Liputan6.com, Jakarta - Presiden Kelima Republik Indonesia nan juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan apresiasi mengenai pencabutan Ketetapan (TAP) MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 nan dulu melucuti kekuasaan presiden Soekarno alias Bung Karno.
Hal itu disampaikan Megawati saat memberikan sambutan pembukaan pameran seni rupa berjudul Mata Hati Soekarno yang digelar di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).
Megawati menggambarkan, gimana beratnya beban sejarah nan kudu dipikul oleh family selama puluhan tahun akibat ketetapan norma masa lampau tersebut nan dinilai tidak mempunyai kejelasan pembuktian secara yudisial. Bahkan, dia mengaku sampai geleng-geleng kepala memandang isi TAP nan diberi cap oleh MPRS itu.
Bagi Megawati, pencabutan resmi TAP MPRS merupakan akhir dari penantian panjang nan melelahkan selama lebih dari separuh abad tanpa adanya proses pembuktian norma nan adil. Sebab, selama 56 tahun, status norma Bung Karno dibiarkan menggantung tanpa pernah diuji di pengadilan untuk membuktikan bersalah alias tidaknya sang Proklamator.
"Bayangkan, 56 tahun lho saya nunggunya, ndak pernah diproses untuk apakah beliau punya balasan alias tidak. Tidak. Lha rakyatnya masa sih enggak ingat sama beliau, kebangetan," ujar Megawati.
Ia juga mengingatkan kembali, pengorbanan luar biasa Bung Karno nan kudu mendekam di penjara dan dibuang di pengasingan kolonial selama total 22 tahun demi memerdekakan bangsa Indonesia.
Sebagai informasi, pameran nan digelar unik untuk memperingati 125 tahun hari lahir Sang Proklamator ini menghadirkan karya-karya terbaik dari 47 perupa lintas generasi nan mencoba menafsirkan kembali sejarah hidup serta pemikiran Bung Karno.
Dalam aktivitas pembukaan dan peresmian tersebut, sejumlah tokoh nasional dan wilayah tampak datang mendampingi Megawati.
Di antaranya, Permaisuri Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.
Pameran Mata Hati Soekarno ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi berbareng bagi masyarakat luas agar tidak sekadar memandang Bung Karno sebagai tokoh masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi kebudayaan nan apinya kudu tetap menyala di dada generasi muda Indonesia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·