Dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta mengejutkan puluhan orang tua nan menitipkan buah hati mereka di tempat penitipan nan berlokasi di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta itu. Setelah ramai-ramai mendatangi Polresta Yogyakarta pada Sabtu (25/4), para orang tua sekarang menghadapi pertanyaan nan tidak mudah dijawab: gimana mengetahui apa nan sesungguhnya dialami anak, ketika anak itu sendiri belum bisa mengatakannya?
Ketua Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, mengatakan bahwa ketidakmampuan anak mengungkapkan pengalaman traumatis lewat kata-kata bukan berfaedah tidak ada tanda nan bisa dibaca. Orang tua, menurutnya, perlu belajar mengenali bahasa lain nan dipakai tubuh dan perilaku anak.
Menurut Andhita, salah satu tanda nan paling sering muncul adalah regresi, ialah kemunduran keahlian nan sebelumnya sudah dikuasai anak.
"Misalnya anak nan sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, alias nan sebelumnya lancar berbincang menjadi kesulitan berkomunikasi," kata Andhita, Kamis (30/4).
Selain itu, gangguan tidur seperti mimpi buruk, teriak saat tidur, hingga kesulitan beristirahat juga patut diwaspadai. Begitu pula perilaku menarik diri, agresi, alias pengulangan tema kekerasan dalam permainan. Reaksi ketakutan berlebihan saat berpisah dengan orang tua alias pengasuh terdekat di rumah juga menjadi parameter penting.
"Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional," tegas Andhita.
Namun, meski anak tak menunjukkan indikasi trauma, orang tua bisa tetap membantu proses pemulihan anak. Andhita menganjurkan pendekatan melalui media ekspresi non-verbal. Bukan dengan mengusulkan pertanyaan langsung, melainkan dengan membujuk anak menggambar, bermain peran dengan boneka, alias bercerita lewat permainan.
"Anak-anak belum tentu bisa mengungkapkan emosi dengan kata-kata, jadi kita bantu lewat langkah lain. Dari gambar, misalnya, kita bisa memandang indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap alias merah nan dominan," jelasnya.
Di sinilah respons orang tua menjadi krusial. Andhita mengingatkan agar orang tua memvalidasi emosi anak alih-alih meremehkannya, karena perihal itu justru bisa memperburuk keadaan.
"Jangan bilang 'jangan lebay' alias 'tidak apa-apa'. Sebaliknya, akui emosi anak, misalnya dengan mengatakan 'kamu takut ya, tidak nyaman ya, tidak apa-apa, ada ibu di sini'. Jadi pola pikir orang tua digeser, bukan kenapa anak ini jadi susah diatur, rewel, tapi menjadi apa nan sudah terjadi pada anak ini, kok begini," ujarnya.
Kehadiran bentuk pun tidak kalah penting. Pelukan, usapan, dan kehangatan orang tua bekerja lebih dalam dari nan terlihat. Dalam teori kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur nan memberikan rasa kondusif menjadi kunci izin emosi anak.
Sementara itu, untuk membantu anak keluar dari rasa tidak berkekuatan akibat pengalaman kekerasan, Andhita menyarankan hal-hal sederhana seperti meminta anak memilih busana alias makanan nan diinginkannya sebagai langkah memulihkan kepercayaan diri mereka.
Dampak nan ditimbulkan memang tidak selalu langsung terlihat. Dalam jangka pendek, perubahan perilaku dan emosi menjadi indikasi nan paling tampak. Namun, Andhita mengingatkan bahwa akibat jangka panjang bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam corak gangguan psikologis.
"Trauma itu bukan tentang melupakan kejadian, tapi gimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa nan terjadi dulu itu tidak benar, dan nan betul adalah perlakuan kondusif nan dia terima sekarang," jelasnya.
Proses ini tidak bisa instan. Dan di tengah panjangnya jalan pemulihan anak, Andhita mengingatkan bahwa orang tua pun perlu dijaga kondisi mentalnya. UNISA Yogyakarta membuka jasa pendampingan tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua nan menanggung tekanan mental, rasa bersalah, hingga stres akibat kejadian ini.
"Kita tidak perlu saling menyalahkan. Orang tua juga butuh ruang aman. Jika mental mereka sudah jatuh, bakal susah mendampingi anak. Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri, tapi gimana orang tua pulih dan siap mendampingi anak agar bisa kembali percaya diri dan merasa berdaya," pungkasnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·