Ilustrasi burung hantu(Magnific)
SATRESKRIM Polres Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengamankan tiga laki-laki mengenai dugaan penganiayaan dan pembakaran seekor burung hantu dalam keadaan hidup nan videonya viral di media sosial.
"Ketiganya ditangkap pada Selasa (11/8) kemarin di kediaman mereka di Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat," Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra di Kupang, Rabu (12/8).
Ia menyebut ketiga laki-laki berinisial GJ, 30, SB, 41,, dan VJ, 25 telah ditangkap oleh Tim URC Resmob Komodo setelah polisi melakukan patroli siber.
Berdasarkan keterangan polisi, pembakaran burung hantu Jumat (7/8) sekitar pukul 20.00 WITA di Kampung Bajak, Desa Benteng Ndope. Ia menjelaskan peristiwa itu bermulai ketika GJ memandang seekor burung hantu bertengger di sekitar rumah SB. Ketiganya kemudian menangkap burung tersebut dan membawanya ke depan sebuah kios.
Pelaku berinisial GJ diduga memukul burung tersebut menggunakan kayu, sedangkan VJ kemudian membakarnya ketika satwa tersebut tetap hidup. Sementara itu, SB diduga merekam kejadian tersebut menggunakan telepon genggam dan kemudian mengunggah rekamannya ke media sosial.
Hery mengatakan video tersebut sempat dihapus, tetapi telah diunduh dan kemudian diunggah kembali oleh akun lain hingga beredar luas. Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi menduga tindakan tersebut dipengaruhi kepercayaan setempat nan mengaitkan keberadaan burung hantu dengan pertanda buruk.
Polisi bergerak setelah patroli siber Satreskrim Polres Manggarai Barat menelusuri video tersebut dan memastikan letak kejadian berada di wilayah hukumnya.
Polisi menyita satu unit telepon genggam nan diduga digunakan untuk merekam dan mengunggah video, sebatang kayu, serta sisa abu pembakaran. Ketiga laki-laki tersebut kemudian dibawa ke Mapolres Manggarai Barat untuk menjalani pemeriksaan.
Penyidik berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT untuk memastikan jenis dan status perlindungan burung hantu tersebut.
"Terkait status perlindungan satwa tersebut serta berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum Kejari Manggarai Barat untuk proses norma lebih lanjut," ujar dia.
Penyidik mendalami penerapan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·