Pedestrian Deck Dukuh Atas: Ketika Kota Dibangun dari Langkah Kaki

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Perjalanan seorang komuter tak seketika selesai saat kereta berakhir di peron. Justru setelah pintu kereta terbuka, perjalanan berikutnya baru dimulai-melangkah, beranjak moda, dan menyusuri simpul-simpul transportasi menuju tujuan akhir.

Ada satu tahapan krusial nan kerap luput dari perhatian: perpindahan antarmoda. Padahal, setiap langkah kaki dan ratusan meter jarak nan kudu ditempuh menentukan apakah perjalanan terasa mudah, aman, dan nyaman, alias justru melelahkan.

Jakarta telah tumbuh menjadi kota dengan jaringan transportasi publik nan semakin terintegrasi. Salah satu wujudnya ada di area Dukuh Atas nan dirancang sebagai simpul transportasi terpadu dengan enam moda transportasi publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, seluruh simpul itu tetap terpisah dan belum sepenuhnya terhubung oleh jaringan pejalan kaki nan mulus.

Di celah itulah Pedestrian Deck Dukuh Atas mengambil peran untuk menyatukan simpul-simpul tersebut. Jembatan ini menjadi penyempurna integrasi area transit dengan menyatukan empat area ke dalam satu jaringan pejalan kaki nan lebih mulus, aman, dan nyaman.

Keempat area nan dihubungkan mencakup area Stasiun MRT Dukuh Atas BNI dan KRL BNI City di sisi utara, Stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas di sisi timur, Kompleks Wisma 46 BNI, hingga area Halte TransJakarta Galunggung dan Landmark.

"Jadi nan kita bangun ini adalah menghubungkan kawasannya. Bagaimana hubungan ke transportasi-transportasi lain di sekitarnya. Untuk nan kita siapkan adalah deck nan kita buat ini, dia ready untuk dikoneksikan ke masing-masing transportasi," ujar Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta Agus Trihan, di Kantor MRT Jakarta, ditulis Kamis (6/8/2026).

Pembangunan pedestrian deck merupakan bagian dari pengembangan area TOD nan tidak hanya menghubungkan stasiun MRT, tetapi juga beragam moda transportasi lain melalui jalur pejalan kaki nan nyaman. Proyek ini apalagi menggunakan skema creative financing, dengan kebutuhan pendanaan sekitar Rp 300 miliar, tanpa support APBD.

"Berkolaborasi dengan KAI dan anak upaya kami MBTJ waktu itu sebagai perusahaan patungan MRT dan KAI, dengan menggunakan creative financing tanpa anggaran APBD pemerintah, membangun pedestrian bridge ini," jelas TOD Planning Department Head MRT Jakarta Sagita Devi.

Proyek ini dirancang berbentuk cincin dengan diameter sekitar 100 meter. Struktur baja dibuat setinggi 8 meter dari permukaan Jalan Sudirman dan mempunyai bentang kolom hingga 66 meter. Untuk memudahkan mobilitas pengguna, jembatan ini juga bakal dilengkapi tiga unit eskalator dan tiga unit elevator.

Kehadiran jembatan ini bakal menghadirkan rute nan lebih efisien bagi pejalan kaki. Akses dari area Landmark Tower menuju Hotel Shangri-La, misalnya, nan selama ini mengharuskan pengguna melangkah memutar, nantinya dapat ditempuh melalui lintasan nan lebih langsung. Dengan begitu, waktu tempuh perjalanan diperkirakan dapat dipangkas hingga lima menit.

Rencana pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas sekarang mulai memasuki tahap realisasi. Kajian pra-uji kepantasan (feasibility study/FS) telah rampung dan perencanaan proyek telah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Saat ini, MRT Jakarta tengah memasuki tahap pelelangan, dengan sasaran pekerjaan bangunan dimulai pada November 2026 dan rampung 2028.

Di Antara Terowongan dan Sungai

Mewujudkan visi besar untuk membangun jembatan pejalan kaki ini rupanya tidaklah sederhana. Agus Trihan mengatakan, pihaknya kudu berhadapan dengan kondisi lapangan nan jauh lebih rumit dibandingkan dengan nan terlihat ialah area nan dipenuhi permukiman padat.

Ditambah lagi, tidak semua lahan berstatus kepemilikan pemerintah. Tantangan teknis lainnya, pembangunan juga kudu melewati sungai, jalan layang, hingga menembus terowongan MRT nan tetap beroperasi.

"PR bikin proyek ini ada dua, teknis sama administratif. Teknis, kita membangun kolom-kolom ini di area nan sudah padat, Kendal areanya sempit secara teknis, terus ada pondasi nan kudu berada di antara terowongan MRT," terang Agus.

"Challenge-nya itu, di sisi selatan sini ada rumah pompa, ini sebenarnya rumah pompa untuk jalan ya, tapi itu ketika pembangunan kita kudu maintain biar tetap beroperasi. Karena kita nggak bisa jika dia mati, itu sigap naik air di underpass, dan sigap banjir," sambungnya.

Dari sisi administrasi, Agus mengatakan proyek ini menuntut koordinasi lintas instansi, mengingat jalur pedestrian deck bakal melintasi aset beragam pihak, mulai dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), KAI, Railink, hingga pemerintah wilayah (Pemda).

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah sistem transportasi tak hanya diukur dari seberapa sigap kereta melaju alias berapa banyak moda nan terhubung. Integrasi juga ditentukan oleh seberapa mudah seseorang melangkah dari satu titik ke titik lainnya.

Di Dukuh Atas, bukan hanya sebuah jembatan nan sedang dibangun, melainkan pengalaman perjalanan nan lebih utuh bagi para komuter.

(hns/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance