Pasien Alzheimer Disebut Alami Perbaikan Gejala usai Konsumsi Jamur Ajaib

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi jamur. Foto: Martin Bernetti/AFP

Seorang pasien dengan alzheimer stadium lanjut dilaporkan mengalami perbaikan beberapa indikasi setelah mengonsumsi dosis cukup tinggi jamur psilocybin alias nan sering dijuluki magic mushrooms.

Sebelum terlalu jauh menarik kesimpulan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanya berasal dari satu laporan kasus (case report) dan sama sekali belum cukup untuk menyatakan psilocybin dapat menjadi terapi bagi penyakit seperti Alzheimer. Kendati begitu, hasil nan muncul dinilai cukup menarik untuk membuka kesempatan penelitian lanjutan di masa depan.

Studi nan terbit di jurnal Frontiers in Neuroscience itu membahas kasus seorang wanita keturunan Jepang-Amerika berumur 80-an tahun nan telah didiagnosis menderita penyakit Alzheimer selama 10 tahun.

Kondisi pasien telah memasuki tahap lanjut dalam lima tahun terakhir. Menurut peneliti, pasien hanya bisa berbincang dengan kata-kata nan sangat singkat dan mengalami keterbatasan mobilitas nan cukup berat.

Kondisi awal nan tercatat mencakup inkontinensia urine kronis namalain kesulitan menahan buang air kecil, gangguan kegunaan pelaksana otak, kesulitan menelan, kesulitan berjalan, luapan emosi nan sangat datar, serta penurunan keahlian berkomunikasi.

Laporan tersebut tidak dijelaskan secara rinci siapa nan memberikan jamur psilocybin kepada pasien. Peneliti hanya menyebut prosedur dilakukan dalam praktik klinis privat dan tidak melanggar norma setempat.

Dalam uji coba pertama, pasien diketahui menerima 5 gram jamur jenis enigma, varietas nan dikenal mempunyai potensi psilocybin cukup tinggi. Pada fase awal, mengalami keringat berlebih, diduga mengalami peningkatan suhu tubuh, dan memasuki kondisi mirip tidur dalam waktu cukup lama. Efek seperti ini umum ditemukan pada konsumsi dosis tinggi nan di kalangan pengguna psikedelik kerap disebut sebagai heroic dose.

Ilustrasi lansia didampingi wanita muda. Foto: Shutter Stock

Namun, nan menarik justru terjadi setelah pengaruh akut tersebut mereda. Selama sekitar satu bulan setelah pemberian dosis pertama, tim melaporkan adanya perbaikan nan cukup signifikan pada beberapa indikasi pasien.

Pasien mengalami peningkatan keahlian menahan buang air kecil, mobilitas nan lebih baik, respons emosional nan lebih aktif, serta munculnya kembali komunikasi spontan. Melihat perkembangan tersebut, pasien kemudian menerima dosis kedua dengan dosis lebih rendah, ialah 3 gram.

Pada sesi kedua ini, peneliti mencatat perubahan nan cukup drastis. Pasien menunjukkan keahlian verbal nan lebih ekspresif, ekspresi wajah meningkat, spontan melontarkan humor, munculnya gambaran memori autobiografis bernuansa emosional, hingga peningkatan keahlian berjalan.

Meski ada perbaikan gejala, peneliti menekankan bahwa temuan ini belum cukup untuk menyimpulkan banyak perihal tentang kemanjuran jamur ajaib. Selama ini, sejumlah penelitian memang mulai mengeksplorasi penggunaan psilocybin pada pasien demensia, tetapi sebagian besar fokusnya adalah mengatasi kekhawatiran dan depresi nan sering menyertai penyakit tersebut.

Secara biologis, metabolit aktif psilocybin nan disebut psilocin bekerja melalui modulasi reseptor serotonin 5-HT2A. Mekanisme ini diduga dapat meningkatkan plastisitas saraf, mengurangi peradangan, dan memperbaiki beberapa kegunaan kognitif seperti kreativitas, elastisitas berpikir, hingga keahlian mengenali ekspresi emosi.

Beberapa studi sebelumnya juga menunjukkan potensi psilocybin dalam membantu mengurangi indikasi kekhawatiran dan depresi pada pasien Alzheimer. Namun untuk penelitian ini, hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan. Tim peneliti menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh diartikan sebagai reversal penyakit Alzheimer.

Sebaliknya, temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa pada kondisi neurodegeneratif stadium lanjut, sebagian kapabilitas kegunaan otak sebenarnya tetap tersisa dan mungkin dapat diakses sementara melalui kondisi neuromodulasi tertentu.

Menurut peneliti, kapabilitas fungsional nan tersisa pada Alzheimer stadium lanjut mungkin tetap ada dan dapat muncul kembali secara sementara setelah jaringan otak dimodulasi oleh psilocybin. Karena itu, mereka menilai dibutuhkan penelitian nan lebih sistematis dan berskala besar sebelum menarik konklusi bahwa jamur ajaib dapat dimanfaatkan untuk mengobati Alzheimer.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan