Pemimpin yang Menghidupi: Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: Shutterstock

Pada suatu hari di sebuah sekolah nan sedang menghadapi banyak persoalan, seorang kepala sekolah baru datang dengan semangat perubahan. Sekolah itu dikenal keras: patokan ditegakkan dengan hukuman, kesalahan dibalas dengan teguran keras, dan hubungan antara pembimbing serta siswa terasa kaku dan penuh jarak. Banyak nan patuh, tetapi sedikit nan betul-betul tumbuh. Di kembali ketertiban nan tampak, tersembunyi kegelisahan dan ketakutan.

Suatu pagi, seorang siswa tertangkap melanggar patokan berat. Guru-guru menunggu keputusan kepala sekolah baru itu. Sebagian berambisi balasan tegas sebagai contoh, sebagian lain tak bersuara lantaran sudah terbiasa dengan pola lama. Namun nan terjadi justru di luar dugaan. Kepala sekolah itu tidak langsung menjatuhkan sanksi. Ia memanggil siswa tersebut, duduk berhadapan, dan mengajaknya berbincang dari hati ke hati dengan semangat cura personalis. Ia bertanya, bukan menghakimi. Ia mendengar, bukan sekadar memberi nasihat.

Ilustrasi pemimpin nan menerapkan semangat cura personalis. Foto: Pexels

Percakapan itu berjalan lama. Di sana terungkap bahwa pelanggaran nan dilakukan bukan sekadar kenakalan, melainkan juga gambaran dari masalah nan lebih dalam: tekanan keluarga, rasa tidak diperhatikan, dan kebutuhan bakal pengakuan. Kepala sekolah itu tetap memberikan konsekuensi, tetapi bukan dalam corak balasan nan mempermalukan. Ia membujuk siswa itu bertanggung jawab, sekaligus memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Perlahan, perubahan mulai terasa. Guru-guru memandang pendekatan nan berbeda: tegas, tapi manusiawi. Siswa-siswa mulai berani terbuka. Disiplin tetap ada, tetapi tidak lagi menakutkan. Lingkungan sekolah berubah menjadi lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bermakna. Dari situlah para pembimbing mulai memahami bahwa pemimpin baru mereka sedang menghidupi sebuah falsafah lama nan sering didengar, tetapi jarang betul-betul dipraktikkan: Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti.

Falsafah ini mengandung makna nan sangat dalam. “Suro diro joyo jayadiningrat” melambangkan kekuatan, keberanian, dan potensi besar nan dimiliki manusia—termasuk pemimpin. Namun bagian kedua—“lebur dening pangastuti”—menjadi penyeimbang sekaligus pengingat bahwa segala corak kekuatan nan keras, termasuk kemarahan dan angkara murka, pada akhirnya hanya bisa dilunakkan oleh kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Inilah inti kepemimpinan nan sering terlupakan: bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada keahlian menekan, tetapi pada keahlian merangkul.

Ilustrasi pemimpin. Foto: Shutterstock

Dalam banyak konteks, pemimpin sering terjebak dalam paradigma lama: bahwa untuk dihormati, dia kudu ditakuti; untuk ditaati, dia kudu keras. Padahal, ketakutan hanya melahirkan kepatuhan semu. Orang mungkin mengikuti perintah, tetapi tanpa hati. Mereka bekerja sekadar untuk menghindari hukuman, bukan untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan seperti ini rapuh—ia berdiri di atas tekanan, bukan kepercayaan.

Sebaliknya, falsafah “Lebur Dening Pangastuti” mengajarkan bahwa pendekatan nan lembut justru mempunyai daya ubah nan lebih kuat. Kelembutan di sini bukan berfaedah kelemahan, melainkan corak kedewasaan. Pemimpin nan bisa bersikap lembut adalah mereka nan telah menaklukkan egonya sendiri. Ia tidak mudah terpancing emosi, tidak reaktif terhadap kesalahan, dan tidak merasa perlu menunjukkan kekuasaan secara berlebihan. Ia tahu kapan kudu tegas, tetapi juga tahu gimana menyampaikan ketegasan itu tanpa melukai.

