Jakarta, CNBC Indonesia - Kehebohan terjadi di Filipina. Ini lantaran "cekcok" nan terjadi antara Presiden Ferdinand Marcos dengan Wakil Presiden Sara Duterte.
Sara Duterte sendiri bakal menghadapi sidang pemakzulan bulan depan. Karena upaya pemakzulan itu, parlemen pro Sara Duterte melancarkan tindakan boikot dan berakhir menghadiri persidangan-persidangan krusial legislatif.
Dałam keterangannya ke wartawan Marcos mengatakan parlemen sekarang dałam keadaan kacau. Ini meminta parlemen segera bekerja lagu untuk menyelesaikan pekerjaan nan mengenai rencana hidup rakyat.
"Badan legislatif sekarang sedang kacau," kata Marcos kepada wartawan, dimuat AFP, Rabu (3/6/2026).
"Kembali bekerja lantaran ini penting; kita punya banyak pekerjaan nan kudu diselesaikan... Kita kudu mengesahkan banyak undang-undang," tegasnya menyebut salah satunya adalah undang-undang baru untuk membantu masyarakat Filipina menghadapi akibat perang Timur Tengah nan guncangan perekonomian global.
"Kami mencoba untuk mencapai suatu corak stabilitas sehingga masyarakat dapat melanjutkan hidup mereka dan merencanakan masa depan mereka; sehingga masyarakat dapat mengandalkan support pemerintah selama masa darurat ini," tegasnya.
"Kita tidak bisa melakukan itu jika legislatif memutuskan untuk tinggal di rumah dan berlibur."
Konstitusi Filipina sendiri menyatakan bahwa lembaga pelaksana setara dengan lembaga legislatif. Hal ini membatasi mobilitas Marcos.
"Kita tidak bisa memerintahkan mereka apa nan kudu mereka lakukan; kita tidak bisa menghukum mereka atas apa nan mereka lakukan. Mereka kudu mengatur diri mereka sendiri. Dan mereka belum melakukan banyak pekerjaan dengan baik saat ini," ujarnya.
Bulan lalu, 13 personil parlemen nan berkawan dengan Sarah Duterte mengambil alih Senat nan mempunyai 24 bangku hanya beberapa jam sebelum kebanyakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melakukan pemungutan bunyi untuk memakzulkan wakil presiden tersebut. Empat hari kemudian, sekutu Sarah Duterte, Ronald Dela Rosa, tiba-tiba menghilang setelah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya.
Senator pro- Sarah Duterte lainnya, Jose "Jinggoy" Estrada, juga ditangkap pada hari Senin lantaran diduga menerima suap senilai lebih dari 573 juta peso (US$9,3 juta alias sekitar Rp166,5 miliar) untuk proyek pengendalian banjir.
Sekutu Sarah Duterte dan Presiden Senat Alan Peter Cayetano membenarkan boikot tersebut dengan mengatakan bahwa badan tersebut "ditahan" dan kebanyakan anggotanya dieliminasi. Sidang pemakzulan wakil presiden di Senat diperkirakan bakal dimulai pada 6 Juli.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·