Pasar Ini Mati Pelan-pelan, Pedagang Hanya Bertahan dari Pelanggan Lama

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta -

Kondisi Pasar Padurenan Baru, Kota Bekasi, sekarang sudah sangat mengenaskan. Tak hanya ditinggal pembeli dan pedagang, area pasar ini juga dibiarkan terbengkalai dan menjadi tempat penduduk sekitar membuang sampah.

Salah satu pedagang kebutuhan rumah tangga, Dani, mengatakan Pasar Padurenan Baru sudah berdiri sejak 2005. Saat itu, kondisi pasar tetap sangat ramai dan dipadati pembeli.

"Dulu ramai, sisi sana (area nan sekarang kosong dan menjadi tempat sampah) itu dulunya tempat sayur, daging, gitu-gitu lah. Pasar basah lah kita bilangnya," ujar Dani saat ditemui detikcom di lokasi, Senin (15/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, menurutnya kondisi itu tidak memperkuat lama. Setiap tahun jumlah pembeli nan datang terus menurun lantaran pasar tersebut kalah bersaing dengan pasar lain nan berada tidak jauh dari lokasi. Bahkan penurunan jumlah pembeli sudah terjadi sebelum pandemi COVID-19 pada 2020.

"Kayanya orang pada pilih shopping di Pasar Bantar Gebang. Dari sini naik motor paling 10-15 menit lah. Mungkin di sana lebih lengkap, jika di sini kan makin lama makin sedikit penjualnya," ujarnya.

Masalahnya, ketika jumlah visitor pasar turun, pedagang nan tidak bisa memperkuat terpaksa menutup usahanya. Sementara dari perspektif pandang pembeli, pasar nan tidak komplit menjadi kurang menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah visitor semakin sedikit, nan pada akhirnya membikin lebih banyak pedagang tidak bisa bertahan.

Kondisi tersebut kemudian menjadi siklus nan terus berulang hingga membikin pasar menjadi sangat mengenaskan. Ditambah dengan tumpukan sampah nan menimbulkan aroma busuk, sekarang para pedagang hanya bisa mengandalkan pengguna tetap nan merupakan penduduk sekitar.

"Kalau nan sana (area pasar nan jadi tempat sampah) sudah kosong lama. Kan tiap tahun nan jual beli makin dikit, makin pada mepet (pindah letak lapak) ke sini semua. Jadi di sana sudah kosong lumayan lama, makanya banyak nan sudah rubuh kan," terang Dani.

"(Tumpukan sampah) pasti mengganggu. Sekarang pembeli nyaris semua langganan sih, jika pembeli harian gitu jarang banget nan datang. Rata-rata mereka juga datang pagi doang, jika siang ke sore sunyi banget memang pasar ini, betul-betul hanya nunggu jika ada langganan datang saja," sambungnya.

Saat ditanya argumen belum pindah meski kondisi Pasar Padurenan Baru sudah sangat mengenaskan, Dani mengatakan para pedagang nan memperkuat merupakan "tim inti" nan sudah berdagang di area tersebut sejak pasar didirikan.

"Ini nan tetap memperkuat bisa dibilang 'tim inti'-nya sih. Memang rata-rata ini pedagang nan tetap di sini orang lama semua. Jadi mungkin sudah punya langganan masing-masing," kata Dani.

Senada, pedagang lain berjulukan Sumardi mengatakan pasar tersebut memang sudah lama sepi. Bahkan menurutnya omzet nan diperoleh terus merosot sejak awal dia berbisnis di sana pada 2006 hingga sekarang.

"Dulu ramai, hanya tiap tahun itu orang turun terus. Tapi nan paling terasa itu dua tiga tahun ke belakang itu jatuh banget. Banyak nan nggak memperkuat juga akhirnya," papar Sumardi.

Ia juga mengatakan satu-satunya argumen tetap memperkuat adalah lantaran mempunyai beberapa pengguna tetap nan menjadi satu-satunya angan dan sumber pendapatan. Namun, dengan kondisi pasar nan mengenaskan dan berubah menjadi tempat pembuangan sampah seperti sekarang, dirinya tidak keberatan jika sewaktu-waktu Pasar Padurenan Baru digusur.

"Kalau misalnya ini mau direnovasi jadi gedung lain, ya sudah, mau gimana lagi? Memang kondisi pasar seperti ini. Soalnya ini tanah pasar sudah ada pemilik barunya kan. Kemarin dia bilang Desember (2025) sudah kudu kosong, tapi tiba-tiba diperpanjang sampai sekarang belum ada kepastian. Mungkin dia bingung juga mau diapakan ini," terang Sumardi.

Karena perihal itulah dia mengaku sudah tidak berambisi banyak lagi terhadap pasar tersebut dan hanya berdagang sembari menunggu kiosnya ikut tutup. Begitu pula dengan beberapa pemilik gerai lain nan tampak tertidur pulas di dalam toko saat dikunjungi detikcom.

"Namanya juga pedagang, kan kita sudah punya konsumen masing-masing. Kalau pindah kan kita musti cari konsumen baru, iya jika dapat. Toh sekarang kan memang sudah terlalu banyak pedagang. Apa-apa sudah online, di dekat sini juga banyak warung sama minimarket," tuturnya.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance