Pembayaran Digital kian Mendominasi Transaksi Harian Masyarakat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pembayaran Digital kian Mendominasi Transaksi Harian Masyarakat Ilustrasi(Dok OVO)

PEMBAYARAN digital semakin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Jika beberapa tahun lampau transaksi nontunai lebih banyak dimanfaatkan untuk shopping online, sekarang pengguna semakin sering menggunakannya untuk memenuhi beragam kebutuhan rutin di merchant fisik, mulai dari membeli makanan dan minuman, bayar transportasi, hingga berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Perubahan pola tersebut tercermin dari info OVO nan menunjukkan total transaksi di platformnya meningkat 77 persen dibandingkan 2021. Selain itu, ratusan ribu pengguna memanfaatkan OVO untuk bertransaksi setiap hari, mencerminkan semakin terintegrasinya pembayaran digital dalam aktivitas harian masyarakat.

OVO juga mencatat adanya pergeseran perilaku pengguna dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, sekitar 68% transaksi berasal dari merchant online. Namun, pada 2025, kebanyakan transaksi justru berasal dari merchant offline dengan porsi mencapai 69%, seiring semakin luasnya mengambil QRIS dan pembayaran digital di beragam sektor usaha.

Temuan tersebut menunjukkan pembayaran digital tidak lagi hanya digunakan untuk transaksi daring, tetapi telah menjadi pilihan utama dalam beragam aktivitas nan dilakukan secara langsung di merchant fisik.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kategori makanan dan minuman (F&B) menjadi penyumbang terbesar transaksi OVO di merchant offline dengan kontribusi sekitar 36,7% dari total transaksi pada Mei 2026. Menariknya, transaksi tersebut didominasi pembelian berbobot mini nan dilakukan secara rutin, seperti pentol, paket nasi ayam, crepes, es krim, hingga kopi.

Selain untuk kebutuhan makanan dan minuman, pembayaran digital juga banyak dimanfaatkan untuk bayar tagihan dan utilitas, layanan, ritel, hingga memenuhi kebutuhan pokok.

Di kembali kemudahan tersebut, OVO menilai masyarakat juga perlu semakin sadar terhadap pola pengeluaran sehari-hari. Transaksi nan berjalan sigap dan praktis dapat membikin pengeluaran mini terasa ringan ketika dilakukan, padahal nilainya dapat terakumulasi menjadi cukup besar jika tidak dipantau secara berkala.

Untuk itu, OVO menggelar OVOFinTalk, sesi obrolan dan lokakarya finansial bertema “Bijak di Era Cashless: Membangun Kebiasaan Finansial nan Lebih Cerdas dan Aman di Era Digital” bekerja sama dengan Finansialku. Kegiatan nan digelar di Jakarta, Rabu (17/6) tersebut bermaksud meningkatkan literasi finansial masyarakat agar bisa memanfaatkan kemudahan transaksi digital secara lebih bijak.

Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal, mengatakan kemudahan transaksi perlu diimbangi dengan pemahaman nan baik mengenai pengelolaan keuangan.

“Transaksi non-tunai sekarang sudah menjadi bagian dari rutinitas harian finansial masyarakat. Karena itu, kemudahan transaksi perlu dibarengi dengan literasi finansial agar pengguna dapat lebih sadar terhadap pola pengeluaran mereka. Melalui OVOFinTalk berbareng Finansialku, kami mau mendorong pengguna agar dapat memanfaatkan jasa digital secara lebih bijak, aman, dan terencana,” ujar Haekal dalam aktivitas tersebut.

Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengatakan style hidup cashless bukan sesuatu nan perlu dihindari, tetapi perlu dibarengi kebiasaan finansial nan sehat.

“Cashless lifestyle bisa sangat membantu jika digunakan dengan sadar. nan penting, pengguna perlu rutin mengecek riwayat transaksi, membatasi budget harian, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali meskipun transaksi sekarang semakin mudah dilakukan,” kata Melvin.

Menurutnya, salah satu langkah sederhana nan dapat dilakukan adalah mengevaluasi riwayat transaksi secara berkala. Melalui fitur riwayat transaksi di OVO, pengguna dapat memandang kembali alokasi pengeluaran, memahami kategori nan paling sering digunakan, serta mengevaluasi kebiasaan finansial secara lebih objektif.

Melvin juga menyoroti kejadian 'gaji numpang lewat' yang kerap terjadi pada era pembayaran digital. Pengeluaran mini nan dilakukan secara impulsif sering kali tidak terasa saat bertransaksi, tetapi dapat menjadi signifikan ketika diakumulasikan selama satu bulan.

Selain literasi keuangan, OVO juga menekankan pentingnya keamanan transaksi digital. Perusahaan terus memperkuat sistem perlindungan melalui autentikasi PIN, OTP, dan biometrik, Fraud Detection System (FDS), serta AI Protection Layer untuk membantu mendeteksi beragam pola penipuan dan praktik social engineering.

Di sisi lain, OVO juga mendorong pengguna membangun kebiasaan menabung melalui OVO Nabung by Superbank, konsep rekening e-wallet nan memungkinkan pengguna bertransaksi sekaligus menyimpan biaya dalam satu aplikasi. Hingga Mei 2026, jasa tersebut telah digunakan oleh lebih dari 2,3 juta pengguna.

Menurut Haekal, jasa tersebut dirancang agar pengguna tetap dapat menikmati elastisitas bertransaksi sekaligus memperoleh faedah tabungan, seperti potensi kembang hingga 5% per tahun, bebas biaya top-up, serta beragam promo dan cashback.

“Kami mau membantu pengguna membangun kebiasaan menabung nan lebih mudah dan relevan dengan keseharian mereka melalui OVO Nabung by Superbank. Pengguna tetap dapat menikmati kemudahan bertransaksi, sekaligus mempunyai akses untuk menyimpan saldo dan memperoleh faedah kembang langsung dari aplikasi nan mereka gunakan setiap hari,” tutup Haekal. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia