas/knv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News