Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan nilai minyak mentah bumi akibat bentrok di Timur Tengah mulai merembet ke beragam komoditas turunannya. Salah satu nan sekarang terasa di tingkat ritel adalah kenaikan nilai plastik, bahan bungkusan nan banyak digunakan pedagang.
Kenaikan nilai minyak mendorong naiknya nilai nafta, bahan baku utama plastik. Dampaknya, nilai plastik di pasaran ikut terdongkrak. Kondisi ini mulai dirasakan para pedagang di Pasar Tanah Abang, meski nilai peralatan utama seperti busana dan kain tetap relatif stabil.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Blok A Pasar Tanah Abang, Senin (13/4/2026), nilai sejumlah busana dan bahan kain tetap terpantau belum mengalami kenaikan. Sejumlah pedagang mengaku tetap menjual peralatan dengan nilai nan sama lantaran stok nan ada merupakan peralatan lama. Namun di kembali stabilnya nilai jual tersebut, tekanan biaya mulai terasa dari sisi kemasan.
Alya, pedagang baju anak, mengatakan nilai baju nan dia jual belum mengalami kenaikan meski sudah ada info mengenai potensi kenaikan.
"Harga baju belum ada naik, memang sudah ada info, tapi belum ada naik. Masih sama kok nilai kain dan baju nan saya jual. Cuma nan naik itu plastik, mahal banget ya," kata Alya saat ditemui CNBC Indonesia di lokasi.
Ia apalagi menyebut lonjakan nilai plastik sangat tinggi, jauh melampaui 50%. "Parah (naiknya), lebih dari 50%, jauh kayaknya dari 50%. Contoh ya saya biasa beli plastik hitam nan buat balut Rp20 ribuan, ini jadi nyaris Rp50 ribu ya tadi," ujarnya.
Kenaikan nilai plastik membikin Alya kudu mencari langkah agar biaya operasional tidak membengkak. Di sela-sela melayani pembeli, dia tampak lebih selektif saat mengemas barang. Alih-alih langsung mengambil plastik baru, Alya terlebih dulu bertanya apakah pembeli tersebut sudah membawa kantong shopping sendiri.
Ketika memandang pembeli sudah memegang plastik berisi belanjaan sebelumnya, dia pun memilih memasukkan peralatan dagangannya ke dalam kantong tersebut. Cara ini menjadi strategi sederhana nan dia terapkan sehari-hari, mengurangi penggunaan plastik baru, menekan pengeluaran, sekaligus tetap melayani pembeli dengan cepat.
"Nah begitu saya akalinnya. Itung-itung apa itu, irit plastik, jaga lingkungan, sekalian irit. Tapi beneran plastik mahal banget, sangat terasa," ucap dia.
Keluhan serupa juga disampaikan Feri, pedagang kain di letak nan sama. Ia memastikan nilai kain tetap stabil, namun biaya plastik melonjak tajam.
"Kalau kain bahan belum sih. Belum ada naik. Tapi ini (plastik) nan naik. Tadi saya beli plastik masa naiknya 70%, nan biasanya nilai Rp100 ribu jadi Rp170 ribu. nan biasa saya beli Rp50 ribu saja nggak sampai, ini tadi beli Rp100 ribu. Naiknya parah banget jika plastik," ungkap Feri.
Kondisi ini menunjukkan tekanan akibat perang tidak hanya berpotensi mendorong kenaikan nilai peralatan utama seperti kain dan pakaian, tetapi juga sudah lebih dulu dirasakan pada komponen pendukung seperti plastik. Para pedagang pun sekarang mulai beradaptasi dengan beragam langkah untuk menahan biaya, sembari menunggu apakah kenaikan nilai bakal betul-betul merambat ke produk utama dalam waktu dekat.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·