Dalam bumi pendidikan, nilai ini menjadi sangat relevan. Guru dan pemimpin sekolah bukan hanya pengelola sistem, melainkan juga pembentuk manusia. Anak didik tidak hanya memerlukan aturan, tetapi juga pemahaman. Mereka tidak hanya belajar dari apa nan diajarkan, tetapi juga dari gimana mereka diperlakukan. Ketika seorang pemimpin mengedepankan kasih sayang dan kebijaksanaan, dia sedang menciptakan ruang kondusif bagi pertumbuhan. Di sanalah karakter dibentuk, bukan lantaran paksaan, melainkan lantaran kesadaran.

Ilustrasi pemimpin. Foto: Shutterstock

Lebih jauh lagi, falsafah ini membujuk pemimpin untuk memandang bentrok dari perspektif pandang nan lebih dalam. Tidak semua kesalahan kudu dilawan dengan konfrontasi. Tidak semua pelanggaran kudu dibalas dengan balasan keras. Kadang, nan dibutuhkan adalah empati—kemampuan untuk memahami latar belakang seseorang sebelum mengambil keputusan. Pemimpin nan bijak tidak hanya menyelesaikan masalah di permukaan, tetapi juga berupaya menyentuh akar persoalan.

Namun demikian, krusial untuk menegaskan bahwa kelembutan bukanlah permisivitas. Pemimpin tetap kudu mempunyai pemisah nan jelas, nilai nan kuat, dan keberanian untuk mengambil keputusan sulit. Kelembutan tanpa prinsip bakal berubah menjadi kelemahan, sementara ketegasan tanpa kasih bakal berubah menjadi kekerasan. Di sinilah seni kepemimpinan diuji: gimana memadukan keduanya dalam harmoni.

Di tengah bumi nan semakin kompetitif dan keras, falsafah Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti menjadi semakin relevan. Banyak organisasi runtuh bukan lantaran kurangnya kekuatan, melainkan lantaran hilangnya kebijaksanaan. Banyak bentrok berkepanjangan bukan lantaran tidak ada solusi, melainkan lantaran pendekatan nan digunakan terlalu keras dan tidak manusiawi. Dunia memerlukan pemimpin nan tidak hanya kuat dalam tindakan, tetapi juga lembut dalam hati.

Kunci sebagai ilustrasi solusi, seorang pemimpin kudu tau "kunci" mana nan cocok untuk membuka (menyelesaikan masalah). Foto: Pexels

Kembali pada kisah kepala sekolah tadi, perubahan nan dia bawa bukanlah hasil dari kebijakan besar alias strategi nan rumit. Perubahan itu lahir dari langkah dia memperlakukan manusia. Ia memahami bahwa setiap perseorangan mempunyai nilai dan potensi. Ia memilih untuk membangun, bukan menghancurkan. Ia memimpin bukan dengan rasa takut, melainkan dengan rasa percaya.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan nan dimiliki, melainkan seberapa dalam pengaruh nan ditinggalkan. Kekuatan nan memaksa mungkin bisa mengubah perilaku sesaat, tetapi hanya kasih sayang dan kebijaksanaan nan bisa mengubah hati. Dan ketika hati telah berubah, perubahan itu bakal memperkuat lebih lama, apalagi melampaui kehadiran seorang pemimpin itu sendiri.

Itulah makna terdalam dari falsafah tersebut: bahwa segala corak kekerasan, kesombongan, dan kejahatan pada akhirnya bakal luluh oleh pangastuti—oleh kelembutan nan tulus, oleh kasih nan tanpa pamrih, dan oleh kebijaksanaan nan lahir dari hati nan jernih. Seorang pemimpin nan bisa menghidupi nilai ini tidak hanya bakal sukses memimpin, tetapi juga bakal meninggalkan jejak kemanusiaan nan abadi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan