Pasar Minyak Tertekan Perang di Iran, Defisit Diprediksi Tembus 9,6 Juta Barel

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Blokade dobel di Selat Hormuz akibat eskalasi perang AS-Israel dengan Iran telah melumpuhkan lampau lintas minyak dunia hingga ke titik nol, memicu guncangan dahsyat pada rantai pasok daya dunia. Terhentinya jutaan barel pasokan minyak mentah per hari menyebabkan nilai minyak jenis Brent melonjak nyaris 50 persen sejak akhir Februari. Kondisi ini disebut menakut-nakuti stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi global. “Kami sekarang memperkirakan normalisasi ekspor dari area Teluk terjadi pada akhir Juni, dibandingkan sebelumnya pertengahan Mei, serta pemulihan produksi nan lebih lambat,” ujar para analis, seperti dikutip dari Bloomberg pada Senin (27/4). “Risiko ekonomi lebih besar daripada sekadar proyeksi dasar nilai minyak kami, lantaran adanya potensi kenaikan nilai minyak, nilai produk olahan nan sangat tinggi, akibat kelangkaan produk, serta skala guncangan nan belum pernah terjadi sebelumnya,” lanjut para analis. Imbas gangguan tersebut, Goldman Sachs memperkirakan bakal terjadi defisit sebesar 9,6 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026, dibandingkan dengan surplus pada tahun lalu. Sementara itu, Morgan Stanley menyebut ekspor minyak dari Teluk Persia telah turun sebesar 14,2 juta barel per hari akibat penutupan Selat Hormuz, berasas catatan analis termasuk Martijn Rats. Bank tersebut memprediksikan stok dunia diperkirakan menyusut sebesar 4,8 juta barel per hari, dengan melemahnya permintaan nan menutup sebagian selisih tersebut. “Sejak penutupan Selat Hormuz, pasar minyak pada dasarnya berada dalam dua kondisi sekaligus: tertutup bagi sebagian besar lampau lintas, tetapi tidak sepenuhnya, diperkirakan bakal dibuka kembali kapan saja, tetapi sejauh ini belum ada perubahan berarti. Guncangannya besar, datanya belum lengkap, dan pemulihannya berkarakter kondisional,” kata para analis. Morgan Stanley mempertahankan proyeksi nilai Brent, dengan perkiraan rata-rata USD 110 per barel pada kuartal ini, USD 100 pada kuartal ketiga, dan USD 90 pada kuartal keempat. Sementara Goldman memperkirakan Brent berada di USD 100 per barel pada kuartal ini dan USD 93 pada kuartal ketiga dalam proyeksi terbarunya. Harga perjanjian berjangka terakhir berada di kisaran USD 108 per barel, menuju kenaikan harian keenam berturut-turut nan berpotensi menjadi tren kenaikan terpanjang dalam lebih dari satu tahun.

video from internal kumparan
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan