Jakarta -
Industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri tengah menghadapi tekanan serius imbas kenaikan nilai bahan baku akibat bentrok di Timur Tengah. Kenaikan nilai bahan baku ini perlahan mulai mengerek nilai kain di pasar.
Salah satunya seperti nan terjadi di pusat tekstil legendaris, Pasar Cipadu, Tangerang. Di area ini, nilai kain untuk bahan busana dan seragam sudah mengalami kenaikan meski belum begitu besar.
Muklis, salah satu pedagang kain bahan di pusat tekstil legendaris itu, mengaku nilai produk nan dijualnya sudah mengalami kenaikan di tingkat pemasok sebesar Rp 1.500 per yard (90 cm) sejak seminggu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga memang sudah naik, sudah naik dari agen-agennya. Sudah satu minggu. Kalau dari pemasok ke kita Rp 1.500 per yard naiknya. Ini kan kita hanya jual American drill namanya, biasanya nan paling murah Rp 30.000 per yard, sekarang Rp 31.500-32.000 lah kita jual," kata Muklis saat ditemui detikcom di Pasar Cipadu, Tangerang, Kamis (16/4/2026).
"Ya nilai peralatan nan kita jual ikut naik, kita sesuai kenaikan pemasok kan. Ibarat kita ambil modal 10, nggak mungkin kan kita jual 9, rugi," sambungnya.
Menurutnya, kenaikan nilai ini tetap condong belum begitu besar lantaran di tingkat produsen dan pemasok tetap menahan nilai namalain meningkatkan secara bertahap. Sehingga dia juga tidak bisa memastikan apakah ke depan nilai kain bahan tetap bakal terus naik alias tidak.
"Ke depannya belum tahu, kelak bisa lebih tinggi lagi. Nggak tahu besok ini naiknya bisa berapa kan? Bisa Rp 5.000 naiknya, nggak tahu kita kan," ujarnya.
Namun, nan menjadi perhatian utamanya saat ini bukan hanya masalah kenaikan nilai kain, melainkan kehadiran para pembeli di Pasar Cipadu. Sebab, baik nilai mengalami kenaikan alias tidak, percuma jika tak ada pembeli nan datang.
"Masalah utamanya kan bukan di harga, tapi di ekonomi kita. Kan ini saya jual bahan kebanyakan untuk seragam pabrik. Kalau dulu orang pabrik dapat seragam setahun dua kali, sekarang paling tiga tahun sekali, efisiensi. Percuma nilai nggak naik jika nggak ada nan beli," jelasnya.
"Di pasar pun sama, terlihat kan (kondisi pasar) ini bagaimana. Dulu orang ramai lampau lalang, sekarang sepi. Siapa nan beli jika sunyi begini, paling hanya andalkan langganan pesan lewat WA," tambah Muklis sembari menunjukkan kondisi pasar nan sekarang sudah sangat sepi.
Senada, Ade selaku penjaga toko kain lain di Pasar Cipadu juga mengaku produk nan dijualnya sudah ikut mengalami kenaikan harga, baik untuk kain nan dijual per meter alias biasa dia sebut keteng, maupun kain nan dijual per rol alias gulungan.
"Harga naik Rp 2.000 per meter, per rol-an (gulung). Kalau per rol itu Rp 27.500 per yard naik jadi Rp 29.000 per yard. Satu rol itu 30 yard alias 27 meter, kan satu yard 0,9 meter. Jadi se-rol dari Rp 825.000 jadi Rp 870.000. Kalau keteng Rp 35.000 naik jadi Rp 37.000 per meter," jelasnya.
Alih-alih masalah kenaikan harga, dia juga lebih prihatin dengan kondisi pasar saat ini nan sudah sangat sepi. Bak jatuh tertimpa tangga, dia takut jika kondisi pasar nan saat ini sudah memprihatinkan menjadi semakin susah lagi jika pembelian semakin berkurang lantaran adanya kenaikan harga.
"Sekarang memang sepi, jauh lebih ramai nan dulu daripada sekarang. Dulu bisa sehari 20 rol, sekarang jarang, sunyi sekarang, satu rol saja susah. Keteng lah paling tetap ada satu dua nan beli," kata Ade.
(igo/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·