Jakarta, CNBC Indonesia - Paus Leo XIV menegaskan mempunyai "kewajiban moral" untuk bersuara menentang perang dan mendorong perdamaian, meski mendapat kritik keras dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pernyataan itu disampaikan Paus saat dalam perjalanan dari Roma menuju Aljazair untuk kunjungan kepausan.
"Misi Gereja sangat jelas. Injil mengatakan, berbahagialah orang-orang nan menciptakan perdamaian. Gereja mempunyai tanggungjawab moral untuk berbincang dengan sangat jelas menentang perang," ujarnya, seperti dikutip AFP, Selasa (14/4/2026).
Paus Leo XIV menegaskan dirinya tidak beriktikad berdebat dengan Trump dan menekankan bahwa dia bukan seorang politikus. Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak gentar menghadapi kritik dari pihak mana pun, termasuk pemerintahan Trump.
"Saya tidak takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun untuk berbincang lantang tentang pesan Injil," kata Paus.
Sebelumnya, Trump mengecam seruan Paus nan meminta diakhirinya bentrok di Timur Tengah, nan memanas usai serangan campuran Israel-AS terhadap Iran pada akhir Februari. Trump menilai pernyataan Paus keliru dan menegaskan bahwa Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir.
"Paus Leo mengatakan hal-hal nan salah. Dia sangat menentang apa nan saya lakukan mengenai Iran, dan Anda tidak dapat mempunyai Iran nan mempunyai senjata nuklir," kata Trump.
Ketegangan ini turut mendapat respons dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni nan menyebut kritik Trump terhadap Paus sebagai "tidak dapat diterima". Menurutnya, menyerukan perdamaian dan mengutuk perang adalah perihal nan wajar bagi pemimpin Gereja Katolik.
Dalam kunjungannya ke Aljazair, Paus juga menekankan pentingnya rekonsiliasi dan pengampunan. Saat berpidato di Monumen Martir di Aljir, dia membujuk semua pihak untuk mengingat bahwa Tuhan menghendaki perdamaian bagi setiap bangsa.
Kunjungan ini mempunyai makna unik bagi Paus, mengingat Aljazair merupakan tanah kelahiran Santo Agustinus, ialah teolog besar nan menjadi inspirasi spiritual bagi kepausannya. Paus menyebut perjalanan tersebut sebagai kesempatan berbobot untuk mempromosikan perdamaian dan rekonsiliasi global.
Selain itu, Paus kembali mengkritik ancaman terhadap penduduk sipil Iran serta menyinggung perlakuan terhadap migran nan dia nilai tidak manusiawi. Ia menegaskan bahwa Gereja tidak menjalankan kebijakan luar negeri, melainkan menyuarakan nilai-nilai moral universal.
Sementara itu, Trump terus melontarkan kritik dengan menyebut Paus lemah dalam menghadapi kejahatan dan jelek dalam kebijakan luar negeri. Bahkan, unggahan kontroversial Trump nan menampilkan dirinya sebagai figur religius menuai kecaman dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian nan menyebutnya sebagai penghinaan.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·