Pendeta Gugat OpenAI, Klaim Saran Medis ChatGPT Keliru dan Ia Hampir Meninggal

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Ilustrasi OpenAI ChatGPT. Foto: subh_naskar/Shutterstock

Seorang pendeta asal Florida, AS, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman. Ia mengeklaim saran medis nan keliru dari ChatGPT membuatnya menunda mencari pertolongan hingga mengalami emboli paru nan nyaris merenggut nyawanya.

Pria berjulukan Scott Winters mengusulkan gugatan tersebut ke pengadilan negara bagian California di San Francisco pada 22 Juli 2026. Gugatan itu berangkaian dengan jawaban GPT-4o, model AI lama nan sekarang telah dihentikan OpenAI.

Menurut arsip gugatan, Winters menggunakan ChatGPT untuk berkonsultasi mengenai keluhan pusing berulang pada tahun lalu. Chatbot tersebut disebut menyarankannya membatasi aktivitas bentuk dan tetap berada di rumah.

Winters kemudian menanyakan rasa nyeri jika ditekan di bagian selangkangan. ChatGPT menjawab kondisi tersebut kemungkinan bukan sesuatu nan berbahaya.

Sehari setelah menanyakan keluhan itu, Winters kudu menjalani perawatan di rumah sakit. Rasa nyeri tersebut diduga menjadi tanda adanya pembekuan darah nan berangkaian dengan emboli paru. Dokter menyebut kondisi itu kemungkinan dipicu oleh kurangnya pergerakan, sebagaimana tercantum dalam gugatan.

Emboli paru terjadi ketika pembuluh darah di paru-paru tersumbat, umumnya oleh gumpalan darah. Kondisi tersebut dapat menakut-nakuti nyawa.

Dalam beberapa bulan sebelum emboli terjadi, Winters kerap membagikan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan medisnya kepada ChatGPT. Chatbot kemudian memberikan rencana perawatan holistik dan menggunakan bahasa bernuansa pelayanan Kristen untuk mempertahankan keterlibatan pengguna.

"Bahkan ini dalam pengawasan Tuhan," kata ChatGPT kepada Winters, menurut arsip gugatan, mengutip Reuters.

Ilustrasi ChatGPT. Foto: Aditya Panji/kumparan

Pada awal percakapan, chatbot tetap menyarankan Winters berkonsultasi dengan tenaga medis. Namun, peringatan tersebut disebut tidak lagi muncul dalam respons berikutnya.

Gugatan juga mengeklaim ChatGPT tetap menyarankan Winters tinggal di rumah setelah dia keluar dari rumah sakit. Chatbot apalagi disebut mendorongnya menghindari program rehabilitasi nan telah direkomendasikan dokter.

OpenAI: ChatGPT Bukan Dokter

Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan percaya percakapan berbasis AI dapat membantu jasa kesehatan. Namun, ChatGPT bukan master dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti jasa medis.

"Memperlakukan chatbot sebagai satu-satunya penyebab di kembali keputusan alias hasil medis seseorang terlalu menyederhanakan tantangan nan jauh lebih besar," ujar Pusateri.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga berisiko menghalang masyarakat mengakses perangkat baru nan dapat membantu perjalanan kesehatan mereka.

Winters meminta tukar rugi dan meminta pengadilan agar OpenAI mengambil langkah menyetop percakapan ketika pengguna memerlukan pertolongan medis segera.

Ia juga meminta pengadilan menunda peluncuran ChatGPT 4o Health sampai pihak ketiga menyelesaikan audit keamanan. Produk kesehatan tersebut memungkinkan pengguna mengunggah rekam medis dan menerima saran kesehatan nan dipersonalisasi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan