Ilustrasi.(Magnific)
PASAR obligasi di seluruh bumi mengalami tindakan jual besar-besaran pada Jumat (16/5). Para penanammodal mulai bersiap menghadapi inflasi nan tetap tinggi secara persisten di tengah krisis energi nan terus bersambung dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan Harga Minyak dan Dampak KTT AS-Tiongkok
Harga minyak mentah melonjak setelah pertemuan puncak antara Amerika Serikat dan Tiongkok berhujung tanpa tanda-tanda bahwa Beijing bakal menekan sekutunya, Iran, untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran vital ini memicu kekhawatiran bakal gangguan pasokan daya dunia nan lebih lama.
Kondisi itu memperburuk sentimen di pasar utang AS. Data inflasi konsumen dan produsen terbaru nan lebih tinggi dari perkiraan memicu kelesuan permintaan dalam lelang surat utang jangka panjang pemerintah AS (Treasury).
Rekor Imbal Hasil Treasury sejak 2007
Pada Rabu, Departemen Keuangan AS menjual obligasi tenor 30 tahun sebesar US$25 miliar alias sekitar Rp438 triliun dengan imbal hasil (yield) mencapai 5%. Ini pertama kali sejak 2007 imbal hasil obligasi 30 tahun menembus nomor tersebut. Sebelumnya, tidak ada obligasi tenor ini nan membawa suku kembang di atas 4,75%.
Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi pertengahan Februari, tepat sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai. Penawaran Treasury saat itu mencatat permintaan tertinggi dalam sejarah lelang 30 tahun.
Tren Mengkhawatirkan: Ketakutan penanammodal obligasi mulai menjadi tren sistemik. Lelang untuk surat utang tenor dua, lima, dan tujuh tahun pada Maret juga menunjukkan permintaan nan lemah, memaksa imbal hasil naik lebih tinggi dari proyeksi.
Beban Utang dan Defisit Anggaran
Kenaikan imbal hasil secara langsung mendongkrak biaya kembang pemerintah federal nan sekarang mencapai US$1 triliun per tahun. Hal ini memperburuk defisit anggaran dan menambah beban total utang negara. Departemen Keuangan baru-baru ini mengumumkan ekspektasi pinjaman nan lebih besar dari perkiraan kuartal ini lantaran arus kas masuk nan lebih lemah dari proyeksi awal.
Dilema Kebijakan Federal Reserve
Serangkaian guncangan pasokan--mulai dari pandemi covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, tarif perdagangan era Donald Trump, hingga perang Iran saat ini--menjaga inflasi tetap tinggi. Hal ini membikin pejabat Federal Reserve (The Fed) ragu untuk melanjutkan rencana pemotongan suku bunga.
- Susan Collins (Presiden Fed Boston): Menyatakan kesabarannya mulai lenyap terhadap guncangan pasokan nan berulang dan membuka kesempatan pengetatan kebijakan lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi ke sasaran 2%.
- Chris Waller (Gubernur Fed): Menekankan perlu kewaspadaan ekstra lantaran guncangan nan datang berkali-kali dapat mengubah perilaku penetapan nilai dan bayaran di masyarakat.
Perbedaan Pandangan Pemerintah dan Pasar
Menteri Keuangan Scott Bessent mencoba menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa guncangan daya saat ini hanyalah gangguan sementara. Ia memprediksi nilai minyak AS bakal turun dalam enam hingga sembilan bulan seiring dengan rekor produksi dalam negeri dan keluarnya Emirat Arab dari OPEC nan bakal memicu banjir pasokan.
Namun, penanammodal obligasi tampaknya tidak setuju. Imbal hasil di AS, Jerman, Jepang, dan Inggris semua melonjak pada Jumat, sehingga membikin pasar saham rontok. Selama lampau lintas di Selat Hormuz belum kembali normal, tekanan pada imbal hasil obligasi diperkirakan bakal terus berlanjut.
"Suku kembang jangka panjang sekarang memegang kendali atas kebijakan moneter," tulis Peter Boockvar, Chief Investment Officer di One Point BFG Wealth Partners. (Fortune/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·