Dalam banyak kasus, sikap patriarki itu berasal dari pemahaman nan keliru tentang konsep “kepala keluarga”. Banyak laki-laki merasa jika mereka sudah memberikan kebutuhan finansial, maka mereka dapat mengontrol segala perihal dan menyebabkan munculnya omongan “Gue nan nyari duit, lo tinggal nurut aja”. Padahal, di era sekarang ini sudah banyak istri nan juga bekerja dan berdikari secara finansial.
Karena langkah pandang patriarki nan tetap ada, suami menganggap pekerjaan domestik, seperti mencuci, memasak, menjaga anak itu hanya pekerjaan istri saja. Ada juga laki-laki nan sengaja membikin diri mereka terlihat tidak becus untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Cara ini sukses membikin suami lepas dari tanggung jawab secara lembut dengan argumen “aku kan ga bisa ngerjain nan kaya gini”. Padahal, memang mereka hanya malas untuk belajar bersama. Akhirnya istrilah nan mengerjakan itu semua.
Saat istri mengeluh capek lantaran kudu mengerjakan pekerjaan instansi dan juga pekerjaan rumah, kalimat nan sering dipakai oleh pasangan patriarki itu, “Kamu kok ga berterima kasih sih” alias “ibu saya dulu bisa kok ngurus anak sendirian, masa Anda ga bisa”. Kalimat-kalimat seperti itu bakal membikin istri merasa bersalah dan ujung-ujungnya istri bakal memilih tak bersuara dan memendam semuanya sendiri lantaran rasa bersalah itu.
Kalau suami tetap memelihara ego patriarki dan tidak membolehkan istri untuk bekerja, hanya mengandalkan sumber penghasilan dari suami, maka itu bakal sangat berisiko. Sama saja seperti mempersempit urusan ekonomi family kita sendiri. Padahal, jika suami istri itu jadi mitra nan setara, saling bantu untuk mencari duit dan membagi tugas rumah itu bakal membantu finansial family bakal menjadi lebih aman.
Sadar alias tidak, budaya patriarki itu sebenarnya juga menyiksa laki-laki. Dari kecil, mereka sering dituntut untuk selalu terlihat kuat, tidak boleh nangis, dan wajib menjadi tulang punggung. Makanya, saat memandang istrinya punya pekerjaan nan lebih bagus mereka langsung merasa nilai diri nya itu terancam.
Pola pikir seperti ini akhirnya menciptakan jarak hubungan antara suami istri. Makanya, krusial untuk kita mengetahui apakah pasangan kita termasuk orang nan patriarki alias bukan.
Ciri-Ciri Pasangan nan Patriarki
Merasa mempunyai kewenangan absolut atas semua keputusan (keuangan, pekerjaan istri, apalagi sampai ke lingkungan pertemanan).
Menganggap urusan domestik (memasak, mencuci, menjaga alias mendidik anak) itu hanya tugas istri.
Selalu menyepelekan dan jarang mendengarkan pendapat istri.
Cara Menghindari Pasangan Patriarki Bagi nan Belum Menikah
Kunci utama untuk menghindari pasangan patriarki itu kembali lagi ke langkah kita komunikasi dan seberapa kuat prinsip hidup kita. Caranya itu dengan melakukan obrolan-obrolan (deep talk) nan dimulai dari sebelum menikah. Di momen ini, kita membicarakan visi dan misi nan kita inginkan, tidak usah pamor saat menyampaikannya. Contoh dari obrolannya bisa seperti ini:
“setelah kita menikah, saya tetap bisa kerja alias ngga? “
“gimana nih pembagian urusan rumah?”.
Urusan finansial juga jangan sampai tidak dibahas. Gimana langkah kita mengatur duit family itu kudu dibahas dari awal, agar tidak ada nan merasa paling berkuasa atas duit tersebut hanya lantaran paling banyak menghasilkan duit itu.
Dari langkah dia merespons dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti bakal terlihat dia termasuk patriarki alias tidak. Kalau saat membahas perihal tersebut dia marah, tersinggung alias bilang “nanti aja diaturnya setelah kita nikah” maka Anda wajib waspada.
Cara Menghadapi Pasangan Patriarki Bagi nan Sudah Menikah
Kalau posisinya sudah terlanjur sah menjadi suami istri, maka kita sebagai istri kudu membikin batas diri nan jelas. Sebagai istri, kita kudu tegas dan jujur dengan hal-hal nan membikin kita merasa tidak nyaman dan merasa tidak dihargai.
Selain komunikasi, pertahanan paling kuat untuk wanita itu adalah punya penghasilan sendiri. Ketika kita punya penghasilan sendiri, maka ruang untuk pasangan bisa mengatur kita lantaran ekonomi bakal menjadi sempit.
Nah, gimana jika sifat seperti itu ada lantaran pola asuh dari orang tuanya? pasti bakal memerlukan waktu lama jika sifat ini ada lantaran pola asuh. Maka dari itu kita bisa mulai mengajari dia pelan-pelan lewat contoh nyata di kehidupan sehari-hari, seperti,mengajak dia untuk mengerjakan urusan domestik secara bertahap, mulai dari mencuci piring alias gantian untuk menjaga anak. Lewat proses seperti ini bakal membikin ego suami memudar secara perlahan dan sadar bahwa pernikahan itu bakal menjadi senang jika dilakukan secara bersama.
Tantangan terbesar menghadapi pasangan nan patriarki itu bukan dari dirinya sendiri aja, tetapi bisa juga dari family alias apalagi lingkungan pertemanan suami. Ketika mereka mau bantu-bantu di rumah, pasti ada aja kalimat nan diucapkan, seperti “kok mau sih disuruh-suruh nyuci piring”, “wah suami takut istri nih”.
Akibatnya, suami nan sudah mau menurunkan ego nya dan mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tidak jadi lantaran pamor akibat mendengar omongan-omongan tersebut.
Dampak Patriarki Terhadap Anak
Dampak dari patriarki itu bisa merusak mental anak. Anak wanita nan menjadi korban bakal mudah terjebak di hubungan nan toxic, dikarenakan sering memandang ibunya mengalah dan dikekang nan menyebabkan anak wanita tersebut berpikir bahwa diperlakukan tidak setara oleh laki-laki adalah perihal nan wajar.
Selain itu, anak laki-laki nan menjadi korban bakal susah mengungkapkan rasa emosi nya, lantaran dari mini mereka dilarang menangis dan tidak boleh terlihat lemah. Akibatnya mereka menjadi mudah stres, dan menjadi mudah marah lantaran banyak emosi nan dipendam. Ditambah lagi, jika mereka terbiasa memandang hanya ibunya nan melakukan pekerjaan rumah sementara ayah hanya tak bersuara saja, bisa saja mereka bakal meniru langkah nan seperti itu untuk memperlakukan perempuan.
Banyak nan salah mengerti dan mengira jika istri protes soal masalah patriarki itu mereka mau memberontak alias merebut posisi kepala keluarga, padahal tidak seperti itu. Mereka mau membangun hubungan kerja sama nan setara dalam keluarga. Ketika beban rumah tangga dijalani berdua, tekanan nan dialami oleh suami sebagai tulang punggung family juga bakal berkurang.
Coba kalian bayangkan, jika menjalani rumah tangga tanpa budaya patriarki itu, pasti sangat nyaman kan? Kalian bisa saling curhat dan mendiskusikan masa depan anak tanpa takut pendapat kalian tidak bakal didengar alias pasangan bakal tersinggung.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·